Ini Cara Jendral Soeharto Selamatkan Hidup Jutaan PKI dari Amuk Massa

LUGAS | Jakarta - Pasca geger kepati peristiwa 1965 yang menjadi puncak upaya kudeta PKI (Partai Komunis Indonesia), serangan balik kepada PKI digencarkan. Jika sejak 1948 rakyat kebanyakan dan umat islam jadi korban kebiadaban PKI, pasca peristiwa yang dinamakan Gerakan 30 S/PKI atau Presiden Soekarno menyebutnya Gestok (Gerakan Satu Oktober), PKI menghadapi perlawanan dari umat islam dan dalam perburuan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

Teriakan-teriakan teror yang biasa terdengar oleh PKI seperti Ganyang Santri! Ganyang Masyumi! dan yel-yel Pondok Bobrok - Langgar Bubar - Santri Mati! kemudian berubah menjadi Ganyang PKI! Berantas sampai akar-akarnya.

Apakah lantas ABRI dan umat islam membunuh semua pengurus dan simpatisan PKI? Tidak. Justru banyak yang diselamatkan hidupnya dengan menjalani hukuman transmigrasi paksa dengan diisolasi seperti di Pulau Buru, atau Lapas Plantungan untuk yang wanita, dan berbagai lapas lainnya.

Jika berkunjung ke Pulau Buru hari ini, tentu jauh berbeda dari tahun 1966-1970an awal ketika para tahanan politik PKI dikirim. Pulau Buru kala itu adalah sebuah pulau tak berpenghuni. Dan berkat transmigrasi paksa itu, kini pulau tersebut telah menjadi lumbung padi di kawasan kepulauan Maluku, dan segenap kemajuan lainnya.

Menjadi tahanan politik tentu tidaklah diharapkan, namun setidaknya, dengan menjadi tapol mereka diselamatkan dari amuk massa akibat perbuatan biadab mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Presiden Soeharto dalam sebuah pertemuan para pemimpin dunia di Paris, tahun 1970an. Berikut video pernyataan Presiden Soeharto:

"Sebagai akibat daripada suatu Coup PKI yang gagal pada tahun 65, memang ada daripada tahanan-tahanan daripada Partai Komunis Indonesia itu. Kurang lebih adalah mereka yang salah akan tetapi mengenai bahan pembuktian untuk diajuken untuk pengadilan kurang meyakinken. Mereka tidak dilepaskan kepada masyarakat karena masyarakat itu sekalipun diberitahu tidak ada pembuktian yang kuat untuk diadili, bagi rakyat yang melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka itu melakukan pemculikan, melakukan pembunuhan, melakukan pembakaran di desanya, tidak mungkin dikatakan mereka tidak salah."



Dan hari ini, penerus ideologi komunis yang telah melebur ke tengah masyarakat dalam berbagai peran, menginginkan pemerintah meminta maaf kepada PKI. Soeharto, mengulang kesalahan Hitler yang membiarkan ada Yahudi tersisa. Namun positifnya, dengan eks PKI serta generasi penerus ideologinya muncul kembali, menjadi bukti bahwa PKI memang pernah ada dan melakukan penghianatan terhadap Negara. [ed]

Tidak ada komentar