HUT KE-103 Aertembaga Ditutup: Bukan Sekedar Perayaan, Sejarah dan Jati Diri Negeri Kembali Diingatkan

 



LUGAS | BITUNG — Panggung perayaan HUT ke-103 Negeri Aertembaga akhirnya ditutup. Namun, pesan yang dibawa dari perayaan itu tidak ikut selesai ketika acara berakhir.

Di tengah seremoni, lomba, dan perayaan, satu hal kembali ditegaskan: Aertembaga memiliki sejarah, budaya dan identitas yang harus dijaga oleh generasi yang hidup hari ini.

Pesan itu disampaikan Ketua Panitia HUT ke-103 Negeri Aertembaga, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits, E.D., S.E., M.Tr.Hanla., CRMP, dalam acara penutupan, Sabtu malam, 19 September 2026.


Mengusung tema “Maesa-esaan wa Tombo-tomboan Umbanua”, perayaan tahun ini diletakkan bukan semata sebagai agenda tahunan, melainkan ruang untuk kembali menghidupkan semangat persatuan, saling menopang dan gotong royong.

“Peringatan hari ulang tahun Negeri Aertembaga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali nilai-nilai budaya lokal, mempererat tali persaudaraan antarwarga, serta mengobarkan semangat gotong royong demi kemajuan masyarakat Negeri Aertembaga,” kata Marvill.

Menurut dia, kekuatan sebuah negeri tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mempertahankan nilai yang diwariskan para pendahulu.

Karena itu, rangkaian HUT ke-103 melibatkan berbagai unsur. Pelajar, sanggar seni, komunitas budaya, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, generasi muda, TNI, Polri, ASN hingga masyarakat umum ikut ambil bagian.

Bagi Marvill, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa semangat kebersamaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aertembaga.

“Semangat kebersamaan inilah yang harus terus dijaga. Aertembaga bukan hanya memiliki sejarah yang panjang, tetapi juga memiliki masyarakat yang menjadi bagian penting dalam menjaga identitas negeri ini,” ujarnya.


Rangkaian kegiatan HUT juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia Sulawesi Utara, Pemerintah Kota Bitung, Kodaeral VIII, unsur TNI-Polri, badan usaha serta pihak swasta.

Marvill menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian, termasuk masyarakat yang ikut menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.

Sejarah Jangan Berhenti di Panggung

Pesan serupa datang dari Komandan Kodaeral VIII Laksamana Muda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla.

Dalam sambutan yang dibacakan Wakil Komandan Kodaeral VIII Laksamana Pertama TNI Tony Herdijanto, S.E., M.Sc., Dery menegaskan bahwa HUT ke-103 Aertembaga bukan sekadar perayaan tahunan.


Peringatan itu, menurut dia, harus menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah, menghargai jasa para pendahulu dan memperkuat persaudaraan masyarakat.

Sebagai wilayah yang berada dalam lingkungan masyarakat maritim Sulawesi Utara, Aertembaga juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan pesisir dan kemaritiman.

Karena itu, masyarakat diajak menjaga lingkungan, melestarikan budaya dan kearifan lokal, serta membangun generasi muda yang memiliki karakter, disiplin dan kecintaan terhadap daerah serta bangsa.

Sementara itu, Pemerintah Kota Bitung melalui Camat Aertembaga Stenly Tatipang, S.Sos., yang membacakan sambutan Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E., memberikan apresiasi kepada masyarakat dan panitia.


Wali Kota menyebut berbagai kegiatan HUT bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan dan menjaga identitas budaya negeri.

Ia mengajak masyarakat tidak berhenti pada romantisme sejarah.

“Jangan hanya mengenang perjalanan sejarah Negeri Aertembaga, tetapi jadikan momentum ini untuk membangun masa depan yang lebih baik,” demikian pesan Wali Kota.

Ketika Perayaan Berakhir

Malam itu akhirnya ditutup secara resmi.

Hadiah diberikan kepada para pemenang lomba. Panitia menyampaikan terima kasih. Para tamu meninggalkan lokasi. Panggung perlahan kehilangan suara.

Tetapi satu pekerjaan belum selesai: menjaga agar sejarah Aertembaga tidak berhenti sebagai cerita yang hanya muncul setiap peringatan hari jadi.

Sebab, 103 tahun bukan sekadar angka dalam kalender.

Ia adalah jejak.

Dan jejak hanya akan tetap menjadi sejarah jika generasi berikutnya masih mau menjaganya.


0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1