Deklarasi ANAS Dinilai IJABI Memicu Kebencian Antar Kelompok Masyarakat

Deklarasi ANAS (Aliansi Nasional Anti Syiah), foto.dok.salam-online
TABLOIDLUGAS.COM | Bandung - Sejumlah ulama pada hari Minggu (20/4/2013) mendeklarasikan gerakan ANAS atau Aliansi Nasional Anti Syiah) di Masjid Al Fajr, Buah Batu, Bandung, dengan penekanan pada desakan agar pemerintah segera melarang penyebaran paham Syiah.

Salah satu poin dalam deklarasi itu menyebut,“Mendesak pemerintah agar segera melarang penyebaran paham dan ajaran Syiah serta mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, dan lembaga yang terkait dengan ajaran Syiah di seluruh Indonesia.

Deklarasi ANAS dibacakan oleh Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M. Da’i, MA.

Inilah isi lengkap deklarasi ANAS:

Bismillaahirrahimaanirrahiim

Bertitik tolak dari fakta:
  • Bahwa ajaran Syiah menurut keyakinan umat Islam merupakan paham yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As Sunnah.
  • Bahwa kelompok Syiah di Indonesia semakin berani dan semakin masif mempropagandakan paham dan ajarannya lewat segala macam cara, di antaranya dengan taqiyyah (munafiq), baik melalui pendidikan, sosial kemasyarakatan, maupun politik.
  • Bahwa telah terjadi keresahan di berbagai daerah yang menimbulkan konflik horizontal sebagai akibat progresivitas penyebaran Syiah, penolakan umat serta pembiaran politik terhadap pengembangan ajaran sesat Syiah.
Maka dengan mengucapkan bismillaah dan bertawakkal hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kami para ulama, habaib, asatidz, pimpinan ormas Islam, pondok pesanten dan harakah yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah sepakat menyatakan komitmen dan tekad kami:
  • Menjadikan lembaga Aliansi Nasional Anti Syiah sebagai wadah dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
  • Memaksimalkan upaya preventif, antisipatif, dan proaktif membela dan melindungi umat dari berbagai upaya penyesatan akidah dan syariah yang dilakukan oleh kelompok Syiah di Indonesia.
  • Menjalin ukhuwah Islamiyah dengan berbagai organisasi dan gerakan dakwah di Indonesia untuk mewaspadai, menghambat, dan mencegah pengembangan ajaran sesat Syiah.
  • Mendesak pemerintah agar segera melarang penyebaran paham dan ajaran Syiah serta mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, dan lembaga yang terkait dengan ajaran Syiah di seluruh Indonesia
Demikian komitmen dan tekad kami. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat, karunia, inayah, taufiq, dan hidayah-Nya. Aamiin Yaa Allah, Yaa Rabbal ’aalamiin.

Bandung, 20 Jumadits Tsaniyyah 1435 H / 20 April 2014 M
Pengurus Harian: KH Dr Athian Ali M. Da’i, Lc, MA
Dewan Pakar: KH Atif Latifulhayat, SH, LLM, PhD
Majelis Syuro’: KH Abdul Hamid Baidlowi

Terhadap Deklarasi ANAS, Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jawa Barat Hesty Rahardja telah melaporkan acara ini ke Polda Jabar, ditembuskan ke Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan MUI Jabar. Hal itu dikarenakan terkait adanya kata ‘anti’ dalam acara yang dilangsungkan. Menurutnya, kata itu bisa memicu kebencian antara kelompok satu dengan kelompok lain dalam masyarakat serta memicu konflik horisontal mengatasnamakan agama. (L/AgusW)

Meski Sudah Almarhum, Caleg Ini Menang Telak

TABLOIDLUGAS.COM | Palembang - Sungguh mengejutkan caleg yang sudah meninggal dunia atas nama H Nur Iswanto SH MH, caleg DPR RI nomor urut 1 dari Parpol Gerindra menang telak di Kecamatan Lubukraja dengan perolehan 403 suara.

Bahkan total perolehan suara H Nur Iswanto di Kabupaten OKU menempati nomor urut dua dengan perolehan suara 2.705 setelah caleg nomor urut 9 atas nama Ir Sri Meliyana dengan perolehan suara 5.571 suara.

Hasil suara yang diperoleh oleh Nur Iswanto ini memang menjadi pembicaraan hangat di Kabupaten OKU.

Sejumlah warga OKU khususnya pedagang di Pasar Pasar Tradisional di Kota Baturaja mengaku tidak mengenal sosok Nur Iswanto.

”Idak kenal. Cuma tiap ke pasar tejingok posternya besak niak di pasar kito coblos bae,” aku pedagang sayur di Pasar Lama Baturaja dalam bahasa daerah.

Sementara beberapa warga lainnya mengaku bingung mau mencoblos siapa karena tidak ada yang kenal.

(L/tribunnews)

Masjid M Ramadhan Diambil Alih Masyarakat dari Kelompok Garis Keras

TABLOIDLUGAS.COM | Bekasi - Pengambilan alih Masjid Muhammad Ramadhan di Perum Kompek Galaxy, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan menjadi Masjid Raya Kecamatan Bekasi Selatan diwarnai tembakan peringatan.

