Alumni Madinah Kecam Serangan Bandara Riyadh, Desak Perlindungan WNI dan Jamaah Umrah


LUGAS | JAKARTA — Serangan berulang terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, menewaskan belasan orang dan melukai ratusan lainnya. Menyikapi peristiwa tersebut, Alumni Madinah dan Saudi Arabia mengecam serangan terhadap fasilitas sipil serta mendesak pemerintah Indonesia memperkuat perlindungan warga negara Indonesia (WNI) dan jamaah umrah di Arab Saudi.

Ketua Alumni Madinah dan Saudi Arabia, KH Dr. (HC) Bachtiar Nasir, Lc., MM, menyampaikan kecaman dan keprihatinan tersebut melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Ia menilai serangan terhadap infrastruktur sipil, khususnya bandara internasional yang melayani perjalanan masyarakat dari berbagai negara, merupakan ancaman serius terhadap keselamatan manusia.

“Keamanan fasilitas publik dan keselamatan manusia di atas segalanya. Serangan terhadap bandara sipil adalah ancaman langsung terhadap ketertiban dunia dan kenyamanan jutaan tamu Allah yang hendak beribadah,” kata Bachtiar.


Dua serangan dalam dua hari

Laporan otoritas Arab Saudi dan media internasional menunjukkan serangan terhadap bandara tersebut terjadi dalam beberapa insiden.

Pada Sabtu (10/10/2026), serangan terhadap kompleks Bandara Internasional King Khalid menewaskan 12 orang dan menyebabkan 309 orang terluka, menurut keterangan Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi atau General Authority of Civil Aviation (GACA). Korban meninggal terdiri atas empat warga Saudi dan warga negara asing dari sejumlah negara, termasuk Bangladesh, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.

Sehari kemudian, Minggu (11/10/2026), serangan lanjutan kembali dilaporkan terjadi. Otoritas Arab Saudi menyebut satu orang meninggal dunia dan 11 orang terluka dalam insiden tersebut. Korban meninggal diidentifikasi sebagai warga Pakistan yang tinggal di Arab Saudi.

Informasi mengenai kedua insiden tersebut diberitakan Associated Press, Reuters, dan Al Jazeera berdasarkan keterangan otoritas setempat. Dengan demikian, angka korban dari serangan 10 Oktober tidak boleh disamakan dengan jumlah korban pada serangan lanjutan 11 Oktober.

Pada saat kejadian, operasional bandara juga dilaporkan terganggu untuk kepentingan pemeriksaan keselamatan dan kondisi fasilitas. Situasi tersebut menambah perhatian terhadap keselamatan penumpang serta kelancaran perjalanan udara di kawasan tersebut.


KBRI: Belum ada laporan WNI menjadi korban

Di tengah situasi tersebut, perlindungan WNI menjadi salah satu perhatian utama. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, sebagaimana diberitakan ANTARA pada 11 Oktober 2026, menyatakan belum menerima laporan WNI menjadi korban dalam serangan pada 10 Oktober.

KBRI menyampaikan bahwa verifikasi terhadap informasi korban luka masih berlangsung ketika pernyataan itu diterbitkan. Karena itu, keterangan tersebut perlu dipahami sesuai waktu dan cakupan insiden yang dikonfirmasi, bukan sebagai jaminan bahwa seluruh WNI di Arab Saudi telah dipastikan aman dari setiap serangan berikutnya.

KBRI juga mengimbau WNI meningkatkan kewaspadaan, menghindari perjalanan yang tidak mendesak di sekitar bandara, serta memastikan jadwal penerbangan langsung kepada maskapai. WNI diminta tetap tenang, mengikuti arahan otoritas setempat, dan memantau informasi melalui saluran resmi.

Menanggapi perkembangan tersebut, Alumni Madinah dan Saudi Arabia meminta Kementerian Luar Negeri, KBRI Riyadh, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, serta kementerian yang menangani urusan haji dan umrah memperkuat pemantauan terhadap keselamatan WNI dan jamaah umrah.

Bachtiar menilai langkah perlindungan perlu dilakukan secara berkelanjutan mengingat Arab Saudi menjadi tujuan utama perjalanan ibadah umrah sekaligus tempat tinggal dan bekerja bagi banyak pekerja migran Indonesia.

Ia juga meminta informasi mengenai situasi keamanan, perubahan jadwal penerbangan, pembatalan perjalanan, serta penanganan penumpang terdampak disampaikan secara jelas dan tepat waktu. Informasi yang akurat diperlukan agar jamaah, penyelenggara perjalanan ibadah umrah, dan keluarga di Indonesia dapat menentukan langkah yang tepat.


Desak PBB cegah eskalasi konflik

Alumni Madinah dan Saudi Arabia turut menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional mengambil langkah konkret untuk mencegah konflik di Timur Tengah semakin meluas.

Mereka meminta pihak-pihak yang terbukti sengaja menargetkan warga sipil dan fasilitas publik dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum internasional yang berlaku.

Terkait dugaan pelaku serangan, sejumlah laporan Reuters dan Associated Press menyebut kelompok Houthi mengklaim atau dituding terlibat dalam serangan tertentu. Namun, atribusi terhadap setiap insiden harus merujuk pada keterangan spesifik yang tersedia. Klaim pihak yang bertikai tidak dengan sendirinya menjadi bukti independen mengenai pelaku seluruh serangan.

Bachtiar menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban meninggal dunia dan mendoakan kesembuhan bagi para korban luka. Ia juga menyatakan solidaritas kepada rakyat dan Kerajaan Arab Saudi dalam menjaga keamanan serta kedaulatan wilayahnya.

Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) itu mengajak umat Islam dan alumni Timur Tengah di Indonesia mendoakan keselamatan Tanah Suci serta perdamaian di kawasan Timur Tengah.

“Kami mendoakan stabilitas dan keamanan segera pulih sepenuhnya di Arab Saudi,” ujarnya.

Ia berharap keselamatan warga sipil menjadi prioritas semua pihak sehingga masyarakat setempat, pekerja migran Indonesia, dan jamaah umrah dari berbagai negara dapat menjalankan aktivitas serta ibadah dengan aman. (*)



0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1