Essai Mahar Prastowo
Malam mulai turun ketika halaman Kantor Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, dipenuhi barisan personel apel cipta kondisi. Lampu-lampu halaman kantor kecamatan memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang masih menyimpan sisa panas siang hari.
Di podium apel, Wakil Camat Makasar, Nur Hilal, berdiri memegang mikrofon.
Ia baru saja melewati hari yang panjang.
Sejak pagi Aula Kecamatan Makasar dipenuhi warga yang datang untuk donor darah dalam rangka memperingati HUT ke-20 Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM). Dan malam itu, saat memimpin apel cipta kondisi mewakili Camat Makasar, ia masih membicarakan kegiatan donor darah tersebut.
Bukan karena acara seremonialnya.
Tetapi karena antusiasme warganya.
“Saya tidak menyangka warga sangat antusias mengikuti donor darah,” ujarnya di hadapan peserta apel.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi seorang Ketua PMI Kecamatan Makasar, angka-angka siang tadi memang cukup mengejutkan.
Aula lantai satu Kantor Kecamatan Makasar sejak pagi dipenuhi berbagai unsur masyarakat. Ada anggota FKDM. Ketua RT dan RW. LMK. ASN. PJLP. Tokoh masyarakat. Hingga warga biasa yang datang dengan satu niat: menyumbangkan darah.
Kegiatan donor darah tersebut merupakan kolaborasi FKDM Kecamatan Makasar dengan PMI Kota Jakarta Timur sebagai bagian dari bakti sosial HUT FKDM ke-20.
Camat Makasar, Dimas Prayudi, sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan sosial seperti ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin tahunan karena manfaatnya langsung dirasakan masyarakat sekaligus membantu menjaga stok darah di Jakarta.
Dan ternyata, respons warga jauh melampaui perkiraan panitia.
Hampir sejak meja registrasi dibuka, antrean peserta mulai terlihat. Sebagian datang sebelum acara dimulai. Ada yang sengaja izin kerja. Ada pula yang datang setelah mendengar informasi dari grup WhatsApp lingkungan.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang sering individualistis, aula kecamatan itu justru dipenuhi orang-orang yang rela memberikan sebagian darahnya untuk orang lain yang bahkan tidak mereka kenal.
Angka akhirnya cukup mencolok. Berdasarkan laporan kegiatan FKDM, jumlah calon donor mencapai 100 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 61 orang berhasil mendonorkan darahnya.
Sisanya tidak dapat melanjutkan donor karena beberapa faktor kesehatan, mulai dari tekanan darah, kadar hemoglobin, hingga kondisi fisik yang belum memenuhi syarat medis.
Ketua FKDM Kecamatan Makasar, Rusli, mengatakan kegiatan donor darah dipilih karena manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.
Ia sendiri sudah 20 kali mengikuti donor darah.
Baginya, donor darah bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama manusia.
Di sudut aula siang itu, petugas PMI Jakarta Timur bekerja nyaris tanpa jeda. Tensimeter dipompa bergantian. Kantong darah ditata rapi. Aroma alkohol medis bercampur dengan kopi panas yang disiapkan panitia.
Ada peserta yang terlihat gugup saat pertama kali donor. Ada yang tertawa setelah selesai sambil menerima susu, vitamin, dan makanan ringan dari panitia.
Tetapi satu hal tampak sama dari wajah-wajah itu: mereka datang dengan niat membantu orang lain.
Rupanya, itulah yang paling membekas di benak Nur Hilal hingga malam hari saat apel cipta kondisi berlangsung.
Di tengah tugas pemerintahan yang sering dipenuhi laporan, rapat, dan urusan administratif, ia melihat sesuatu yang sederhana namun penting: kepedulian warga ternyata masih sangat besar.
Dan donor darah menjadi salah satu cara paling nyata untuk menunjukkannya.
Sebab setetes darah tidak pernah bertanya siapa penerimanya.
Tidak peduli suku.
Tidak peduli agama.
Tidak peduli status sosial.
Ia mengalir untuk menyelamatkan manusia lain.
Peringatan HUT FKDM ke-20 di Kecamatan Makasar akhirnya bukan hanya menjadi momentum organisasi kewilayahan.
Ia berubah menjadi peristiwa kecil yang mengingatkan bahwa di tengah kerasnya kehidupan kota, rasa kemanusiaan masih hidup di lingkungan masyarakat.
Dari aula sederhana Kantor Kecamatan Makasar itu, 61 kantong darah terkumpul.
Mungkin beberapa hari lagi darah itu mengalir ke tubuh pasien di rumah sakit.
Mungkin menjadi harapan baru bagi seseorang yang sedang berjuang hidup.
Dan semua itu bermula dari warga-warga biasa yang pagi tadi rela berbaring di ranjang donor, menggulung lengan bajunya, lalu berkata pelan kepada petugas PMI:
“Silakan, ambil saja.”
(MP)
Galeri Bakti Sosial Donor Darah HUT FKDM Ke-20
