Potensi keributan saat proses pengambilan alih sudah diantisipasi oleh pihak kepolisian. Itu sebabnya, sejak Minggu (20/4/2014) pagi, anggota Polisi bersama SatPol PP sudah melakukan penjagaan.

Menurut keterangan dari seorang warga sekitar bernama Mustofa (47), awalnya pengambilan alih masjid berlangsung aman. Namun tiba-tiba saja memanas dan memicu keributan hingga petugas kepolisian terpaksa membuang tembakan peringatan.

"Dari pagi masjid ini sudah dapat penjagaan dari polisi. Ributnya pas siang tadi, saya dengar suara tembakan peringatan empat kali dan saya serta beberapa teman berlarian ke arah masjid melihat apa yang terjadi ternyata ada ribut-ribut," tegas Mustofa.

Rekan dari Mustofa, Almin juga mengatakan adanya tembakan peringatan sebanyak empat kali. Lalu ada massa dari ormas yang berpakaian hitam mendaratkan pukulan ke jemaah masjid.

"Saya lihat orang pakai baju hitam memukul jemaat masjid. Itu langsung dilerai polisi dan dibawa ke Polsek Bekasi Selatan," kata Almin.

Ratusan anggota kepolisian sejak pagi hingga siang hari ini, Minggu (20/4/2014) melakukan penjagaan di sekitar Masjid Muhammad Ramadhan di Perum Kompek Galaxy, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan.

Pantauan Tribunnews.com, dua truk polisi terparkir di sekitar masjid, beberapa personel itu pun tersebar tidak hanya fokus di masjid tapi juga di sekitar lingkungan masjid.

Selain mendapatkan penjagaan dari pihak kepolisian, puluhan anggota SatPol PP Kota Bekasi juga bersiaga di Kecamatan Bekasi Selatan yang letaknya persis di samping masjid tersebut.

Informasi yang dihimpun Tribunnews.com, penjagaan terhadap masjid tersebut berkaitan dengan pengambilan alih Masjid Muhammad Ramadhan menjadi Masjid Raya Kecamatan Bekasi Selatan.

Beberapa pihak yang turut hadir yakni : Camat Bekasi Selatan, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) lama, Ormas Front Pembela Islam ( FPI ) Bekasi Raya.

Hadir pula Forum Silturahmi Warga Nady'in ( Foswan ), ormas Forum Betawi Rempug ( FBR ) Bekasi Selatan, Pendekar Banten, Front Pemuda Muslim Maluku ( FPSM ) dan perwakilan warga RW 12, 13 dan 14 Kelurahan Pekayon Kecamatan Bekasi Selatan.

Adanya pengalihan Masjid Muhammad Ramadhan dilakukan karena keinginan warga masyarakat setempat serta surat tembusan dari Wali Kota Bekasi dan disampaikan ke Camat Bekasi Selatan pada Warga Bekasi Selatan RW 12, 13,dan 14.

(L/Theresia/Tribunnews)

SDA: Ormas Islam Ingin Konflik PPP Bisa Diselesaikan


TABLOIDLUGAS.COM | Jakarta - "Mereka (Ormas Islam, red) berharap agar konflik bisa diselesaikan karena harus menyiapkan proses Pemilu presiden," ujar Surya Dharma Ali, akrab dipanggil SDA, Ketua Umum PPP. Ormas Islam yang dia maksud adalah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Syarikat Islam dan Persis.

Konflik PPP bermula ketika Surya Dharma Ali memberikan dukungan pencapresan Prabowo dalam sebuah kampanye Pemilu Legislatif (Pileg) Partai Gerindra di Senayan, dan dilanjutkan pasca pelaksanaan Pileg.

Kubu Sekjen PPP Romahurmuziy (Romi) kemudian menggelar Rapimnas untuk memberhentikan sementara Ketum PPP Suryadharma Ali (SDA) sehari setelah mendukung Gerindra. SDA tegas menyatakan Rapimnas yang dilakukan Romi Cs itu liar.

"Rapimnas itu liar, ketua umum tidak bertanggungjawab kepada Sekjen. Ketua umum hanya bertanggungjawab kepada muktamar," kata SDA di kantor DPP PPP, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (20/4/2014).

Penyataan ini disampaikannya sesaat sebelum meninggalkan kantor partai berlambang Ka'bah. Ini adalah kedatangan pertama kali SDA ke DPP PPP setelah diberhentikan melalui Rapimnas yang digagas kubu Romi Cs. SDA tiba pada pukul 19.30 WIB dan meninggalkan kantor DPP PPP pada pukul 22.00 WIB.

Dia menjelaskan, sesuai aturan Rapimnas yang sah harus dilaksanakan bersama dengan ketua umum. SDA mengkritik Romi Cs karena melaksanakan Rapimnas tanpa persetujuan dirinya.

"Forumnya liar karena tidak dilaksanakan ketua umum, organisasi ada aturannya tidak bisa seenaknya," ujarnya dengan nada datar. (L/det)

Gayus Tambunan: Jokowi Tak Terbendung

TABLOIDLUGAS.COM | "Kalau lihat dukungan, Jokowi sudah nggak ketahan, nggak terbendung... Aku ikut arus sajalah," ujar Gayus Tambunan, terpidana 7 tahun penjara kasus korupsi perpajakan. (L)

Tips Memilih Capres a La Nazarudin

TABLOIDLUGAS.COM | "Jangan pemimpin yang pura-pura baik, makin dia banyak mengaku baik, makin banyak bohongnya. Nanti malah ngerampok uang rakyat lebih banyak lagi,"ujar M. Nazarudin, SALAH SATU koruptor dana Wisma Atlet.

