Kericuhan dipicu saat Ketua
Perumahan menyampaikan sejumlah komplain dari warga. Panitia yang hadir merasa
tersudut dan tidak menerima kritikan tersebut. Mereka menilai seharusnya Ketua
mendukung dan membackup panitia, bukan justru menyampaikan keluhan dari
sebagian warga.
Bahkan, salah satu panitia
menanggapi pernyataan Ketua dengan nada tinggi, melebihi nada suara ketua
perumahan, menuduh Ketua berpihak kepada segelintir warga yang berkomplain. Ada
pula panitia yang memilih meninggalkan rapat sambil melontarkan amarah. Mereka
beranggapan upaya mereka telah maksimal, sehingga kritik dari ketua dianggap
tidak menghargai pengorbanan mereka.
Situasi semakin memanas ketika Ketua menyinggung perbedaan antara hasil rapat panitia pada 2 Agustus 2025
dengan pelaksanaan di lapangan. Di poin anggaran konsumsi yang biayanya
fantastis. Pertanyaan itu tidak dijawab secara jelas, malah ditanggapi dengan
suara keras sama seperti sebelumnya.
Kericuhan tersebut memberi kesan
bahwa panitia tidak siap menerima kritik dan merasa benar dengan apa yang telah
dilakukan.
Karena tidak menemukan titik
temu, sebelum menutup rapat, Ketua Perumahan akhirnya menyimpulkan beberapa hal
berikut.
“Saya minta maaf kepada seluruh
peserta atas kericuhan yang terjadi dan saya anggap ini semua kesalahan saya sebagaimana
yang dipersoalkan panitia,” ujar Taufik.
“Kedepan, segala kebutuhan terkait pelaksanaan perayaan HUT RI harus dituangkan dalam keputusan rapat, agar
tidak menimbulkan pandangan negatif warga,” tutup Taufik.

Tidak ada komentar