LUGAS | Sorong, PBD - Di ufuk timur Indonesia, mentari pagi perlahan menyingkap langit Kota Sorong, Papua Barat Daya. Cahaya keemasan menyapu jalan-jalan yang mulai ramai oleh langkah warga menuju masjid. Gema takbir berkumandang dari pengeras suara, bersahutan dengan sapaan hangat dan wajah-wajah penuh suka cita.
Pagi itu, Rabu, 27 Mei 2026, suasana Iduladha terasa begitu hidup di lingkungan Masjid Miftahul Jannah, Jalan Pendidikan, Remu, Kota Sorong. Sejak pukul 07.00 WIT, ratusan warga dari berbagai Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII seperti Remu, Malasimsa, Sorong Barat, Klasaman, hingga Kampung Baru memadati area masjid untuk melaksanakan salat Iduladha bersama.
Laki-laki, perempuan, orang tua hingga anak muda datang dengan pakaian terbaik mereka. Aroma minyak wangi bercampur udara pagi menghadirkan nuansa religius sekaligus kekeluargaan. Di dalam masjid, jamaah tampak khusyuk menanti dimulainya khutbah Iduladha.
Bertindak sebagai imam sekaligus pemandu pelaksanaan salat adalah Ustaz Andre. Tepat pukul 07.30 WIT, khutbah Iduladha dimulai dengan suasana penuh khidmat. Jamaah mendengarkan dengan tenang setiap pesan tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang menjadi ruh perayaan Iduladha.
Usai salat, Sekretaris DPD LDII Kota Sorong, Hanif Zackaria, S.Pd., menyampaikan sambutan kepada jamaah. Dengan senyum hangat, ia membacakan pesan hikmah Iduladha melalui telepon genggamnya.
“Hari Raya Iduladha merupakan salah satu hari besar Islam yang penuh makna. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang tauhid, pengorbanan, keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketakwaan kepada Allah SWT,” ujar Hanif.
Menurutnya, esensi kurban bukan semata menyembelih hewan, melainkan bagaimana manusia belajar mengorbankan apa yang dicintainya demi meraih ridha Allah SWT.
“Berkurban mengajarkan keikhlasan dalam memberi dan berbagi. Allah tidak membutuhkan daging ataupun darah hewan kurban, tetapi bagaimana ketaatan dan ketulusan kita dalam menjalankan perintah-Nya,” katanya.
Semangat “Ikhlas Berkurban, Ikhlas Berbagi” pun tampak nyata setelah rangkaian ibadah selesai. Sekitar pukul 09.00 WIT, para jamaah laki-laki mulai melakukan penyembelihan hewan kurban di halaman masjid. Sementara kaum ibu membantu membersihkan dan menyiapkan daging untuk didistribusikan.
Suasana gotong royong terasa begitu kuat. Tidak ada sekat usia maupun latar belakang. Semua bekerja bersama dalam semangat ibadah dan pelayanan kepada sesama.
Hanif menyebutkan, tahun ini jumlah hewan kurban yang disembelih mencapai lebih dari 20 ekor sapi. Daging kurban kemudian dibagikan kepada warga, rekanan, dan masyarakat sekitar melalui sistem kupon yang telah dibagikan sebelumnya.
“Kami tidak melihat seberapa banyak hewan yang dipotong, tetapi bagaimana manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dan menjadi sarana mempererat persaudaraan,” ujar Hanif.
Di tengah dinamika kehidupan modern, tradisi kurban di Masjid Miftahul Jannah menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan keikhlasan masih hidup di tengah masyarakat. Dari halaman masjid di Kota Sorong itu, Iduladha bukan hanya tentang ritual tahunan, melainkan tentang merawat kemanusiaan melalui berbagi.
Sopian Hadi Santoso