Microsoft Berikan Penghormatan Terakhir untuk Bliss

TABLOIDLUGAS.COM | "Saya senang mengetahui bahwa orang-orang senang dengan melihat itu, melihat sebuah foto yang saya ambil," ujar Charles O'Rear, pemilik karya cipta "Bliss" yang menjadi salah satu wallpaper legendaris Windows XP.

Microsoft mengungkap asal muasal tampilan latar (wallpaper) legendaris Windows XP "Bliss", dengan merilis video wawancara sang fotografer Charles O'Rear, pasca pernyataan Microsoft yang secara resmi telah menghentikan layanan dukungan Windows XP.

Setelah Microsoft menghentikan layanan dukungan untuk Windows XP, rilis video tersebut seakan menjadi cara penghormatan untuk kesan yang terus akan dikenang, seperti dilansir Daily Mail, Sabtu (12/04/14).

O'Rear adalah mantan fotografer National Geographic. Dia menceritakan bahwa dia menemukan pemandangan indah dengan rumput  sempurna dan langit bersih, saat dalam perjalanan melewati Napa Valley untuk mengunjungi pacarnya di San Francisco pada 1996.

Uniknya, kata O'Rear, meskipun foto tersebut menggambarkan keadaan lingkungan yang tenang, sebenarnya daerah tersebut adalah jalan paling berbahaya dan lalu lintasnya tersibuk.

Meskipun kondisi jalan yang berbahaya, dia dapat mengambil gambar yang mendeskripsikan ketenangan. Dia menggunakan film lama untuk kamera manual dan memotret momen terkenal itu di 1996 .

Ketika dia mengambil gambar, kata O'Rear terdapat beberapa awan di langit. Namun, ketika dia pertama kali menyaksikan pengaturan laik foto itu, langit itu benar-benar bersih.

Beberapa tahun kemudian, Microsoft menginginkan foto itu untuk tampilan Windows XP, seperti dilaporkan Time. Mereka ingin O'Rear langsung datang secara pribadi ke kantor Microsoft untuk memberikan foto.

"Aku tidak tahu waktu itu kemana akan pergi," kata O'Rear dalam video wawancara yang dikutip Daily Mail.

"Sekarang, siapa saja dari yang berusia 15 akan ingat foto ini sampai sisa hidup mereka," kata O'Rear. (L)

Makin Stres, Caleg Gagal Terancam Diceraikan Istrinya

TABLOIDLUGAS.COM | Kupang - Nasib seorang calon anggota legislatif di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sungguh sial. Sudah gagal lolos menjadi wakil rakyat dalam pemilu legislatif, Rabu, 9 April 2014, dia masih harus menghadapi ancaman cerai dari istrinya.

Sang istri merasa sangat kecewa. Bahkan keduanya terlibat dalam pertengkaran setelah mengetahui perolehan suara sang caleg jeblok, sehingga tidak memungkinkannya duduk di DPRD Kota Kupang. Sebagian harta mereka ludes dijual untuk kepentingan pencalonan. Sepeda motor dan barang tidak bergerak lainnya telah dilego. Bahkan rumah mereka pun telah digadaikan ke orang lain.

“Saya bingung kenapa hasilnya hanya begini, padahal selama sosialisasi saya punya harapan besar,” kata caleg dari daerah pemilihan Kecamatan Alak, Kota Kupang, itu. Dia menolak identitasnya dipublikasikan. Dia juga tidak mau menyebutkan nama istrinya.

Penjualan sebagian harta, termasuk penggadaian rumah, sudah dia sepakati bersama dengan istrinya. “Setelah gagal, istri saya justru minta cerai dengan alasan mau tinggal di mana karena tidak bisa menebus rumah yang telah digadaikan,” ujar sang caleg.

Sang caleg juga menanggung malu. Perolehan suaranya tidak sesuai dengan janji tim pemenangan yang dibentuknya. Timnya sesumbar dia bakal meraih jumlah suara yang signifikan dan lolos menjadi anggota DPRD Kota Kupang.

Salah satu tetangga caleg malang itu, Marten, mengatakan pertengkaran suami-istri itu berkaitan dengan rumah mereka yang digadaikan ke pihak lain. Sebab, jika rumah itu tidak ditebus dalam waktu dekat, mereka bakal kehilangan tempat tinggal. "Pertengkaran suami-istri itu sempat menjadi tontonan warga," ucapnya.

(L/Tempo)

Caleg Stres, Ngomel hingga Telanjang

TABLOIDLUGAS.COM | Pondok Pesantren Dzikrussyifa Asma Berojomusti, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, sudah menangani sedikitnya 40 calon legislatif yang mengalami stres setelah pemilu legislatif 9 April lalu. Saat diterapi kejiwaan di pondok pesantren, mereka ada yang marah-marah, diam, bahkan telanjang sambil teriak-teriak. "Saya prihatin," ujar pimpinan Pondok Pesantren Dzikrussyifa Asma Brojomusti, K.H. Muzzakin, pada media ini, Minggu, 13 April 2014.

