Malam Itu Kali Cipinang Membawa Icha Pergi

Ilustrasi dibuat dengan AI


Essai Mahar Prastowo


Jumat malam itu, 29 Mei 2026, Jalan Kerja Bakti VII di Kelurahan Makasar sebenarnya masih seperti biasa. Motor lalu lalang. Warung masih buka. Warga masih bercengkerama di depan rumah.

Tidak ada yang menyangka beberapa detik kemudian malam berubah menjadi kepanikan panjang.

Sekitar pukul 21.15 WIB, suara benturan terdengar di dekat bantaran Kali Cipinang.

Bruk.

Tidak terlalu keras. Tetapi cukup membuat Sumini dan Winarto—dua warga yang sedang melintas—langsung menoleh ke arah suara.

Mereka melihat sebuah motor sudah terjatuh di dekat pembatas kali. Seorang gadis muda terduduk lemas di trotoar sambil panik memanggil-manggil nama seseorang.

“Icha...! Icha...!”

Nama itu terus dipanggil berulang.

Gadis itu adalah Auridha Putri Safni. Malam itu ia mengendarai motor sambil membonceng kakaknya sendiri, Ernisah Fransiska Rani Damanik.

Saat Sumini mendekat dan bertanya apa yang terjadi, Auridha menjawab dengan suara gemetar.

“Tiba-tiba mata saya gelap...”

Kalimat pendek itu menjadi awal tragedi malam itu.

Ernisah, perempuan yang sedang hamil, diduga terjatuh ke aliran Kali Cipinang setelah motor mengalami pengereman mendadak dan kehilangan kendali.

Winarto langsung mencoba menyenter ke arah kali. Tetapi malam terlalu gelap. Permukaan air hitam pekat. Tidak terlihat apa-apa.

Dalam hitungan menit warga mulai berdatangan. Kabar menyebar cepat dari mulut ke mulut.

“Ada orang jatuh ke kali!”

Jalan kecil itu mendadak penuh. Motor berhenti sembarangan. Orang-orang berkumpul di pinggir kali dan atas jembatan.

Sekitar pukul 21.30 WIB suasana semakin ramai. Polisi dari Polsek Makasar tiba di lokasi. Kanit Reskrim AKP Choirur Rifai bersama anggota langsung melakukan pengecekan dan olah tempat kejadian perkara.

Tak lama kemudian suara sirene memecah malam.

Mobil Damkar, BPBD, relawan, hingga unsur TNI AU berdatangan membantu pencarian. Lampu rotator merah memantul di wajah-wajah warga yang cemas. Sebagian warga ikut membantu menyisir bantaran kali dengan senter seadanya.

Di lokasi awal jatuhnya korban—depan bengkel Jeep Tessy Kabul, seberang Jalan Madukara Makasar—keramaian semakin tak terkendali. Kemacetan panjang terjadi di Jalan Kerja Bakti VII.

Auridha sendiri sudah dibawa pulang oleh teman-temannya dalam kondisi syok dan lemas.

Sementara itu pencarian terus dilakukan menyusuri arus Kali Cipinang.

Waktu berjalan lambat.

Lalu sekitar pukul 22.40 WIB, suasana berubah di kawasan depan SMPN 268 Kebon Pala, atau yang dikenal warga sebagai “Deptha”—singkatan dari Depan Pabrik Tahu.

Beberapa warga melihat sesuatu berwarna putih mengambang di tengah gelapnya kali.

Awalnya tidak ada yang curiga.

Ada yang mengira itu kambing hanyut. Ada pula yang menduga hanya jeroan sisa kurban terbawa arus. Maklum, suasana Iduladha masih terasa di kampung-kampung sekitar Makasar dan Kebon Pala.

Namun ketika cahaya senter mengenai benda itu lebih jelas, warga mulai sadar.

“Itu orang...!”

Orang-orang langsung berlari mendekat ke bantaran kali.

Kabar penemuan tubuh perempuan di depan SMPN 268 menyebar secepat kilat.

Saat itu Ketua FKDM Kebon Pala baru beberapa menit membuat laporan awal kejadian di grup WhatsApp FKDM Kecamatan. Tiba-tiba anggota FKDM Halim Perdanakusuma mengabarkan bahwa korban ditemukan di depan SMPN 268.

Saya, bersama anggota FKDM kelurahan Kebon Pala, Nurrohmad dan Nursanti, langsung meluncur ke lokasi untuk memastikan informasi tersebut.

Di tengah keramaian warga dan sorot lampu petugas, tubuh perempuan berkaos putih itu akhirnya diyakini sebagai tubuh Icha—Ernisah Fransiska Rani Damanik.

Informasi itu segera dipantulkan kembali ke grup WhatsApp wilayah dan juga diteruskan melalui video call kepada Kapolsek Makasar Kompol Sumardi.

Malam itu kabar bergerak lebih cepat daripada arus Kali Cipinang.

Keramaian warga pun berpindah. Dari lokasi awal korban jatuh di wilayah Makasar menuju depan SMPN 268 Kebon Pala.

Warga Kebon Pala dan Makasar memadati lokasi evakuasi. Ada yang berdiri di atas motor. Ada yang naik ke pagar rumah. Sebagian lagi mengangkat telepon genggam tinggi-tinggi untuk merekam proses evakuasi.

Anak-anak kecil ikut menonton dari belakang kerumunan. Para ibu berbisik lirih. Para bapak hanya berdiri diam memandang aliran kali yang hitam.

Tak ada teriakan histeris malam itu.

Yang terdengar hanya suara air mengalir dan instruksi petugas yang berusaha mengevakuasi tubuh korban.

Sekitar pukul 22.50 WIB para petugas dan relawan termasuk FKDM kecamatan dan kelurahan Makasar tiba di lokasi, dan lima belas menit berikutnya tubuh Ernisah akhirnya berhasil dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia.

Malam mendadak sunyi.

Orang-orang yang tadi ramai perlahan diam. Sebagian menunduk. Sebagian menghela napas panjang.

Di rumah kecil kawasan Jembatan Lama RT 09 RW 07, keluarga kini harus menerima kenyataan pahit: seorang anak, seorang kakak, seorang istri, sekaligus calon ibu, pulang dalam keadaan tak bernyawa.

Peristiwa itu mungkin hanya akan tercatat sebagai kecelakaan tunggal dalam laporan resmi.

Tetapi bagi warga Makasar dan Kebon Pala, malam itu akan diingat berbeda.

Tentang seorang adik yang pandangannya mendadak gelap.

Tentang seorang kakak yang hilang di derasnya Kali Cipinang.

Dan tentang bagaimana satu malam biasa, di tengah suasana Iduladha, berubah menjadi duka panjang yang tak pernah diperkirakan siapa pun.




Deptha, 30/05/2026

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1