Kurban Bukan Sekedar Darah dan Daging, Tapi Tentang Mengalahkan Keserakahan



LUGAS | BITUNG — Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kota Bitung tahun ini tidak hanya diwarnai gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Dari mimbar khutbah hingga sambutan pemerintah daerah, pesan tentang solidaritas sosial, keberanian berbagi, dan kritik terhadap kesenjangan ekonomi menjadi benang merah yang mengemuka dalam pelaksanaan salat Idul Adha.


Ratusan jamaah memadati lokasi pelaksanaan salat Id yang berlangsung khidmat dan tertib. Sejumlah pejabat Pemerintah Kota Bitung turut hadir mendampingi Asisten II Setda Kota Bitung, Maikel Sondakh, yang membacakan sambutan Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E.

Dalam sambutannya, Wali Kota Bitung menegaskan bahwa Idul Adha bukan hanya momentum ibadah ritual, tetapi juga panggilan moral untuk memperkuat kepedulian sosial dan menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kota Bitung.


“Semangat kurban harus menjadi energi kebersamaan untuk saling membantu dan memperkuat rasa persaudaraan. Di tengah tantangan ekonomi dan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, nilai berbagi dan kepedulian harus terus dijaga,” demikian pesan Wali Kota Bitung yang dibacakan Maikel Sondakh.

Pemerintah Kota Bitung juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai momentum introspeksi dan penguatan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Keberanian dan perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Keberanian untuk peduli, berbagi, dan menjaga persatuan di tengah berbagai perbedaan,” lanjut sambutan tersebut.


Dalam khutbahnya, Ustaz Abdul Ajis menegaskan bahwa makna kurban tidak boleh dipersempit hanya pada seremoni penyembelihan hewan dan pembagian daging semata. Menurut dia, Idul Adha sejatinya mengajarkan keberanian manusia melawan keserakahan dan egoisme pribadi.

“Kurban hadir bukan hanya sebagai ritual darah, melainkan instrumen keadilan ekonomi. Ketika daging kurban dibagikan kepada masyarakat, di situlah nilai keadilan sosial sedang dipraktikkan secara nyata,” ujar Abdul Ajis di hadapan jamaah.


Ia mengingatkan bahwa di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, semangat berbagi menjadi pesan paling relevan dari Idul Adha. Kurban, kata dia, adalah bentuk nyata keberpihakan kepada sesama yang membutuhkan.

“Kurban adalah jembatan kemanusiaan yang meruntuhkan sekat antara si kaya dan si miskin. Yang dikorbankan bukan hanya hewan, tetapi juga ego kepemilikan dan sikap masa bodoh terhadap penderitaan sesama,” katanya.


DPD LDII Kota Bitung dalam momentum tersebut juga menegaskan bahwa semangat kurban harus mampu melahirkan kepedulian kolektif dan memperkuat kohesi sosial masyarakat. Sebab, bangsa yang kuat bukan dibangun dari kemewahan segelintir orang, melainkan dari kemampuan seluruh elemen masyarakat menjaga empati dan kebersamaan.

Di tengah dinamika sosial dan tantangan ekonomi yang terus berkembang, Idul Adha 1447 Hijriah di Kota Bitung menjadi pengingat bahwa nilai pengorbanan sejatinya terletak pada kemampuan manusia menundukkan keserakahan dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1