Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

Ulama Kharismatik Abuya Uci Meninggal Dunia



LUGAS | Tangerang - Duka menyelimuti Pondok Pesantren dan Majelis Taklim Al-Istiqlaliyyah di Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Selasa (6/4/2021) pagi. Abuya Uci Turtusi, sang guru besar Al Istiqlaliyah  meninggal dunia.

Melalui akun instagram, Wali Kota Tangerang Arief Rachadiono Wismansyah seketika  mengucapkan dukacita atas meninggalnya ulama kharismatik tersebut.

"Innalillahi wa Inna ilahi raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah, guru kita tercinta Abuya KH Uci Thurtusi, Pimpinan Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah. Mari kita doakan semoga Allah SWT menempatkannya di tempat paling indah bersama orang-orang beriman dan kebaikan serta ilmu yang beliau sampaikan menjadi amal yang terus mengalir untui beliau. Aamiin," tulis Arief.

Gubernur Banten Wahidin Halim pun mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Abuya Uci melalui laman facebooknya.

"Innalillahi wa Inna ilahi rojiun. Turut berdukacita atas wafatnya Guru Besar Almarhum Abuya Uci Turtusi (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah). Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebaikannya, mengampuni segala dosanya, dan ditempatkan di surganya Allah SWT. Amiin,” tulis Wahidin, atas nama keluarga besar Rumah Tahfidz Wahidin Halim.


Tentang Abuya Uci Turtusi

KH. Uci Turtusi atau Abuya Uci atau lebih dikenal dengan Abah Uci merupakan Guru Besar sekaligus Pengasuh dan Pimpinan, Pondok Pesantren dan Majelis Ta'lim Al-Istiqlaliyyah di Kampung Cilongok, Desa Sukamantri Pasar Kemis, Tangerang, Banten.



Abuya KH Uci Thurtusi dari Kp. Cilongok ini adalah penerus ayahnya Alm. Abuya Dimyathi Cilongok. (Bukan Abuya Dimyati Cidahu).

Selain acara pengajian mingguan, ada beberapa acara besar yang diselengarakan tahunan di majelis taklim Al Istiqlaliyah yaitu acara Maulid Nabi, Haul Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani.Q.S.A yang   selalu diramaikan oleh  jamaah dari berbagai penjuru termasuk dihadiri para pejabat dan tokoh.

Salah satu berkah ramainya pondok pesantren dan masjelis taklim Al Istiqlaliyyah pada pengajian mingguan, menggeliatnya perekonomian melalui kegiatan perdagangan aneka makanan, baju muslim, makanan tradisional lokal, akik atau bacan, sarana ibadah, minyak wangi, dan lain-lain.

Abuya Uci selagi muda menuntut ilmu berpindah-pindah hingga memiliki 32 orang guru selama 32 tahun. Ia berpindah dari satu guru ke guru lain setiap kali menyelesaikan pelajaran, atau sebab lain misalnya karena ada yang mengetahui bahwa ia putra Abuya Dimyati. Sebab jika tahu ia putra Abuya Dimyati tidak ada yang berani mengajarnya karena sungkan dengan sang ayah.




Mahar Prastowo

Posting Komentar

0 Komentar