LUGAS | Solo - Di tengah hiruk-pikuk Car Free Day Jalan Slamet Riyadi, suara tabuhan tradisi Minangkabau dan lantunan seruan kepedulian memenuhi udara. Pagi itu, para perantau Minang di Kota Surakarta membuktikan bahwa jarak tidak pernah memisahkan hati mereka dari kampung halaman. Melalui aksi kemanusiaan yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Keluarga Minang (DPD IKM) Kota Surakarta, masyarakat kembali diingatkan bahwa duka Sumatera Barat adalah duka bersama.
Kegiatan bertajuk “Derita Mereka Adalah Derita Kita” ini menjadi wadah bagi warga IKM dan masyarakat Solo untuk menunjukkan solidaritas terhadap saudara-saudara di Sumbar yang tengah menghadapi musibah banjir dan longsor. Bagi para perantau Minang, setiap kabar kerusakan rumah, hilangnya harta benda, hingga korban jiwa bukan hanya berita, tetapi seperti hantaman langsung ke dada—sebab di sanalah akar rindu mereka berpijak.
Ketua DPD IKM Kota Surakarta, Yunaldi Effendi, menyampaikan bahwa baksos kali ini bukan hanya penggalangan dana, tetapi juga bentuk cinta budaya yang dibawa dari ranah Minang ke Kota Bengawan.
“Dalam kegiatan ini, kami tidak hanya membuka donasi, tetapi juga menghadirkan pertunjukan seni dan budaya khas Minang dari keluarga besar IKM Surakarta. Baksos penggalangan dana ini melibatkan segenap warga IKM se-Surakarta,” ujar Yunaldi.
Di antara kerumunan, tampak anak-anak Minang mengenakan baju adat Minang, ibu-ibu meriah dengan balutan busana khas IKM, dan para pemuda memainkan alat musik tradisi Minang. Semua bergerak serempak, menyuarakan satu pesan: kampung halaman tidak sendiri.
Aksi ini mengundang simpati tinggi dari masyarakat Solo yang turut menitipkan donasi, menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan mampu menjembatani perbedaan budaya, suku, maupun daerah. Masing-masing sumbangan yang masuk terasa seperti uluran tangan yang menyapu air mata keluarga yang sedang berjuang bangkit di Sumatera Barat.
DPD IKM Surakarta membuka rekening donasi untuk masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan:
BSI 7309138753 — DPD IKM SURAKARTA
Di tengah duka yang menyelimuti, para perantau Minang di Solo ingin menyampaikan satu hal: ketika tanah kelahiran menangis, mereka tidak berpangku tangan—mereka kembali, dengan segala yang mampu mereka berikan. (Rizal Malin Kayo)