Menurut Muzzakin, 46 tahun, 40 orang caleg itu datang dari pelbagai tempat di Tanah Air, mulai dari Pontianak, Kalimantan Barat, Lampung, Jakarta, dan Banten. Juga dari Pekalongan, Jawa Tengah, Malang, Sidoardjo, Surabaya, Gresik, dan Lamongan. Dari 40 orang tersebut, ada tiga orang yang justru lebih dahulu datang sebelum pencoblosan pemilu legislatif 9 April 2014.

Para caleg yang stress ini sebagian tidak tahan dengan tekanan mental yang kuat. Misalnya, kalah karena tidak lolos jadi anggota legislatif, kemudian mengeluarkan biaya besar, rasa malu dan hina yang berlebihan, serta harapan tinggi yang tidak tercapai. Dampaknya, para caleg ini mengalami perubahan kejiwaan dan cenderung kosong pikirannya.

Kyai Muzzakin mencontohkan, karena pikirannya kosong, maka orang bersangkutan dipengaruhi hal-hal yang berkaitan dengan dunia jin dan setan. Contohnya, ada caleg dari Kabupaten Sidoardjo mengalami goncangan jiwa yang hebat. Suka teriak-teriak, ngomel, dan kemudian telanjang. Belakangan diketahui caleg ini mengaku sudah mengeluarkan uang Rp 700 juta yang diberikan ke tim suksesnya. Namun, uang sebesar itu habis dan caleg bersangkutan tidak lolos menjadi anggota DPRD Sidoardjo. "Yang sukses timnya, sementara orangnya stres," katanya.

Contoh lain, ada beberapa caleg yang juga mengalami goncangan jiwa. Seperti dari beberapa orang dari Jawa Timur, yang datang berobat di pondoknya, berperilaku ganjil. Ada yang datang ke pondok pesantrennya dengan posisi diam dan tidak mau diajak bicara. Kemudian, ada yang ngomel-ngomel sendiri hingga menangis. Tak hanya itu, ada juga caleg yang tiba-tiba menggunakan jas, lengkap dengan tas, dan pakaian rapi. Mereka ini layaknya seperti sudah terpilih menjadi anggota Dewan.

Menurut Kyai Muzzakin, sebanyak 40 orang tersebut, datang secara bergiliran. Misalnya, pasien yang sempat telanjang dari Sidoardjo kini sudah pulang. Demikian juga dari Banten, Malang, dan Pekalongan juga sudah pulang. Kini masih ada enam caleg yang masih berada di pondok pesantrennya.

Muzzakin berharap dalam satu pekan ini para caleg itu bisa cepat sembuh sedia kala. Sebab, sebagian caleg ini mengalami problem kejiwaan karena ingin meraih cita-cita, tetapi belum tercapai. Makanya, untuk melakukan terapi, dirinya mengaku harus sabar. "Saya berusaha untuk menenangkan kejiwaannya," ujarnya.

Terapi untuk caleg yang gagal ini tidak satu dua kali ini saja. Sebab, setelah Pemilu 2009 lalu, Muzzakin  juga memberikan pengobatan terhadap 23 caleg yang gagal menjadi anggota Dewan. "Jadi, bukan ini saja," ucapnya.

(L/Tempo)

Bersiap Hadapi #Tragedi_UN, Siswa SMA di Palembang Beli Jawaban UN Rp 7 Juta

TABLOIDLUGAS.COM | Palembang - Ujian Nasional (UN) 2014 tingkat SMA sederajat dimulai Senin (14/4/2014), hingga Rabu (16/4/2014).

Meski berbagai upaya sudah dipersiapkan, ternyata tidak semua siswa yakin bisa mengatasi UN dengan pengetahuan yang diperoleh selama belajar di sekolah.

Ratusan siswa di Kota Palembang, Sumatera Selatan, bahkan rela mengumpulkan uang Rp 7 juta dengan cara patungan, untuk membeli kunci jawaban semua mata pelajaran dan paket soal.

Kunci jawaban itu, didapat dari seseorang yang disebut oknum pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pendidikan (Disdik) setempat.

RD, siswa SMA Negeri di Palembang, mengaku jadi koordinator di kelasnya untuk mengumpulkan uang tersebut.

Dia mendapatkan informasi tentang peluang mendapatkan kunci jawaban ini, dari siswa kelas lain di sekolahnya yang berhubungan langsung dengan penyedia kunci jawaban itu.

"Saya bersama lima koordinator kelas lain mengadakan rapat untuk menentukan kunci jawaban dengan biaya berapa yang akan diambil," katanya.

Ia menuturkan, kunci jawaban tersebut ditawarkan dalam beberapa kelompok harga dan berbeda penyedianya.

Termurah, kunci jawaban itu dijual seharga Rp 750.000. Ada pula yang seharga Rp 5 juta, Rp 7 juta, Rp 15 juta, hingga Rp 31 juta. Namun, mereka sepakat membeli kunci jawaban yang harganya Rp 7 juta.

"Itu paling standar dan kami berharap dengan harga yang tidak terlalu murah ini, jawabannya juga benar-benar valid," jelasnya.

Setelah sepakat membeli, kata RD, setiap siswa di kelasnya membayar Rp 50.000 sehingga terkumpul Rp 2 juta dari 40 siswa. Uang tersebut, diserahkan pada pemberi informasi awal dan saat itu terkumpul sekitar Rp 10 juta dari enam kelas yang ada di sekolahnya.

