LUGAS | BITUNG — Peringatan Hari Buruh Internasional tak sekadar seremoni tahunan bagi PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 4 Bitung. Di balik ucapan selamat yang disampaikan manajemen, terselip pesan tajam tentang posisi buruh sebagai tulang punggung yang kerap luput dari sorotan kebijakan.
General Manager Pelindo Regional 4 Bitung, James David Hukom, menegaskan bahwa buruh bukan sekadar pelaksana teknis dalam rantai logistik, melainkan elemen fundamental yang menentukan arah pembangunan sektor maritim nasional.
“Buruh adalah salah satu elemen penting dalam pembangunan bangsa. Hari Buruh menjadi kilas balik perjalanan panjang yang mengingatkan kita betapa pentingnya menghargai karya dan pekerjaan orang lain,” ujar Hukom dalam pernyataan resminya, Sabtu (1/5).
Ia menambahkan, di tengah dinamika industri kepelabuhanan yang semakin kompetitif, pekerja dituntut tidak hanya produktif, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi dan sistem kerja modern.
“Selamat Hari Buruh Internasional. Semoga para pekerja di Indonesia semakin produktif, kompetitif, dan sejahtera,” lanjutnya.
Namun di balik optimisme itu, realitas lapangan masih menyisakan pekerjaan rumah. Transformasi Pelindo pascamerger membawa konsekuensi efisiensi dan standarisasi kerja yang berdampak langsung pada tenaga kerja, terutama di sektor operasional pelabuhan.
Sejumlah kalangan menilai, peningkatan produktivitas kerap tidak berbanding lurus dengan perlindungan kesejahteraan buruh. Isu kontrak kerja, keselamatan kerja, hingga kepastian jenjang karier masih menjadi diskursus yang belum sepenuhnya tuntas.
Pelindo Regional 4 Bitung sendiri menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara target korporasi dan hak-hak pekerja. Manajemen menyebut, peningkatan kapasitas SDM dan kesejahteraan karyawan tetap menjadi bagian dari agenda strategis perusahaan.
Di momentum Hari Buruh ini, pernyataan manajemen Pelindo menjadi pengingat: pembangunan sektor maritim tak bisa hanya bertumpu pada infrastruktur dan investasi, tetapi juga pada penghargaan nyata terhadap manusia yang menggerakkannya.

