LUGAS | BITUNG — Antusiasme masyarakat terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di SMK Negeri 2 Bitung kembali terpusat pada Program Keahlian Teknik Alat Berat. Lonjakan pendaftar menyebabkan tidak sedikit calon peserta didik gagal diterima di jurusan favorit tersebut, meski memenuhi syarat administrasi.
Kepala SMK Negeri 2 Bitung, Meryati Taengetan, SPd., MAP., mengakui masih menerima keluhan dari sejumlah orang tua yang berharap anak mereka dapat diterima di Teknik Alat Berat. Namun, menurutnya, pembatasan kuota dilakukan secara sadar setelah mempertimbangkan kebutuhan dunia industri serta kemampuan sekolah menjaga mutu lulusan.
"Memang banyak orang tua yang kecewa karena anaknya tidak lolos di Teknik Alat Berat. Tetapi keputusan ini kami ambil demi menjaga kualitas lulusan," kata Meryati saat ditemui media.
Menurut dia, tingginya minat masyarakat tidak lepas dari tingginya serapan lulusan SMK Negeri 2 Bitung di sektor pertambangan. Selama beberapa tahun terakhir, sekolah menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan, termasuk perusahaan tambang di Weda, Maluku Utara.
Meryati mengungkapkan, tahun lalu pihak Human Resources Development (HRD) perusahaan tambang di Weda bahkan datang langsung ke sekolah untuk menjalin kerja sama perekrutan tenaga kerja.
"Mereka meminta sekitar 1.500 lulusan. Namun saat itu kami hanya mampu memenuhi sekitar 500 orang karena jumlah lulusan hanya sekitar 600 siswa," ujarnya.
Tahun ini jumlah lulusan mengalami penurunan menjadi 419 orang. Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja dari perusahaan mitra masih tetap tinggi.
Menurut Meryati, kondisi tersebut menjadi alasan sekolah tidak lagi mengejar jumlah peserta didik, melainkan lebih memprioritaskan kualitas kompetensi lulusan. Kebijakan itu juga merupakan hasil kesepakatan bersama mitra industri, salah satunya PT United Tractors.
"Mitra industri berharap kami menghasilkan lulusan yang benar-benar siap kerja. Lebih baik jumlahnya sedikit tetapi kompetensinya tinggi daripada menerima banyak siswa namun kualitasnya tidak maksimal," katanya.
Atas dasar itu, sekolah memangkas jumlah rombongan belajar Program Teknik Alat Berat dari lima kelas menjadi tiga kelas pada tahun ajaran ini.
Keputusan tersebut berdampak pada meningkatnya jumlah peserta didik yang tidak dapat diterima di jurusan favorit tersebut. Namun pihak sekolah berupaya mengarahkan mereka memilih program keahlian lain yang masih berada dalam rumpun otomotif, seperti Teknik Kendaraan Ringan (TKR) maupun Teknik Sepeda Motor (TSM).
"Pada kelas X materi dasarnya sama. Karena itu kami mengarahkan mereka agar tetap mengambil jurusan yang masih satu rumpun sehingga peluang bekerja di dunia otomotif tetap terbuka," ujar Meryati.
Selain keterbatasan ruang belajar, sekolah juga menghadapi persoalan terbatasnya lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL). Semakin banyak sekolah membuka Program Teknik Alat Berat, semakin besar pula persaingan memperoleh tempat praktik di perusahaan.
"Bahkan kami menyampaikan kepada orang tua, apabila memang menginginkan anaknya masuk Teknik Alat Berat, akan lebih baik jika sudah memiliki rekomendasi dari perusahaan sebagai tempat PKL nantinya," tuturnya.
Meryati menyebut sebagian besar lulusan Teknik Alat Berat dan Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Bitung kini telah bekerja sebagai operator maupun mekanik alat berat di sejumlah perusahaan tambang. Bahkan salah satu alumninya kini dipercaya menduduki posisi manajer di perusahaan tambang di Weda.
Rekam jejak itulah, kata dia, yang membuat perusahaan masih memberikan kepercayaan kepada SMK Negeri 2 Bitung sebagai salah satu penyedia tenaga kerja terampil.
Meski proses seleksi telah selesai, sekolah masih membuka tahapan lapor diri bagi peserta didik yang dinyatakan lulus. Apabila terdapat calon siswa yang tidak melakukan daftar ulang sesuai jadwal, kursi tersebut akan dialihkan kepada peserta lain berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Di tengah tingginya persaingan masuk jurusan favorit, Meryati mengimbau para siswa agar tidak menjadikan kegagalan sebagai akhir dari cita-cita mereka.
"Jangan berkecil hati apabila belum diterima di jurusan yang diinginkan. Semua jurusan memiliki peluang yang sama. Keberhasilan bukan ditentukan oleh nama jurusannya, tetapi oleh kemauan belajar, disiplin, dan kerja keras masing-masing," ujarnya.
Ia juga mengajak para orang tua untuk terus mendampingi anak-anak selama menjalani pendidikan di SMK. Menurutnya, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah.
"Masih ada stigma terhadap anak-anak STM. Karena itu kami terus melakukan pembinaan karakter. Tetapi sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua dan masyarakat juga harus ikut mengawasi pergaulan anak-anak. Kalau mereka tumbuh di lingkungan yang baik, kebiasaan baik juga akan terbentuk. Sebaliknya, apabila lingkungan pergaulannya negatif, itu akan memengaruhi perilaku mereka," kata Meryati.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan vokasi bukan hanya diukur dari keterampilan teknis lulusan, melainkan juga dari karakter, etos kerja, dan integritas yang dibentuk melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dunia usaha, dan masyarakat.
"Bila semua pihak berjalan bersama, kami optimistis lulusan SMK Negeri 2 Bitung akan semakin siap memasuki dunia kerja dan mampu bersaing di tingkat nasional," tutupnya.