Setelah terkumpul, uang tersebut dikirim ke rekening oknum tersebut sebesar Rp 7 juta. "Sisa uangnya Rp 1 juta kami berikan pada siswa yang jadi perantara, sisanya untuk biaya print yang tiap kelas dilakukan delapan siswa," ujarnya.

RD dan teman-temannya, belum sekali pun bertemu dengan orang yang disebut oknum tersebut. Meski demikian, mereka yakin siswa yang menjadi perantara tidak berbohong.

Kunci jawaban akan dikirim melalui email oknum tersebut ke email siswa perantara. Sesuai perjanjian, oknum akan mengirim kunci jawaban pada Senin (14/4) dini hari, sekitar pukul 00.00-03.00.

Setelah menerima kiriman kunci jawaban, siswa perantara akan mengirimkan kembali (forward) email tersebut ke email perwakilan atau koordinator setiap kelas.

"Tiap kelas dipercayakan delapan siswa untuk mencetak (print) kunci jawaban tersebut untuk besok paginya dibagikan ke seluruh siswa di kelas," jelasnya.

(L/Kompas)

Tidak Terpilih, Caleg di Nabire Blokir dan Rusak Kantor Kelurahan

TABLOIDLUGAS.COM | Seorang Caleg di Nabire Papua melampiaskan amarahnya dengan memblokir perumahan dan merusak kantor kepala desa akibat gagal menjadi anggota legislatif pada  (Pileg) 2014,  9 April kemarin.

Anselmus Petrus Youw, yang mencalonkan diri melalui Partai Amanat Nasional (PAN) dan juga mantan Bupati Nabire tersebut kecewa kepada warga karena tidak memilihnya, padahal ia telah merelakan tanahnya untuk dijadikan perumahan.

Menurut Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo, mengamuknya caleg tersebut karena tidak dipilih warga sehingga bersama puluhan pendukungnya merusak perumahan, pangkalan ojek dan kantor kepala desa.

 “Beberapa orang masuk rumah sakit,” Ujar Sulistyo Pudjo.

Ditambahkan Pudjo, sebelum pencoblosan para pendukung Anselmus juga sempat melakukan pengancaman  kepada  petugas TPS dan ketua RT setempat agar warga mencoblos caleg yang didukung mereka. (L/Care)

Catatan Akhir Pekan: Tukang Survei *

Oleh: Moh Mahfud MD

Kekeliruan, bahkan kesalahan, berbagai hasil survei politik kembali terjadi secara mengejutkan ketika pada 9 April 2014, sekitar jam 17.00 WIB, hasil quick count (hitung cepat) pemungutan suara untuk pemilu legislatif (pileg) diumumkan.

Ternyata, kembali terjadi perbedaan yang tajam antara hasil-hasil survei sebelumnya dengan hasil hitung cepat seperti yang terjadi pada Pilgub DKI Jakarta pada 2012. Pada Pilgub DKI Jakarta, sampai hari-hari terakhir menjelang pemungutan suara, hampir semua hasil survei menyebut Foke-Nara sebagai pemenang signifikan. Tetapi, hasil pilgub membuktikan kesalahan berbagai survei karena yang menang ternyata Jokowi-Ahok, pasangan calon yang sebelumnya diremehkan berbagai survei. Pada Pileg 2014 kesalahan-kesalahan hasil survei tampak mencolok juga.

Partai-partai berbasis massa Islam yang semula diduga akan terkubur karena merosotnya kepercayaan masyarakat ternyata meningkat secara mengejutkan dengan kumulasi perolehan sampai sekitar 31%. Partai Golkar yang semula diunggulkan dengan kisaran suara 19% ternyata hanya meraih 15%. Perolehan PDIP terpaut signifikan dari hasil survei maupun targetnya. Kejutan perlawanan hasil hitung cepat terhadap hasil-hasil survei sebelumnya tampak jelas pula pada beberapa partai.

Partai NasDem yang oleh banyak survei dilihat secara pesimistis karena untuk mendapat 3,5% saja dianggap susah ternyata mendapat hampir 7%, menyamai partai lama, Partai Persatuan Pembangunan yang juga mengalami kenaikan sedikit. PKS yang karena terpaan isu korupsi hanya akan bertahan pas-pasan di dekat parliamentary threshold, ternyata mampu bertahan di posisinya pada kisaran 7%. PKB pun meroket secara mengejutkan dari perolehan Pileg 2009 sebesar 4,8% menjadi sekitar 9,1%.

Padahal sebelum pileg banyak survei yang selalu meletakkan PKB pada perolehan sekitar 4%, bahkan ada yang tega meletakkan di bawah parliamentary threshold 3,5%. Ada juga yang memang mendekati hasil survei yakni fakta bahwa PBB dan PKPI benar-benar tidak masuk ke parliamentary threshold. Begitu pula, meski angkanya kurang akurat, hasil survei menyatakan bahwa Partai Demokrat akan terjun bebas sesuai hasil pileg karena terjun dari 20% ke kisaran 9%. Hasil-hasil survei politik belakangan ini memang banyak yang meleset sehingga tak lagi bisa dijadikan pegangan sebagai produk kerja ilmiah yang logis dan predictable.

