Ketika Halaman Kantor Camat Tidak Lagi Bau Formalitas


Foto: Camat kecamatan Makasar Dimas Prayudi memimpin penimbangan sampah di Bank Sampah Ceria kecamatan Makasar



Essai Mahar Prastowo 


Pukul delapan pagi halaman kantor Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, mulai ramai.

Biasanya halaman kantor pemerintah identik dengan mobil dinas, upacara, atau spanduk yang terlalu banyak tanda seru.

Tetapi dua minggu sekali, pemandangannya berubah.

Yang datang bukan demonstran.
Bukan pula peserta apel.

Yang datang ibu-ibu membawa karung.

Isinya botol plastik.

Ada yang membawa kardus bekas mi instan. Ada yang mengangkut minyak jelantah. Seorang bapak dari Kebon Pala bahkan datang sambil mengikat kaleng bekas di belakang motor tuanya seperti sedang membawa hasil panen.

Dan memang itulah panennya.

Panen sampah terpilah.



Program itu diberi nama sederhana:
“1 RW 1 Bank Sampah”.

Kalimatnya pendek. Tetapi dampaknya mulai terasa panjang.

Dari lima kelurahan di Kecamatan Makasar, warga bergotong royong membawa hasil pilahan sampah mereka ke halaman kantor camat setiap dua minggu sekali.

Dari Kelurahan Makasar.
Dari Pinang Ranti.
Dari Cipinang Melayu.
Dari Halim Perdanakusuma.
Dari Kebon Pala.

Semuanya datang dengan satu kesadaran baru:
sampah ternyata bisa diperlakukan lebih hormat daripada selama ini.



Di sudut halaman, ibu-ibu PKK sibuk mencatat berat sampah.

“Plastik PET, 12 kilo.”
“Kardus, 8 kilo.”
“Minyak jelantah, 3 liter.”

Suasananya seperti pasar kecil yang aneh tetapi penuh harapan.

Anak-anak ikut membantu memisahkan tutup botol. Para ketua RT berdiri sambil sesekali bercanda soal warga yang sekarang lebih rajin menyimpan kardus daripada menyimpan kuitansi belanja.

Yang paling sibuk justru tim penimbang.

Tangan mereka hitam oleh debu kardus. Tetapi wajah mereka terang.

Karena untuk pertama kalinya mereka melihat sesuatu yang jarang muncul di kota besar:

warga bergerak, rela antre menimbang, bukan antre menunggu bansos.



Di Kelurahan Makasar, warga mengenal Lembaga Bank Sampah Mandiri sebagai salah satu penggerak pemilahan sampah tingkat lingkungan. 

Di Cipinang Melayu, ada Bank Sampah Kasih Jumilah yang menjadi tempat warga menyetor sampah terpilah dari rumah-rumah sekitar. 

Sementara di Kebon Pala, beberapa RW sudah memiliki titik bank sampah aktif seperti:

RW 07 Kebon Pala
Rw 04 Kebon Pala
Mandiri RW 06 Kebon Pala
Bank sampah matahari


Data lokasi bank sampah RW itu bahkan tercatat dalam sistem e-Bank Sampah Pemprov DKI Jakarta. 



Yang menarik justru bukan soal sampahnya.

Tetapi perubahan perilakunya.

Dulu warga bertanya:
“Ini sampah dibuang ke mana?”

Sekarang pertanyaannya berubah:
“Ini sampah harganya berapa?”

Perubahan besar memang sering dimulai dari pertanyaan kecil.

Ibu-ibu mulai hafal jenis plastik. Anak-anak mulai tahu botol PET lebih mahal daripada plastik kresek biasa. Bapak-bapak yang tadinya malas memilah sekarang ikut menyimpan kardus bekas paket online.

Indonesia memang negeri unik.

Barang datang dibungkus kardus.
Kardus dijual lagi.
Hasilnya dipakai beli kambing qurban.

Ekonomi sirkular bertemu budaya gotong royong.



Pemerintah Kota Jakarta Timur sendiri mulai serius menjadikan Kecamatan Makasar sebagai wilayah percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bahkan tahun ini diresmikan “Bank Sampah Ceria” yang menjadi pusat penimbangan bank sampah di wilayah tersebut. 

Artinya, halaman kantor camat itu perlahan berubah fungsi.

Bukan cuma tempat administrasi.

Tetapi juga tempat lahirnya kesadaran baru.

Bahwa kota bersih tidak mungkin lahir dari petugas kebersihan saja.

Ia lahir dari dapur rumah tangga.

Dari keputusan sederhana memisahkan botol teh kemasan dari sisa nasi basi.



Yang paling bahagia biasanya para ibu.

Karena mereka merasa pekerjaan rumah tangga yang selama ini dianggap sepele ternyata bisa menghasilkan sesuatu.

Tabungan.
Sembako.
Iuran warga.
Bahkan qurban.

“Dulu sampah bikin penuh tempat sampah. Sekarang bikin penuh buku tabungan,” kata seorang ibu sambil tertawa kecil.

Kalimat itu terdengar ringan.

Padahal isinya revolusi.



Dan mungkin memang beginilah masa depan kota.

Bukan kota yang bebas sampah. Itu terlalu utopis.

Tetapi kota yang warganya tidak lagi malu memegang sampahnya sendiri.

Sebab peradaban sering diukur bukan dari gedung tertingginya.

Melainkan dari bagaimana ia memperlakukan hal-hal yang dianggap kotor.

Termasuk plastik bekas air mineral di dapur rumahnya sendiri. 

♻️🌿





0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1