Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

CIIA: Tantangan Kapolri Baru, Buktikan Promoter dan Penuhi Harapan Positif Publik



LUGAS | Jakarta -  Sejumlah pihak  menyorot penunjukan Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal kapolri oleh presiden. Ia merupakan non-muslim yang akan memimpin lembaga penegak hukum di tengah mayoritas.  Soorotan itu antara lain dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas yang menggarisbawahi soal pentingnya kearifan Presiden untuk mengusung calon Kapolri "yang bisa diterima oleh masyarakat secara luas".

Pesan Anwar Abbas jelas, ada kekhawatiran munculnya hal sentimentil yang mudah tersulut ketika minoritas memimpin mayoritas, yaitu isu SARA berkaitan dengan latar belakang agama. Apalagi, Indonesia masih dihadapkan pada isu kriminalisasi ulama, yang tak kalah gaduh dengan bisnis seputar Covid-19.



Pengamat intelijen dan terorisme Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya menilai, dalam konteks Indonesia dengan tampilnya Kapolri baru yang notabene seorang Nasrani bisa saja menjadi stimulan munculnya sikap radikal dan adigang adigung adiguno dari entitas yang memusuhi Islam dan kaum muslimin. Yaitu munculnya Euforia dan terselip harapan bisa memanfaatkan kekuasaan yang ada di pundak pucuk pimpinan penegak hukum untuk bersikap lebih keras kepada kelompok Islamis.

Namun semua itu kembali kepada pribadi Kapolri baru nantinya, yang merupakan calon tunggal dan pilihan langsung Presiden, Komjen Pol Listyo Sigit.

"Kalau dirinya terintegrasi dengan baik pada doktrin seorang penegak hukum harus Promoter - Profesional Modern Terpercaya, maka institusi polri akan jalan on the track," ujar Harits.

Dikatakan Harits, dibutuhkan sosok Kapolri yang dapat menampilkan Polri yang betul-betul amanah, bekerja profesional, modern, dan bisa dipercaya oleh publik. Serta institusi ini bukan alat kekuasaan, tidak juga condong kiri atau kanan di setir oleh kepentingan "kelompokisme".

"Dan waktu akan membuktikan itu semua. Sayup-sayup di ruang publik banyak terekspos harapan-harapan positif terhadap kapolri baru, dan ini substansi implisit sebagai tanda kepercayaan sekaligus sebagai tantangan; apakah kapolri baru bersama semua aparatnya bisa berdiri tegak menjadi penegak hukum untuk semua rakyat tanpa pandang bulu. Kita lihat saja...!" tegas Harits.

Sementara itu Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno,  menyebut ada pesan  di balik penunjukan Listyo sebagai calon tunggal Kapolri, yaitu jangan pernah lagi mempersoalkan masalah latar belakang agama maupun etnis.

"Karena negara ini dihuni oleh begitu banyak orang yang beragam, artinya pluralisme itu adalah suatu yang niscaya.  Yang penting Kapolri baru ini bisa bekerja adil, berkomuniksi baik dengan semua komunitas-komunitas, terutama kelompok Islam yang dianggap radikal selama ini, dan tentu menjaga keamanan kita semakin kondusif," ujar Adi Prayitno.

Listyo bukanlah Kapolri non-muslim pertama di Indonesia. Jenderal (Purn) Widodo Budidarmo merupakan Kapolri non muslim pertama pada periode 1974-1978.

Undang-undang 2 Tahun 2002 tentang Polri, tak menyebutkan syarat khusus bahwa Kapolri harus dijabat oleh yang beragama tertentu, melainkan sebagaimana dijelaskan pada Pasal 11 ayat (6) bahwa calon Kapolri adalah Pati Polri yang masih aktif dengan memperhatikan jenjang kepangkatan dan karier.

Meski, isu perkoncoan pun bisa jadi bakal muncul, karena rekam jejak karier Listyo, ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 yang sempat jadi ajudan Jokowi pada 2014. Bahkan keduanya  pernah bersama-sama  dinas di Solo, Listyo  menjabat Kapolresta (2011) pada saat Jokowi menjabat Wali Kota.

Di sisi lain, kedekatan seperti itu memang dibutuhkan agar tidak ada lagi sekat dalam memahami persoalan satu sama lain yang dapat menghambat komunikasi antara presiden dengan pembantunya.

Listyo juga tercatat sempat beredar bersama 4 calon lainnya yang lebih senior, ada  Gatot Edhy Pramono (Akpol 1988), Boy Rafly Amar (Akpol 1988), Arief Sulistyanto (Akpol 1987), dan Agus Andrianto (Akpol 1989). Listyo sendiri Akpol 1991.


Mahar Prastowo

Posting Komentar

0 Komentar