Hasil survei dan hasil pemilihan yang sesungguhnya kerapkali berbeda secara mengejutkan. Kalau metodologinya benar, mestinya hasil-hasil survei lebih banyak benarnya daripada salahnya, bahkan tingkat kesalahannya sudah bisa diukur sebelumnya oleh metode dan hasil survei itu sendiri yang dibatasi dengan margin tertentu. Ketika itu ditanyakan kepada pembuat survei, jawaban yang sama selalu dikemukakan bahwa hasil survei hanya memotret pada saat dilakukan survei dan bisa berubah pada saat-saat akhir.Ya, juga sih.

Survei memang potret saat dilakukan wawancara. Tetapi, tentu itu bukan jawaban yang tepat. Kalau jawabannya hanya begitu, ya tak perlu survei-surveian segala. Mestinya ada metode agar perbedaan itu tak terjadi dengan sangat mencolok. Mungkin benar yang dikatakan Dradjad Wibowo, banyak intelektual dan lembaga survei yang belakangan ini melacurkan diri, tidak melakukan survei dengan cara-cara profesional-ilmiah sehingga survei lebih banyak melesetnya atau malah dipelesetkan asal mendapat uang. Sekarang ini banyak lembaga survei yang mengerjakan survei sudah didahului dengan tendensi politis tertentu.

Bahkan ada penyurvei yang membawa lembaganya untuk menjadi tim sukses atau konsultan salah satu kontestan dalam sebuah kontestasi politik. Berusaha seobjektif apa pun, kalau sudah menjadi tim sukses atau konsultan suatu kontestan, akan menyebabkan hasil survei tak lagi akurat karena akan diarahkan membentuk dan menggiring opini untuk menguntungkan kliennya. Waktu saya masih ketua MK, ada pimpinan lembaga survei yang mengurus perkara kliennya yang diperkarakan di MK. Luar biasa. Dalam kenyataan kita sering dikagetkan oleh munculnya satu lembaga survei secara tiba-tiba yang kiprahnya belum pernah terdengar.

Tiba-tiba lembaga ini memasukkan nama orang yang tadinya ada di luar pusaran tokoh-tokoh populer menjadi bagian dari tiga atau lima besar. Kemasan metodologinya okey juga, tetapi substansinya tak masuk akal. Kemasan yang dipergunakan misalnya menyebut melibatkan 1500 orang di 33 provinsi yang diwawancarai secara langsung dengan toleransi kesalahan 2% dan berbagai tetek bengek kemasan lainnya. Dari kemasan yang seakanakan ilmiah itu dimunculkanlah orang yang sebenarnya tidak masuk dalam survei atau tidak pernah disurvei.

Itulah sebabnya banyak hasil survei yang tak sesuai hasil pemilihan yang sesungguhnya. Membaca fakta maraknya penyurvei yang instan dan tak jelas belakangan ini saya teringat pernyataan Gus Dur pada awal 1990-an bahwa di Indonesia banyak sekali ilmuwan tukang yakni ilmuwan yang menggunakan kepandaiannya untuk menukangi temuan ilmiah sesuai pesanan.

Sekarang pun banyak penyurvei dan lembaga survei yang tidak bekerja pada prinsip objektivitas-ilmiah, tapi bekerja sesuai pesanan. Mereka menukangi rencana dan hasil survei agar sesuai keinginannya sendiri atau pesanan klien sehingga lebih tepat disebut sebagai tukang survei atau ahli menukangi survei. []

*
Direlay dari KORAN SINDO, 12 April 2014
Moh Mahfud MD ; Guru Besar Hukum Konstitusi

Sejumlah Caleg Menarik Kembali Sumbangan untuk Masjid

TABLOIDLUGAS.COM | Polman - Panitia renovasi Masjid Al Aqsha di Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, kebingungan lantaran harus mengembalikan uang sumbangan dari sejumlah calon anggota legislatif yang diduga gagal. Padahal, uang tersebut sudah masuk ke kas masjid dan diumumkan ke publik.

Muhammad Daming, bendahara Masjid Al Aqsha, mengaku pihaknya menerima sumbangan dari sejumlah caleg dengan total Rp 7,5 juta. Namun setelah pemungutan suara pada 9 April kemarin, tiba-tiba sejumlah caleg meminta agar uang sumbangan itu dikembalikan.

"Sumbangannya sudah dimasukkan ke kas dan diumumkan ke publik bahwa ada caleg yang menyumbang ke masjid. (Namun) saya heran ternyata (sumbangan) diminta kembali," ujar Muhammad Daming kepada redaksi, Jumat (11/4/2014).

Menurut Daming, kendati sumbangan tersebut telah dialokasikan untuk renovasi Masjid Al Aqsha yang kini tengah berjalan, pihaknya siap mengembalikan uang tersebut.

"Hanya saja syaratnya, saat pengembalian, semua pengurus masjid, tim sukses, dan caleg bersangkutan duduk satu lokasi agar tak menimbulkan fitnah di kemudian hari," ucap Daming.

Rekan Daming yang juga panitia renovasi masjid, Yadi, mengaku heran, dana sumbangan yang semula diberikan sang caleg sebelum pemilu dengan alasan ikhlas membantu renovasi, belakangan ternyata diminta kembali.

Yadi bingung dan tak mengerti, apa alasan sang caleg meminta sumbangannya dikembalikan.

