LUGAS | Makasar, Jakarta Timur — Malam di halaman Masjid Al-Ikhlas RW 010, Kelurahan Kebon Pala, Sabtu (24/1/2026), terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan karena acara seremonial, melainkan karena satu kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga lingkungan tetap aman di tengah meningkatnya kerawanan sosial, dari tawuran remaja hingga peredaran narkoba.

Kegelisahan itu mempertemukan pengurus RW, para ketua RT, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), serta jajaran pengamanan dalam (Pamdal) RW 010 dalam sebuah rapat koordinasi dan pengarahan. Hadir pula Kapolsek Makasar Kompol Sumardi, S.H., bersama unsur Bhabinkamtibmas, Babinsa, Babinpotdirga, dan Satpol PP Kelurahan Kebon Pala.

Malam itu, Pamdal RW 010—yang baru terbentuk melalui musyawarah warga—resmi mendapat pembekalan tugas. Mereka bukan aparat penegak hukum, tetapi garda awal kewaspadaan lingkungan.

“Keamanan bukan hanya urusan polisi. Kalau warga peduli, banyak persoalan bisa dicegah sebelum menjadi besar,” kata Kompol Sumardi dalam arahannya.


Dari Warga, oleh Warga

Koordinator Pamdal RW 010, A.S. Saragih, menjelaskan bahwa pembentukan Pamdal lahir dari kebutuhan riil warga. Beberapa kejadian menonjol di sekitar wilayah RW 010 menjadi alarm bahwa pengamanan lingkungan tak bisa lagi berjalan seadanya.

Pamdal RW 010 kini beranggotakan perwakilan dari RT 001 hingga RT 011. Pola kerjanya sederhana namun krusial: patroli keliling, sambung wilayah antar-RT, serta koordinasi intensif dengan kelurahan dan aparat keamanan.

“Karena masih baru, kami mulai dengan patroli dua kali sebulan. Ke depan tentu akan kami evaluasi sesuai dinamika wilayah,” ujar A.S. Saragih.

Ketua RW 010, Sukiman, menyebut pembentukan Pamdal sebagai hasil serapan aspirasi warga yang dilakukan sejak Desember 2025. Menurut dia, keamanan lingkungan tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja.

“Kami ingin tahu bagaimana harus berbuat. Keamanan RW ini tanggung jawab bersama, dan harus diselaraskan antara warga, kelurahan, dan kepolisian,” kata Sukiman.


Keamanan Dimulai dari Kepedulian

Dalam pengarahan yang berlangsung hangat namun tegas, Kapolsek Makasar menekankan pentingnya konsistensi. “Jangan anget-anget tahi ayam,” ujarnya, disambut senyum peserta.

Pamdal, kata Sumardi, memiliki ruang gerak terbatas di lingkungan RW. Namun justru di situlah peran pentingnya: mencegah sejak dini. Jika menemukan situasi darurat—tawuran, peredaran senjata tajam, kekerasan dalam rumah tangga—Pamdal diminta segera berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas, Babinsa, atau Polsek.

Ia juga menyoroti menurunnya kepedulian sosial sebagian warga. Banyak yang enggan menjadi saksi atau menolong karena takut atau memilih aman secara pribadi. Padahal, pembiaran terhadap tindak pidana bisa berujung konsekuensi hukum.

“Tawuran jangan dijadikan tontonan. Kalau anak kita terlibat, cegah. Jangan malah dilindungi,” ujarnya.


Patroli Dinamis dan Data Pendatang

Selain patroli, Sumardi menekankan pentingnya pengelolaan data orang asing/pendatang dan pengontrak. Wajib lapor 1x24 jam, yang kerap hanya menjadi slogan, diminta benar-benar dijalankan.

“Kalau RT tidak punya data pendatang, nanti repot sendiri saat ada kejadian,” katanya.

Patroli pun diminta tidak monoton. Waktu dan rute harus diacak agar tidak mudah dibaca pelaku kejahatan. Di wilayah perbatasan RW, opsi portal satu pintu atau kesepakatan jam buka-tutup dapat dipertimbangkan, dengan tetap memperhatikan akses darurat.

Pemasangan kamera pengawas (CCTV) juga disebut sebagai penunjang penting untuk memantau mobilitas orang dan kendaraan.


Menjaga Kampung, Menjaga Masa Depan

Sesepuh RW 010, H. Wawan, menyebut Pamdal sebagai ikhtiar bersama menjelang bulan Ramadhan. Ia menegaskan bahwa Pamdal tidak akan berjalan tanpa kemitraan.

“Kami ingin membantu aparat, menangani lebih awal sesuai aturan. Kami mohon arahan agar bisa menjaga RW 010 dengan baik,” katanya.

Malam itu, diskusi mengalir hingga larut. Pertanyaan soal perlindungan pelapor, dokumentasi kejadian, hingga aturan hukum terkait perusakan portal dibahas terbuka. Jawaban yang muncul satu: keamanan lingkungan hanya bisa terwujud jika warga berani peduli dan bergerak bersama.

Di RW 010 Kebon Pala, langkah kecil itu baru dimulai. Namun bagi warga, keberanian untuk menjaga kampung sendiri mungkin adalah bentuk pengamanan paling dasar—dan paling penting.