LUGAS | BITUNG — Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2026 mencapai puncaknya dengan suasana meriah dan penuh kebersamaan di kawasan Lapangan Satrol Kodaeral VIII, Kota Bitung. Mengusung tema “Together in Harmony”, perhelatan ini menampilkan kekayaan budaya, potensi bahari, serta semangat toleransi masyarakat Bitung sebagai bagian dari daya tarik pariwisata Sulawesi Utara.
Puncak FPSL 2026 dihadiri Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E., Wakil Wali Kota Randito Maringka, S.Sos., Sekretaris Daerah Kota Bitung Rudy Theno, jajaran Forkopimda, perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Kementerian Pariwisata RI, pimpinan BUMN/BUMD, perwakilan konsulat negara sahabat, tokoh agama, pelaku UMKM, insan pariwisata serta masyarakat.
Perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Event, Titi Lestari, memberikan apresiasi terhadap konsistensi Pemkot Bitung dalam mengembangkan FPSL sebagai agenda pariwisata yang memiliki nilai budaya sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Titi, FPSL kembali menunjukkan kualitasnya dengan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) setelah melalui proses kurasi dari ratusan usulan event daerah di Indonesia.
“Dari 650 usulan event se-Indonesia, Festival Pesona Selat Lembeh membuktikan kualitasnya dengan kembali terpilih dalam Karisma Event Nusantara. Event ini bukan sekadar pesta budaya, tetapi wujud rasa syukur masyarakat pesisir yang tumbuh menjadi identitas dan daya tarik wisata unggulan,” ujar Titi.
Ia mengatakan, FPSL juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun sektor pariwisata.
Kementerian Pariwisata, kata dia, memberi perhatian terhadap penerapan konsep pariwisata berkelanjutan, termasuk kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan selama festival berlangsung.
“Semakin pariwisata diperhatikan dan dikembangkan secara kolaboratif, semakin besar dampak berganda yang dihasilkan untuk menyejahterakan masyarakat,” katanya.
Dampak ekonomi FPSL 2026 diharapkan tidak hanya dirasakan selama festival berlangsung. Aktivitas wisata, pameran UMKM, perhotelan, transportasi dan usaha masyarakat pesisir menjadi bagian dari rantai ekonomi yang bergerak seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.
“Together in Harmony” Jadi Pesan Utama
Pemkot Bitung menjadikan tema “Together in Harmony” sebagai pesan utama dalam penyelenggaraan FPSL 2026. Harmoni tidak hanya dimaknai sebagai tema festival, tetapi juga sebagai gambaran kehidupan masyarakat Bitung yang hidup dalam keberagaman.
Sekretaris Daerah Kota Bitung Rudy Theno, mewakili Wali Kota Hengky Honandar, mengatakan Bitung memiliki modal besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata bahari, karena ditopang keindahan alam, kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Kota Bitung adalah rumah kita bersama, sebuah kota yang diberkahi keindahan laut yang memesona, kekayaan budaya yang adiluhung, serta semangat hidup harmonis dalam bingkai keberagaman,” ujar Rudy saat membacakan amanat Wali Kota.
Menurutnya, FPSL menjadi momentum untuk memperkuat citra Bitung sebagai kota bahari sekaligus kota yang terbuka bagi wisatawan dan pelaku usaha.
“Melalui tema ‘Harmoni’, mari kita terus menjaga kebersamaan dan merawat keberagaman. Perbedaan bukanlah pemisah, melainkan pendorong utama untuk menjadikan Kota Bitung semakin maju, harmonis dan sejahtera,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan FPSL sebagai ruang untuk menggerakkan ekonomi lokal.
“Mari kita nikmati FPSL 2026 untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, mendukung UMKM lokal, serta menunjukkan kepada Indonesia bahwa Bitung adalah kota yang ramah dan terbuka bagi siapa saja,” ujar Rudy.
Sailing Pass Meriahkan Puncak FPSL
Kemegahan puncak FPSL 2026 semakin terasa melalui Sailing Pass dan Parade Perahu Hias di perairan Selat Lembeh.
Ratusan armada, mulai dari perahu nelayan tradisional, taksi laut hingga kapal patroli, tampil dengan berbagai ornamen bahari dan kebudayaan daerah. Iring-iringan parade dipimpin armada Satrol Kodaeral VIII bersama unsur TNI AL.
Parade tersebut menjadi salah satu atraksi yang paling menyedot perhatian masyarakat dan wisatawan yang memadati kawasan Dermaga Satrol Kodaeral VIII.
Selain parade bahari, rangkaian FPSL 2026 juga diisi pameran UMKM, pertunjukan seni budaya, Barongsai, tarian daerah, parade busana serta berbagai atraksi wisata bahari.
Penyambutan pimpinan daerah turut diwarnai pertunjukan tari perang tradisional Kabasaran, yang menjadi salah satu simbol kekayaan budaya Sulawesi Utara.
Dihadiri Perwakilan Gubernur dan Daerah Tetangga
Puncak FPSL 2026 turut dihadiri Asisten III Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Fransiscus, yang mewakili Gubernur Sulawesi Utara.
Perwakilan Pemprov Sulut tersebut memberikan apresiasi kepada Wali Kota Bitung Hengky Honandar selaku Ketua Umum Panitia beserta seluruh jajaran yang terlibat dalam menyukseskan FPSL 2026.
Kehadiran sejumlah pejabat dan perwakilan daerah lain di Sulawesi Utara turut memperlihatkan FPSL sebagai ruang kolaborasi antardaerah dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Hadir pula perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Dinas Pariwisata Sulawesi Utara, Dr. Triono selaku Plt. Direktur KPLP, perwakilan Konsulat Jenderal Jepang dan Filipina, pimpinan BUMN/BUMD, jajaran Forkopimda, tokoh agama, pelaku UMKM, insan pariwisata dan masyarakat.
Dengan mengusung “Together in Harmony”, FPSL 2026 tidak sekadar menjadi agenda hiburan dan pertunjukan budaya. Festival ini menjadi etalase potensi bahari Selat Lembeh, ruang promosi UMKM, sekaligus panggung yang memperlihatkan wajah Bitung sebagai kota yang terbuka, toleran dan memiliki kekayaan budaya serta pariwisata yang layak diperhitungkan di tingkat nasional hingga internasional.
TabloidLugas.com