“Kalau ikhlas menyumbang ke masjid, mestinya tak diminta kembali. Kan sudah disumbangkan dan diumumkan secara terbuka,” kata Yadi.

Baik Muhammad Daming maupun Yadi menyatakan sepakat mengembalikan sumbangan dengan pamrih tersebut kepada sejumlah caleg. Menurut mereka, sejumlah pengurus masjid lainnya pun merasa malu dengan ulah para caleg tersebut.

(L/Kompas)

Caleg Demokrat Minta Kompor Gasnya Dikembalikan

TABLOIDLUGAS.COM | Parepare - Karena sudah yakin tak bakal lolos, Andi Farida Soewandi, caleg DPRD asal Demokrat di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, meminta kembali kompor gas yang pernah dibagikan ke puluhan warga di Kelurahan Batang Rappe, Kecamatan Bacukiki, tiga hari sebelum hari pencoblosan. Zaenal, salah seorang warga, mengemukakan, kompor dari tim caleg gagal tersebut diterimanya dengan kesepakatan bahwa dia harus mencoblos caleg tersebut pada hari pencoblosan.

"Padahal saya coblos caleg itu. Tapi tidak puas dan mengharuskan saya dengan istri ikut coblos caleg yang sama. Lah bagaimana, kita juga sudah terima pemberian dari caleg lain, jadi kami bagilah suara. Apalagi tidak ada perjanjian harus lebih satu suara," katanya, Jumat (11/4/2014).

Zaenal mengaku, saat kompor gas tersebut ditarik, dia tengah melayani pelanggannya yang hendak minum kopi.

"Saya bersama istri sedang masak pakai kompor pemberian caleg tersebut. Tiba-tiba salah seorang tim caleg datang meminta agar kami mengembalikan kompor tersebut. Padahal, kompornya tengah kami pakai buat masak air karena kami ada pelanggan yang pesan kopi," ujarnya.

Karena merasa dipermalukan, Zaenal mengaku marah dan langsung membanting kompor tersebut di depan tim caleg tersebut.

"Saya jengkel karena dipermalukan. Makanya saya banting kompornya. Saya diancam dilapor ke polisi, tapi saya tidak takut," tekannya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Kompas.com, caleg tersebut membagikan sekitar 50 kompor gas kepada warga yang tersebar di 3 TPS berbeda, yakni di TPS 11, 13, dan 14. Hingga diturunkannya berita ini, belum ada konfirmasi dengan pihak caleg bersangkutan karena sulit dihubungi. 

(L/Kompas)

Tak Mencapai Target, Caleg PAN Minta Warga Kembalikan Rp 50.000

TABLOIDLUGAS.COM | Kolaka - Tiga orang warga Kelurahan Sabilambo, Kolaka, Sulawesi Tenggara, mendatangi kantor Panwas Kolaka, Jumat (11/4/2014). Lukaman, Helmiati, dan seorang lagi yang namanya enggan disebutkan datang untuk melaporkan Susilia Subardi, calon anggota legislatif Partai Amanat Nasional (PAN) dari dapil II Kolaka.

Mereka merasa terintimidasi oleh caleg tersebut lantaran sang caleg meminta uangnya untuk dikembalikan. Mereka pun dianggap pengkhianat sebab tidak memilih caleg tersebut saat proses pencoblosan beberapa hari yang lalu.

Menurut mereka, kekecewaan caleg berjilbab ini dimulai saat perhitungan suara di TPS para pelapor. Suara yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapan. Sejak itu, lanjut Helmiati, si caleg mulai meminta kembali uang yang telah dikeluarkannya.

“Dia kasih kita itu Rp 50.000 untuk satu kepala pada tanggal 7 April. Dia bilang pilih saya. Pas selesai perhitungan suara, eh uangnya diminta lagi. Katanya kita ini pengkhianat. Uang itu saya kembalikan Rp 100.000 karena saya berdua dengan orang yang di rumah. Setelah itu, saya datang di Panwas ini untuk melapor,” ucap Helmiati.

Hal senada juga disampaikan warga lain, Lukman, yang juga ikut melapor. Menurutnya, saat caleg itu meminta uang kembali, dia pun berharap agar suaranya juga ikut ditarik.

“Saya bilang kalau uang mau kembali suara juga harus kembali. Tapi saya merasa terintimidasi, makanya saya ke KPUD, mereka bilang lapornya ke Panwas. Makanya saya datang kemari,” tambahnya.

Anggota Panwas Kolaka, Lukman, menegaskan menerima sejumlah uang sebagai barang bukti. Panwas akan segera memanggil caleg yang dimaksud untuk dikonfirmasi. Jika terbukti, lanjutnya, maka caleg tersebut akan dikenakan sanksi dan hukuman yang sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Barang bukti ada uang sekitar Rp 300.000. Kami sementara periksa yang melapor. Nanti setelah itu kita panggil lagi caleg yang dilaporkan itu. Kalau terbukti pasti kita hukum sesuai dengan aturan yang ada,” tutupnya.

Sampai saat ini redaksi masih berusaha menghubungi Susilia Subardi untuk mendapat konfirmasi terkait tudingan ini.

