Muktamar Wahdah Islamiyah, Panglima TNI Titipkan NKRI Pada Ulama


LUGAS | JAKARTA - “TNI titipkan keutuhan NKRI pada para ulama”, kata  Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Republik Indonesia Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, saat menyampaikan kuliah umum di hadapan peserta muktamar III Wahdah Islamiyah (WI) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (19/7/2016).

Atas pernyataan Panglima TNI itu Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Ustad Muhammad  Zaitun Rasmin, mengamini dan berharap dapat dijadikan bekal bagi dai dan ulama dalam berdakwah. Ia juga menyatakan bahwa Wahdah Islamiyah telah menyatakan komitmen untuk menjaga keutuhan NKRI tercinta, sebagaimana tercermin tagline Muktamar III, Sejuta Cinta Untuk Indonesia.

“Ancaman bangsa saat ini luar biasa berat, oleh karena itu dibutuhkan kemanunggalan TNI, rakyat, ulama dan santri.  Yang bisa kembalikan jati diri bangsa Indonesia adalah ulama," ujar Panglima TNI di hadapan dua ribuan muktamirin yang berasal dari 130an Dewan Pimpinan Daerah (DPD) WI Seluruh Indonesia.

Menurut Panglima,  kemanunggalan TNI, ulama, dan santri merupakan bagian dari sejarah  bangsa ini. Dicontohkan perlawanan arek-arek Suroboyo dalam Peristiwa 10 November 1945 merupakan salah satu bukti akan hal itu.

KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa bahwa wajib mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Bahkan yang memimpin serangan 10 November adalah seorang Kyai dari Jawa Barat, yaitu KH. Abbas bin Abdul Jamil.

Awalnya penyerangan direncanakan tanggal 9 November, namun karena menunggu kedatangan Kyai Abbas yang datang dari Jawa Barat melalui Kereta, serangan baru dapat dilakukan sehari setelahnya, yakni 10 November.

Fatwa Mbah Hasyim Asy’ari kemudian dikenal sebagai resolusi Jihad Hasyim Asy’ari. “Tanpa ada resolusi Jihad tak ada perlawanan heroik 10 Nopember”, tegas Panglima.

JOIN KLIK : Telegram.me/tabloidlugas

Tidak ada komentar