Essai
Oleh: Mahar Prastowo

Ada yang berbeda di Paris tahun ini. Tepatnya di jalan paling terkenal itu — Champs-Élysées — yang biasanya hanya jadi catwalk bagi tentara Prancis dengan seragam kebanggaan, kendaraan tempur, dan pesawat tempur Rafale yang meraung di langit.

Tahun ini, ada pasukan kita. TNI. Lengkap dengan taruna Akademi TNI–Polri. Lengkap juga dengan seragam upacara, langkah serempak, dan dada yang membusung, mewakili kita semua.

Dan lebih penting lagi: bukan sekadar tampil, tapi tampil sebagai tamu kehormatan. Negara Asia Tenggara satu-satunya.


Dari Halim ke Paris

Tanggal 6 Juli lalu, pesawat angkut milik TNI membawa 451 patriot ini meninggalkan landasan Halim Perdanakusuma. Saya membayangkan suasana di pagi itu: deru mesin, debu berterbangan, dan dada yang sesak oleh haru.
Yang dilepas oleh Menhan RI, Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. “Ini adalah satu kebanggaan,” katanya.
Bersama Panglima TNI, Kapolri, dan para Kepala Staf Angkatan yang berdiri di sampingnya.

Bagi mereka yang terpilih, perjalanan ini bukan hanya perjalanan fisik lintas benua. Tapi juga perjalanan diplomasi: dari Jakarta, terbang 11 ribu kilometer ke Paris untuk menunjukkan: “Ini kami. Indonesia.”


Simbol dan Pesan

Bagi publik Paris, kontingen Indonesia adalah atraksi eksotis. Bagi kita, ini simbol besar.
Ketua Umum Senkom Mitra Polri, Katno Hadi, bahkan mengatakan partisipasi ini adalah wujud kesiapan komponen bangsa. “Ini bukan hanya TNI. Ini cermin komitmen semua elemen bangsa untuk bela negara,” katanya.




Saya membayangkan nanti, di Champs-Élysées, bagaimana detik-detik menjelang giliran kontingen kita. Musik marching band berhenti. Pembawa acara resmi militer Prancis mengumumkan: “Indonesia.”
Lalu 262 prajurit dan 189 taruna drumband bergerak serentak. Langkah-langkah kaki yang entah kenapa, meski tak terdengar di sini, selalu terasa membangkitkan merinding.


Paris di Hari Bastille

Bastille Day selalu jadi puncak nasionalisme Prancis. Jalanan penuh bendera. Langit Paris pun bukan sekadar biru: nanti dihias garis warna-warni smoke trail jet tempur Rafale.
Malamnya, di Champ de Mars, ribuan orang memadati taman di kaki Menara Eiffel. Ada konser orkestra terbuka. Dan puncaknya: kembang api 30 menit non-stop.




Dari Paris Unlocked — situs panduan lokal — saya tahu tips kalau mau menonton lebih santai: dari Parc de Belleville, dari Montmartre, atau naik kapal di Sungai Seine.
Atau, kalau mau lebih “lokal”, ikut firemen’s ball: pesta rakyat di markas pemadam kebakaran.


Diplomasi Bukan Cuma Seragam

Yang menarik, setelah parade, masih ada rangkaian panjang: konser militer, pameran budaya, gamelan, tarian tradisional, juga kuliner khas Indonesia di paviliun Champs de Mars.
Inilah bentuk diplomasi lunak. Yang tidak kalah penting dari diplomasi berseragam.
Karena orang asing kadang lupa pidato jenderal, tapi selalu ingat rasa sate ayam atau alunan gamelan yang menenangkan.




Pesan dari Paris

Banyak yang bilang ini hanya seremoni. Tapi saya rasa, ini lebih dari itu. Ini pengakuan. Bahwa kita — bangsa yang dulu pernah diremehkan — sekarang diundang duduk di kursi tamu kehormatan.

Dan di balik itu semua, ada kerja panjang: diplomasi, latihan berbulan-bulan, ratusan orang yang berkorban meninggalkan keluarga di Tanah Air untuk membawa nama “Indonesia” ke Paris.

Yang berbaris bukan hanya mereka. Kita semua, rakyat Indonesia, ikut di langkah kaki itu.

Dan ketika nama “Indonesia” disebut di Champs-Élysées, ketika jutaan pasang mata dari seluruh dunia menoleh, di situlah arti sebenarnya: bahwa kita memang layak ada di panggung dunia.

Karena bela negara, kadang, bukan soal perang. Tapi soal hadir.

Dan sekarang, kita hadir.

---

Feature ini ditulis dengan semangat menyelami makna di balik langkah tegap kontingen TNI di Paris — lebih dari sekadar parade, ini adalah cerita tentang harga diri, diplomasi, dan wajah Indonesia di mata dunia.