(L/Kompas)

Windows XP Resmi Hentikan Layanan Dukungan

TABLOIDLUGAS.COM | Pada 8 April 2014 ini  sistem operasi lawas Windows XP secara resmi 'dipensiunkan' oleh Microsoft. Sistem operasi yang sudah beredar selama 13 tahun itu akhirnya harus digantikan oleh sistem oeprasi yang lebih modern, Windows 7, 8 dan 8.1.

Sejak 2013 lalu, pihak Microsoft tak henti-hentinya mengimbau para pengguna untuk segera beralih dari Windows XP. Pasalnya tanpa dukungan patch dan update keamanan dari Microsoft, Windows XP justru akan menjadi bumerang dan membahayakan pengguna.

Tak hanya Microsoft, hal senada pun diperingatkan oleh Trustwave, perusahaan keamanan komputasi yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat.

Director Truswave Christopher Pogue menjelaskan, dihentikannya patch dan update kemanan oleh Microsoft memungkinkan lubang (bug) keamanan pada Windows XP. Celah itu dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh hacker untuk mengeksploitasi berbagai hal yang ada di PC pengguna. Bahayanya, menurut data yang dimiliki Trustwave, 20 sampai 30% PC di dunia saat ini masih mengadopsi Windows XP.

"Anda menjalankan bisnis dan menggunakan XP; saya akan mengatakan Anda dalam bahaya. Di sini kita berbicara tentang jutaan sistem komputer yang tidak akan lagi menerima update keamanan secara rutin. Itu jelas menyebabkan kepanikan karena adanya kerentanan yang dapat dieksploitasi," papar Pogue seperti dilansir laman China Post, Senin (7/4/2014),

Selain Trustwave, penyedia solusi dan layanan keamanan komputasi Help AG juga turut memperingatkan bahaya penggunaan Windows XP bila masa pensiunnya tiba. Mereka menyebutkan bahwa tanpa update keamanan maka Windows XP akan sangat mudah diretas. Terlebih para komunitas hacker diduga telah mengetahui berbagai celah kemanan yang ada pada Windows XP

Help AG juga meyakini jika saat ini para hacker telah memiliki daftar kelemahan yang ada pada Windows XP. "Tidak adanya perbaikan yang tersedia, daftar kelemahan ini akan membuat penggunaan OS Windows XP berada dalam bahaya. Pengguna XP harus memahami bahwa setelah dukungan berakhir, tidak akan ada perbaikan untuk kelemahan OS," jelas salah satu petinggi Help AG, Nicolai Solling, seperti yang dikutip dari Softpedia.

Tak hanya Microsoft yang menghentikan dukungan keamanan pada waktunya nanti, Solling juga menyebutkan bahwa para pembuat anti virus pun sudah tidak akan lagi memproduksi produk keamanan untuk platform Windows XP. (L)

Caleg PKS Minta Uang “Money Politics” Dikembalikan

TABLOIDLUGAS.COM | Nunukan - Muhammad Jafar, calon anggota legislatif nomor 7 dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), untuk DPRD Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, meminta kembali dana “politik uang” yang disebarnya saat masa tenang.

Tuntutan itu disampaikannya setelah mengetahui perolehan suaranya di TPS 7, Kampung Nelayan Mansapa, Nunukan, hanya dua suara.

Kaharuddin, warga Kampung Nelayan Mansapa, yang ditugasi menyebarkan dana politik uang mengaku terpaksa mengganti uang yang telah diberikan kepada sejumlah warga karena malu menagih kepada warga.

“Dia memberikan saya 23 amplop masing-masing berisi Rp 150.000. Jadi jumlahnya semua Rp 3,45 juta. Dia ngomong minta bantu dicarikan suara di TPS 07 Perumahan Nelayan, Desa Mansapa," kata Kaharuddin, Kamis (10/4/2014).

"Setelah menerima uang, saya serahkan kepada warga sejumlah 27 orang. Saya terpaksa nombok Rp 600.000 karena ada empat warga lagi minta kepada saya,” sambungnya.

Sehari pascapelaksanaan Pemilu 2014, Kaharuddin mengaku mendapat pesan singkat seluler dari Muhammad Jafar yang meminta pengembalian uang kerena Jafar hanya mendapat dua suara di TPS itu.

“Saya telepon dia, dia minta kembali uangnya. Tadi pagi ada suruhan dia mau ngambil uang, tapi tidak saya kasih karena saya mau mengembalikan sendiri,” ujar Kaharuddin.

"Saya enggak mau harga diri saya hilang. Saya tidak mau malu dengan menagih masyarakat. Lebih baik saya bertanggung jawab mengembalikan uang," kata dia lagi.

Menurut Kaharuddin, sebenarnya tidak ada perjanjian bahwa uang harus kembali jika prediksi perolehan suara meleset. "Dia seorang pengusaha rumput laut, saya cuma nelayan rumput laut. Saya takut,” ungkap Kaharuddin.

Dikonfirmasi redaksi, caleg PKS Muhammad Jafar mengakui meminta kembali dana money politics karena kecewa tidak ada pemilih di TPS 07 Kampung Nelayan Mansapa. Dia mengakui telah memberikan uang kepada Kaharuddin karena sebelumnya ada jaminan akan mendapat 23 suara di TPS 07. Uang sebesar Rp 3,4 juta lebih itu dibagi dalam 23 amplop yang masing-masing berisi Rp 150.000. 

(L/Kompas)