LUGAS | JAKARTA TIMUR — Tepuk tangan bergema di Aula Lantai III Kantor Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, Jumat (5/6/2026). Satu per satu nama pemenang Lomba Pilah Sampah Tingkat Kelurahan Makasar diumumkan. Namun bagi banyak warga yang hadir, kemenangan sesungguhnya bukanlah soal trofi atau hadiah puluhan juta rupiah, melainkan tumbuhnya kesadaran baru bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari rumah masing-masing.
Perlombaan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu melibatkan seluruh RW di Kelurahan Makasar. Sejak sosialisasi pada 22 Mei hingga verifikasi lapangan pada awal Juni, warga bergotong royong membangun kebiasaan memilah sampah dari sumbernya.
Lurah Makasar, Faisal Rizal, dalam laporannya mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pengelolaan Sampah dari Sumber. Kelurahan Makasar bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, PT Vale Indonesia, dan Waste4Change untuk menyelenggarakan lomba tersebut.
"Lomba ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumber, mendorong partisipasi aktif warga, mengoptimalkan peran bank sampah, sekaligus mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pengolahan akhir," ujar Faisal.
Selama proses penilaian, tujuh RW dinilai berdasarkan aspek regulasi dan kelembagaan, teknis operasional pengelolaan sampah, partisipasi masyarakat, inovasi, hingga kebersihan lingkungan.
Di balik angka dan penilaian itu, terdapat kerja sunyi yang dilakukan warga setiap hari. Para ibu rumah tangga memilah sampah dapur, pengurus bank sampah mencatat setoran warga, dan pengurus RT-RW mengajak masyarakat mengubah kebiasaan lama membuang sampah tanpa pemilahan.
Wakil Camat Makasar, Nur Hilal, yang mewakili Camat Dimas Prayudi, menilai langkah yang dilakukan Kelurahan Makasar dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Jakarta Timur.
Menurut dia, pemilahan sampah dari tingkat RT dan RW memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi beban tempat penampungan sampah. Sampah yang telah dipilah bahkan memiliki nilai ekonomi karena dapat langsung diterima dan dibeli oleh mitra pengelola sampah.
"Semoga empat kelurahan lainnya di Kecamatan Makasar dapat mengikuti jejak Kelurahan Makasar," katanya.
Pesan serupa disampaikan Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air Kementerian Lingkungan Hidup, Witono. Ia menegaskan bahwa gerakan memilah sampah merupakan bagian dari implementasi program nasional menuju Indonesia yang bersih dan asri.
Menurut Witono, persoalan sampah tidak bisa lagi dianggap sepele. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang selama ini menjadi tumpuan pengelolaan sampah Jakarta menghadapi tekanan akibat tingginya volume sampah yang terus masuk setiap hari.
"Pengelolaan sampah dari sumber menjadi sangat penting. Lomba ini bukan akhir perjalanan, tetapi justru awal untuk membangun budaya memilah sampah yang berkelanjutan," ujarnya.
Ia berharap gerakan yang dimulai dari tingkat kelurahan dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas hingga tingkat kecamatan dan kota.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Julius Monangta, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta. Ia menyoroti besarnya peran kaum ibu dalam keberhasilan gerakan tersebut.
"Biasanya yang paling aktif adalah ibu-ibu. Mereka menjadi tonggak dalam rumah tangga untuk memastikan sampah dipilah sebelum keluar dari rumah," kata Julius.
Ia menegaskan bahwa seluruh peserta sejatinya merupakan pemenang karena telah mengambil bagian dalam upaya menjaga lingkungan.
"RW yang belum juara jangan pesimis. Kita semua adalah pemenang karena sudah ikut mengubah kebiasaan menjadi lebih baik," ujarnya.
Suasana semakin meriah ketika peserta bersama-sama meneriakkan yel-yel, "Pilah sampah dari sumber! Go, go, go!" Seruan sederhana itu menggambarkan semangat kolektif yang tumbuh di tengah warga.
Perwakilan dewan juri, Ananda Haman Sunarko dari Waste4Change, mengingatkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya membantu pemerintah, melainkan juga meringankan pekerjaan para petugas kebersihan yang setiap hari berhadapan dengan tumpukan sampah.
"Kami berharap setelah lomba ini masyarakat semakin bijak mengelola sampah. Ini adalah langkah awal menuju perubahan yang lebih besar," katanya.
Pada akhir acara diumumkan para pemenang Lomba Pilah Sampah Tingkat Kelurahan Makasar Tahun 2026. RW 06 meraih Juara III, RW 04 menjadi Juara II, sedangkan Juara I diraih oleh RW 03. Sementara RW 01, RW 02, RW 05, dan RW 07 memperoleh penghargaan apresiasi berupa dispenser air.
Total hadiah yang disediakan mencapai Rp 35 juta, terdiri atas Rp 20 juta uang tunai dan Rp 15 juta dalam bentuk barang.
Namun, hadiah terbesar sesungguhnya adalah tumbuhnya kesadaran bahwa sampah bukan semata barang buangan. Di tangan warga yang peduli, sampah dapat menjadi awal dari perubahan lingkungan yang lebih sehat. Dari dapur-dapur rumah di Makasar, sebuah gerakan kecil sedang dibangun—gerakan yang berharap Jakarta suatu hari dapat bernapas lebih lega karena warganya memilih untuk memilah sampah sejak dari sumbernya.
