728x90 AdSpace

  • Latest News

    Tradisi "Larungan" Pacu PAD Wisata Telaga Ngebel

    LUGAS | Ponorogo  - Ritual larung sesaji yang digelar masyarakat adat di Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, memacu pertumbuhan wisatawan ke daerah itu sehingga berimbas pada capaian pendapatan asli daerah (PAD) sebesar 20 persen dari target.

    "PAD yang berhasil diserap selama sehari pelaksanaan tradisi 'larungan' (larung sesaji, red) saja diperkirakan menyumbang 20 persen dari total target PAD 2015 yang diproyeksikan sebesar Rp475 juta," ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Sapto Jatmiko kepada Antara, Minggu.

    Jumlah itu, lanjut dia, dihitung berdasarkan volume kunjungan wisatawan yang terpantau dari pembelian retribusi masuk objek wisata Telaga Ngebel.

    Menurut Sapto, volume kunjungan wisatawan lokal, domestik maupun sebagian mancanegara pada ritual larung sesaji hasil bumi yang juga dikenal sebagai puncak acara "Garebek Suro" mencapai sekitar 7.000-an orang.

    Dengan nilai retribusi untuk setiap wisatawan sebesar Rp10 ribu, ditambah retribusi kendaraan roda dua, roda empat serta persewaan aset pesanggrahan, perahu wisata maupun lainnya, PAD yang terkumpul dalam satu hari kegiatan larung sesaji ditaksir lebih dari Rp100 juta.

    Nilai itu belum termasuk peredaran uang di sekitar Telaga Ngebel, baik dari sektor penjualan aneka makanan dan minuman, persewaan perahu wisata dan speed boat, hingga persewaan hotel ataupun jenis penginapan lainnya.

    "Saat ini PAD wisata Telaga Ngebel saja sudah mencapai 120 persen dari target. Jumlah itu masih akan terus meningkat dan diharapkan hingga akhir tahun ini bisa tembus 130 persen atau lebih," ujarnya.

    Wisata Telaga Ngebel dikenal sebagai salah satu ikon Kabupaten Ponorogo, setelah kesenian Reog.

    Terletak di lereng Gunung Wilis, dan berada di perbatasan antara Ponorogo, Madiun dan Jombang, danau alami yang diperkirakan berusia ribuan tahun tersebut menjadi primadona wisatawan karena objek wisata ini menyuguhkan pemandangan telaga dengan panorama hutan lindung yang masih alami.

    Daya tarik Telaga Ngebel semakin terdongkrak semenjak masyarakat adat di delapan desa sekitar danau ini, pada 1993 bersepakat untuk menggabungkan ritual bersih desa setiap pergantian tahun baru Islam (sama dengan pergantian tahun dalam penanggalan Jawa) digabungkan menjadi satu dalam acara ritual larungan di Telaga Ngebel tersebut.
    (Antara Jatim)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Tradisi "Larungan" Pacu PAD Wisata Telaga Ngebel Rating: 5 Reviewed By: Al Qowiyyi
    Scroll to Top