Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

Ransum Makan Pasien Covid-19 Hilang Dicuri, Kok Bisa?



Makanan untuk pasien positif Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri. (foto dok. kaltimtoday)


LUGAS | Kota Bekasi
- Guna memutus rantai penyebaran Covid-19, di berbagai tempat disepakati oleh masyarakat setempat apabila ada warga yang melakukan isolasi mandiri maka akan dibantu pemenuhan kebutuhan pokok terutama makanan-minuman untuk sarapan, makan siang dan makan malam.

Tapi hati-hati, karena ada saja yang usil dan mengintai hantaran makanan, begitu kantong makanan ditaruh di teras atau pagar rumah pasien yang sedang isolasi mandiri, tak lama kemudian makanan itu hilang. Bukan karena diambil tuan rumah, tapi diambil pencuri.

Seperti terjadi di RW 08 RT 07 Perumnas 2 Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, warga membantu pada pasien isolasi mandiri  dengan mengantar makanan. Tapi si pasien tak menemukan makanan hantaran untuk keluarganya yang sedang isolasi mandiri.

"Mustahil apabila diambil kucing dan hewan lain," tutur Lily Aprilah, yang sekeluarga sedang melakukan isolasi mandiri karena positif Covid-19.

Lily sengaja menutup pintu gerbang supaya tidak ada orang masuk ke dalam rumah dan berinteraksi langsung dengan dirinya. Sehingga hantaran makanan dari tetangga atau PKK ditaruh dengan cara dicantolkan di pagar.

Kejadian yang diamali Lily bukan tidak mungkin dialami pasien lain yang sedang melakukan isolasi mandiri.

Ada baiknya dalam  memberikan sesuatu terutama makanan pada warga yang sedang melakukan isolasi mandiri, untuk memastikan bahwa pasien benar-benar tahu dan menerimanya.

Misalnya dengan mengucapkan salam dan pastikan dijawab, sehingga kiriman makanan bisa langsung diambil.

Lebih dari itu, tetap terjadi komunikasi sehingga pasien tidak merasa isolasi mandiri sebagai istilah lain dikucilkan. Bisa dengan mulai bertanya kabar dan sebagainya.

Hodges and Myers menyebutkan empati dapat diekspresikan dengan media apapun, hantar makanan adalah suatu contoh kecil.

"Terdapat korelasi positif antara perasaan memahami diri dengan perasaan orang lain dan rasa ingin membantu. Dalam hal ini, empati dapat diekspresikan dengan media apapun, hantar makanan adalah suatu contoh kecil." Demikian ungkap Hodges dan Myers dalam Encyclopedia of Social Psychology.

Soal pentingnya empathy kepada pasien positif Covid-19 juga diungkapkan dr. Agung Insani Firdaus,M.K.K, Kepala Puskesmas Pekayon Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat.

"Jadikan sarana kita untuk menguatkan para tetangga, gantian kita saling tolong, kita bisa kirim makanan. Saat kita jalan atau kita olahraga lari pagi dari jarak jauh bisa kita sapa, 'bu, pak semangat ya, cepat sehat'. Saya yakin nanti setelah sembuh dan nanti ada tetangga  lain sakit orang ini pasti akan bantu," terang dr. Agung.

dr. Agung juga berharap dengan covid ini agar dapat dijadikan sebagai pemersatu bangsa, "karena dengan covid menumbuhkan saling empati," ujar dr.Agung.


Reporter: Agus Wiebowo | Editor: Mahar Prastowo

Posting Komentar

0 Komentar