Mahasiswa UI Nyalakan Lilin di Tengah Denyut Demokrasi yang Terkoyak



LUGAS | Depok,

Sore yang mendung di Bundaran Psikologi Universitas Indonesia, Rabu 3 September 2025, berubah menjadi panggung pengungkapan aspirasi rakyat. Sekitar pukul 17.00 WIB, ratusan mahasiswa berbalut jaket kuning dan kaos hitam berkumpul, menyalakan lilin di bawah tugu Makara. Dengan megafon, orasi menggema, dan doa bersama menjadi saksi duka serta kritikan keras terhadap situasi negeri yang berkembang bagai benang kusut.


Jejak Aksi dan Pernyataan Tegas

Aksi yang dipimpin oleh penanggung jawab Zayyid Sulthan Rahman dan koordinator lapangan Rendy Darmawansa (Brigade UI) ini menghadirkan sekitar 170 mahasiswa dari fakultas dan prodi se-UI. Mereka membacakan pernyataan sikap Aliansi BEM se-UI yang menyampaikan belasungkawa kepada sembilan korban kekerasan aksi—termasuk jutek luka-luka, serta mengutuk tindakan represif aparat keamanan dan penindasan terhadap kampus Bandung. Intinya: suara mahasiswa sebagai representasi rakyat mandiri yang menuntut keadilan, transparansi, dan demokrasi tetap hidup.


Gelombang Pembelahan di Jalan

Demonstrasi ini adalah butiran kecil dari gejolak nasional yang sudah berjalan sejak akhir Agustus. Gelombang anti-pemerintah dipicu oleh tunjangan perumahan anggota DPR yang fantastis — disebut hampir sepuluh kali UMP Jakarta — di saat rakyat menjerit ekonomi. Protes meluas setelah kematian sopir ojol Affan Kurniawan yang tertabrak kendaraan taktis aparat semakin memicu kemarahan publik. Demonstrasi merebak ke banyak kota, termasuk Bandung, Makassar, Yogyakarta — dengan korban jiwa, pembakaran gedung publik, serta perusakan fasilitas umum.

Sebagai respons, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pembekuan tunjangan parlemen dan moratorium perjalanan dinas luar negeri bagi anggota DPR. Namun, penggunaan label “terorisme” dan “pengkhianatan” terhadap demonstran menuai kecaman dari kelompok hak asasi manusia.

Tindakan represif—gas air mata, intimidasi, hingga penghalangan jurnalis—juga dikritik keras lembaga HAM domestik dan internasional.


Tuntutan Kritis yang Meluas

Tidak hanya mahasiswa, publik menyuarakan tuntutan melalui gerakan #17+8 yang terdiri dari 17 tuntutan jangka pendek dan 8 tuntutan reformis jangka panjang. Di antaranya menuntut: penarikan TNI dari urusan sipil, pembentukan Tim Investigasi Independen, pembekuan fasilitas DPR, dan penguatan kelembagaan demokrasi.


Aksi UI sebagai Kilas Refleksi

Dalam pusaran itu, aksi BEM UI menjadi bagian reflektif dan simbolis: menyerukan agar demokrasi dijaga, kebebasan pers tidak dibungkam, dan kebenaran tetap dijaga. Lilin yang menyala dan jaket kuning di tengah malam adalah bahasa moril: suara rakyat tidak padam meski ditempa intervensi. Media besar seperti Kompas dan Trans Media diundang hadir—dengan niat melawan “pembungkaman informasi” yang tengah berlangsung.


Kesimpulan: 

Aksi mahasiswa UI ini sejatinya adalah fragmen dari kilas pergulatan demokrasi Indonesia—antara rakyat yang menuntut suara dihargai dan negara yang merespons dengan represif sekaligus mengaku memberi solusi. Lilin-lilin mahasiswa malam itu nyala, sebagai pengingat bahwa demokrasi masih bisa diperjuangkan dari ruang akademik, kampus, dan hati nurani rakyat.



Laporan: Dani Prasetya
Editor: Mahar Prastowo





0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1