LUGAS | BITUNG — Di tengah dorongan reformasi layanan publik yang kerap tersendat pada tataran implementasi, jajaran Polres Bitung justru menampilkan capaian yang patut diuji lebih jauh: respons panggilan darurat.
Senin pagi, 27 April 2026, ruang lobi Mapolres Bitung menjadi panggung simbolik ketika Kapolres Bitung, Albert Zai, menyerahkan insentif kepada tiga operator layanan darurat 110. Penghargaan itu diberikan setelah hasil analisa dan evaluasi (anev) Posko Presisi Stama Ops menempatkan Bitung di posisi ketiga dari lima satuan wilayah dengan tingkat respons panggilan terbaik secara nasional.
Di atas kertas, capaian itu mengesankan. Bitung berada tepat di bawah Mabes Polri dan Polda Sumatera Utara, serta mengungguli sejumlah wilayah lain seperti Polres Lahat dan Polresta Pekanbaru. Namun, pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana angka-angka tersebut merefleksikan kualitas layanan riil di lapangan?
Tiga personel yang menerima insentif—Aiptu Dolfi Sinadia, Aiptu Arif Solichin Sugito, dan Bripda Valentino J. Leohang—disebut sebagai operator yang dinilai responsif dalam menjawab panggilan masyarakat. Dalam sambutannya, Kapolres menekankan bahwa pelayanan melalui nomor darurat bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan “panggilan ibadah” yang harus dijaga konsistensinya.
Pernyataan itu normatif, tetapi relevan jika ditarik ke konteks yang lebih luas: layanan 110 selama ini kerap menjadi tolok ukur kecepatan respons kepolisian. Di sejumlah daerah, keluhan masyarakat justru berkisar pada lambannya respons atau bahkan panggilan yang tak terjawab.
Pemberian reward yang turut disaksikan Wakapolres, para pejabat utama, serta kapolsek jajaran ini bisa dibaca sebagai upaya internal mendorong kultur kompetisi pelayanan. Namun, transparansi indikator penilaian anev masih menjadi ruang yang jarang disentuh. Apakah penilaian berbasis jumlah panggilan terjawab semata, atau juga mengukur kualitas tindak lanjut di lapangan?
Di titik inilah capaian Polres Bitung layak diapresiasi sekaligus diawasi. Sebab, layanan darurat bukan berhenti pada menjawab telepon—melainkan seberapa cepat dan tepat negara hadir setelahnya.
