Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

Kerusuhan Wamena, Puluhan Tewas dan Ribuan Mengungsi

LUGAS | Pasca kerusuhan di Wamena Jayawijaya Papua (23/9) TNI Angkatan Udara Lanud Silas Papare Jayapura berhasil mengevakuasi ribuan pengungsi dari Kota Wamena menuju Jayapura. Evakuasi dengan  menggunakan dua armada pesawat Hercules dan setiba di Jayapura para pengungsi dijemput keluarga dan kerabat.

Kerusuhan Wamena mengakibatkan jatuhnya banyak korban luka dan tewas akibat terkena berbagai jenis senjata atau tewas dibakar.

Di bawah ini data terkini (update) korban meninggal dunia dan korban dirawat di RSUD pasca kerusuhan yang terjadi pada tanggal 23 September 2019 di Kota Wamena Kabupaten Jayawijaya.

Berdasarkan keterangan dari pihak RSUD Wamena pada hari Selasa tanggal 24 September 2019, diperoleh informasi bahwa jumlah Korban Luka yang dirawat di RSUD Wamena sebanyak 67 orang dengan rincian 34 Orang Asli Papua (OAP) dan 33 orang warga pendatang.

34 korban luka OAP (Orang Asli Papua) itu adalah:
1.  Aman Huby
2.  Firmanus Hiluka
3.  Jhon Payage (22 Th).
4.  Tubel Yelemaken (16 Th).
5.  Ruben Asso (17 Th)
6.  Micu Kogoya (P) 
7.  Maskoro (P, 36 Th).
8.  Melky Payage (16 Th).
9.  Paner Gombo (18 Th).
10.  Repi Kogoya (22 Th).
11.  Airon Kogoya (19 Th).
12.  Kirinus Jikwa (26 Th).
13.  Manu Meage (13 Th).
14.  Litoni Selak (19 Th).
15.  Yus Asso
16.  Teite Weya
17.  Husna Yelipeye (17 Th).
18.  Manda Kogoya (16 Th).
19.  Yangky Wenda (14 Th).
20.  Frans Tabuni (14 Th).
21.  Paulus Tabuni (14 Th).
22.  Dan Matuan 
23.  Istanis Hisage
24.  Nope Kogoya 
25.  Kirinus Jikwa 
26.  Titus Gombo (30 Th).
27. Iropiru Wenda
28.  Daud Matuan
29.  Manu Meage (13 Th).
30.  Omega Kogoya
31.  Budi Wenda
32.  Riki Wanimbo
33.  Anis Siep
34.  Elias

Sedangkan 33 korban luka Warga Pendatang terdiri dari:
1.  Rojul.
2.  Nursa'ada (40 Th).
3.  Iswandari (28 Th).
4.  Rohani (42 Th).
5.  Inayatul Karimah (35 Th).
6.  Falentine Kapitan (14 Th).
7.  M Ibnu Rifky (18 Th).
8.  Ahmad Naje (39 Th).
9.  Joko Setiyanto (64 Th).
10.  Nurmiati (50 Th).
11.  Sri Lestari (38 Th).
12.  Elvis Marni (41 Th)
13.  Wakini (56 Th).
14.  Nurcholis (32 Th).
15.  Lolvi Yohame (14 Th).
16.  Eben Simbolon (25 Th).
17.  Mesra Nainggolan (29 Th)
18.  Saiful Muklis.
19.  Veronika.
20.  Nur Rahmadan (14 Th).
21.  Ridho (6 Th).
22.  Irham (8 Th).
23.  Mohamad Sholeh (35 Th).
24.  Senan (31 Th).
25.  Muh.  Aditya (10 Th).
26.  Sunarsih (42 Th).
27.  Markus Saung (40 Th).
28.  Anderson Uaga
29.  Hariyono (40 Th).
30.  Erizal (42 Th).
31.  Putriyanti (28 Th).
32.  Fathir Sub (17 Th).
33.  Eriko Penggu

Sedangkan korban meninggal dunia terdiri dari 5 (Lima) OAP dan  19 warga pendatang dengan rincian sebagai berikut:

Warga OAP Laki-laki
1. Ketron Kogoya (23 Th, OAP).
2. Ekias Himan (20 Th, OAP).
3. Yus Asso (20 Th, OAP)
4. Mison Lekbre (15 Th, OAP).
5. Yapet (25 Th, OAP).

Warga Pendatang (Non OAP) Laki-laki
1.  Muhammad Subhan.
2.  Yohanis Karangan (32 Th, Toraja.
3.  Sofyan (32, Madura).
4.  Rahul (21 Th)
5.  Risky (3 Th)
6.  Anto (32 Th).
7.  Hendra (21 Th).
8.  Ibnu (8 Th).
9.  Yoga (30 Th).
10.  Iwan (27 Th).
11.  Rustam (33 Th, Bugis).
12.  Erwin (17 Th).
13.  Tukang Ojek (nama belum diketahui).
14.  Yunus Todung Bua (40 Th).
15.  Untung (30 Th, Lumajang).
16.  Bambang (35 Th).

Warga pendatang Perempuan.
1.  Linda (42 Th).
2.  Irma (25 Th)
3.  Ilmi (12 Th).

Pasien yang pada kemudian dievakuasi ke Jayapura dengan Pesawat Hercules pada hari yang sama:
1.  Aditia (3 Th).
2.  Putriyanti (28 Th).
3.  Saiful Muklis 
4.  Joko Sulistiyanto (55 Th).
5.  Veronika (20 Th).
6.  Nurcholis (  Th).
7.  Airon Kogoya.
8.  Iswandari.
9.  Markus Saung.
10.  Kirimus.
11.  Asnawati (54 Th, Cadangan).

Kesebelas korban didampingi Tim Medis antara lain dr.  Handini Graha, dr.  Decky Kindangan, sp. M, dr.  Siti H.  Alawiyah, Christofel Okoka (Montir) dan  Ika Sartika (Suster).

Otoritas RSUD Wamena melaporkan keadaan korban yang meninggal dunia adalah akibat luka bakar sebanyak 16 orang dan 8 orang akibat luka senjata tajam. 

Kerusuhan yang dipicu rasisme di Papua terus meluas dan korban berjatuhan, pemerintah Indonesia masih sempat berupaya menggiring wacana publik bahwa kerusuhan diboncengi kelompok ekstrim kanan (Islam radikal).

[Mahar Prastowo]

Posting Komentar

0 Komentar