LUGAS | BITUNG — Nama Kota Bitung kembali dibawa ke panggung internasional. Kali ini melalui Refaya Fresy Cinta Betah, mahasiswi President University asal Kota Bitung, yang dipercaya menjadi salah satu pembicara muda Indonesia dalam forum “Youth to Youth Dialogue: Bridging Indonesia and Kenya Through Youth Leadership for Global Impact” di Nairobi, Kenya.
Forum yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Nairobi tersebut mempertemukan anak-anak muda Indonesia dan Kenya untuk membicarakan kepemimpinan generasi muda, kolaborasi lintas budaya, serta kontribusi pemuda dalam menjawab berbagai persoalan global.
Kepercayaan kepada Refaya menjadi catatan tersendiri bagi Kota Bitung. Ia tidak hanya hadir sebagai mahasiswa, tetapi juga membawa identitas sebagai anak daerah yang mendapat kesempatan menyampaikan gagasan Indonesia dalam ruang dialog internasional. Forum itu menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa kapasitas anak muda dari daerah tidak berhenti pada batas geografis.
Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E., menyampaikan apresiasi atas capaian Refaya. Menurut dia, keterlibatan anak muda Bitung dalam forum internasional merupakan prestasi yang patut dihargai sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.
Hengky berpesan agar kesempatan tersebut tidak sekadar dipandang sebagai pencapaian pribadi. Ia meminta Refaya terus menjaga integritas, memperluas wawasan, membangun jejaring, serta membawa nama baik Kota Bitung dan Indonesia dalam setiap kesempatan.
“Prestasi ini harus menjadi motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Jangan cepat puas. Teruslah membuka wawasan, membangun relasi, dan berani menyampaikan gagasan,” demikian pesan yang disampaikan Hengky kepada Refaya.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia internasional membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi mampu berkomunikasi, memahami perbedaan budaya, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan bangsa.
Bagi Pemerintah Kota Bitung, capaian Refaya menjadi gambaran bahwa investasi terbesar sebuah daerah bukan hanya pembangunan fisik, melainkan juga kualitas sumber daya manusia. Anak muda yang mampu menembus forum internasional dinilai dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan potensi, karakter dan gagasan Kota Bitung kepada dunia.
Refaya sendiri menyampaikan bahwa kepercayaan menjadi pembicara dalam forum tersebut merupakan pengalaman penting dalam perjalanan akademik dan pengembangan dirinya. Ia berharap dialog Indonesia-Kenya dapat membuka ruang kolaborasi baru antarpemuda, sekaligus mendorong generasi muda untuk berani mengambil peran dalam isu-isu global.
Dari Bitung ke Nairobi, perjalanan Refaya menunjukkan bahwa panggung dunia tidak selalu dimulai dari kota-kota besar. Kadang, ia berangkat dari keberanian seorang anak muda untuk belajar, berbicara, dan membawa nama daerahnya melampaui batas negara.
