Simpatisan ISIS Beberkan Rencana Teror Biologis

LUGAS | Antakya - Kubu militer di utara Suriah berhasil menggerebek tempat persembunyian simpatisan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) di Idlib, perbatasan Suriah dan Turki. Dalam penggerebekan itu, ditemukan satu laptop yang ditinggal pemiliknya karena melarikan diri.

"Kami pikir itu sudah tak lagi berfungsi. Kami temukan (laptop itu) penuh debu," ujar Abu Ali, pemimpin gerakan militer di Suriah utara pada Foreign Policy, Selasa, 29 Agustus waktu setempat.

Abu menyerahkan laptop tersebut pada tim redaksi Foreign Policy yang langsung mencoba membuka akses komputer jinjing tersebut. Tak diduga, laptop masih berfungsi plus sang pemilik tak menyertakan kata kunci untuk mengakses laptop tersebut.

Dari penelusuran, ditemukan 146 Gigabyte yang disembunyikan dalam laptop berperanti lunak Windows itu. Isinya beragam bahasa, mulai dari bahasa Arab, Inggris, dan Prancis.

Ditelusuri lebih lanjut, rupanya file-file tersebut berisi tentang banyak video dan manual berjihad. Antara lain, cara untuk membuat bom, mencuri mobil, dan bergerilya untuk menghindari buruan polisi. Namun, yang paling parah, dalam laptop yang tercatat atas nama Muhammed S, seorang warga Tunisia itu, terdapat manual untuk menggunakan senjata biologis.

"Itu digunakan untuk menyerang target potensial. Ini sangat mengejutkan," ujarnya. Dalam manual tersebut, ditulis propaganda, "Keuntungan menggunakan senjata biologis meminimalisasi biaya, tapi dampaknya akan dahsyat."

Salah satu cara yang disugestikan dalam dokumen di laptop tersebut adalah penggunaan granat virus. "Lempar di area tertutup seperti stasiun bawah tanah, pusat keramaian, atau stadion sepak bola. Akan lebih efektif jika digunakan dalam tempat berpendingin ruangan."

Dari laptop tersebut kemudian ditelusuri keberadaan Muhammed. Dua universitas di Tunisia mengaku bahwa ia adalah mahasiswa di sana. Lebih mengejutkan lagi karena ia menekuni studi fisika dan kimia. Namun, kedua universitas tersebut mengaku hilang kontak dengan Muhammed pada 2011.

[tempo]

Tidak ada komentar