LUGAS | Jakarta — Di tengah tantangan meningkatnya kerawanan remaja dan dinamika sosial perkotaan, Jakarta Timur kembali memperkuat barikade sosialnya melalui gelaran Ngopi Cetar (Ngobrol Pintar Cegah Tawuran) Angkatan 2 yang berlangsung di RPTRA Gedong, Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, Senin (24/11/2025).
Program yang diinisiasi Suban Kesbangpol Kota Administrasi Jakarta Timur ini tidak sekadar menciptakan ruang dialog, tetapi menjadi ajang konsolidasi kewaspadaan wilayah, sekaligus menandai momen transisi penting bagi Muhammad Jajuli, yang menyelesaikan tugas monitoringnya sebelum bergeser mengemban amanah baru di tingkat Provinsi DKI.
| Camat kecamatan Pasar Rebo, Mujiono, S.Pd.,M.Hum |
Camat Pasar Rebo: “Tawuran lahir dari ko celah sosial yang dibiarkan terbuka.”
Acara dibuka oleh Camat Pasar Rebo, Mujiono, yang menekankan bahwa persoalan tawuran tidak dapat lagi dipandang sebagai urusan aparat semata. Dirinya mengingatkan bahwa tawuran adalah produk sampingan dari lingkungan yang gagal merawat kohesi sosial.
“Pencegahan tawuran bukan sekadar patroli, melainkan kerja kolektif menutup celah-celah sosial yang selama ini dibiarkan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa keamanan modern tidak bisa hanya bertumpu pada tindakan represif, melainkan harus mengedepankan pencegahan berbasis komunitas.
Paparan Intelkam: Kerawanan Remaja dan Perubahan Pola Pergaulan
Mengisi sesi pertama, Kasat Intelkam Polres Metro Jakarta Timur, AKBP Yanmiko Sianturi, memaparkan peta kerawanan yang semakin kompleks. Ia menjelaskan bahwa tawuran saat ini tidak selalu dipicu faktor klasik seperti perbedaan sekolah atau wilayah, tetapi juga oleh dinamika digital yang mempercepat provokasi antar kelompok.
Yanmiko menekankan pentingnya adaptasi aparat dan masyarakat dalam merespons pola-pola baru.
“Akar masalahnya berubah, cara meresponsnya juga harus berubah. Tidak cukup hanya mengandalkan pola penindakan lama,” ungkapnya.
Paparan ini memperkuat urgensi pembaruan pendekatan dalam memetakan perilaku remaja dan potensi gesekan di wilayah timur Jakarta.
| Aris Setiawan Yodi, S.IP., M.IP., Tenaga Ahli Gubernur DKI Bidang Komunikasi Sosial |
Materi Komunikasi Sosial: Kunci Jakarta Global Ada Pada Ruang Bicara Warganya
Aris menyampaikan bahwa keberhasilan Jakarta bukan hanya ditentukan oleh infrastruktur fisik, melainkan juga oleh kemampuan warganya berdialog dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
“Kota global dibangun dari warganya yang tahu cara berbicara, bukan bertengkar,” ujarnya.
FKDM Mendapat Apresiasi: Pilar Senyap Penjaga Stabilitas Kota
Di bagian penting pemaparannya, Aris memberikan apresiasi langsung kepada Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM). Ia menilai FKDM sebagai aktor yang kerap tak terlihat namun sangat menentukan dalam deteksi dini potensi konflik.
“FKDM adalah garda terdepan. Kerja mereka mungkin senyap, tapi efeknya nyata. Tanpa deteksi dini, kota ini hanya akan sibuk memadamkan api, bukan mencegah percikannya.”
Pujian ini bukan sekadar pengakuan, tetapi juga penegasan terhadap nilai strategis deteksi dini dalam arsitektur keamanan sosial Jakarta.
| Mohamad Jajuli, Ketua Sub Kelompok Organisasi Kemasyarakatan Bakesbangpol DKI Jakarta |
Momen Terakhir Muhammad Jajuli di Jakarta Timur
Kehadiran Muhammad Jajuli memberi warna tersendiri. Selama menjalankan tugas monitoring, ia terlibat dalam penguatan program-program pencegahan konflik di tingkat kelurahan dan kecamatan. Ngopi Cetar Angkatan 2 menjadi penanda akhir kiprahnya di lingkup kota, untuk kemudian berikutnya akan bertugas di Kesbangpol provinsi.
Di mata banyak pihak, keberangkatan Jajuli ke tingkat DKI membawa harapan baru: bahwa jejaring dan pendekatannya di Jakarta Timur dapat menambah kekuatan di level yang lebih luas.
Dialog Terbuka: Warga, Aparat, dan Pemerintah Duduk Satu Forum
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang mempertemukan aparat, pemerintahan, dan masyarakat. Isu-isu krusial seperti maraknya provokasi digital, kurangnya ruang aman bagi remaja, hingga pentingnya data lapangan dari FKDM disorot secara lugas oleh para peserta.
Sesi ini menghadirkan dinamika khas forum publik: kritis, terbuka, namun tetap konstruktif.
Ngopi Cetar menunjukkan forum ini bukan sekadar forum sosialisasi, tetapi ruang untuk merumuskan langkah riil yang bisa langsung diterapkan di wilayah.
Penanda Arah Baru Jakarta Timur
Melalui Ngopi Cetar Angkatan 2, pesan strategisnya jelas: pencegahan tawuran tidak bisa lagi seremonial—harus berbasis data, dialog, dan deteksi dini.
Dari RPTRA Gedong, Jakarta Timur mengirim sinyal bahwa wilayah ini serius dalam membangun sistem pengamanan sosial yang kuat, adaptif, dan berakar pada kekuatan komunitas. Sebuah langkah penting bagi kota yang sedang dipersiapkan menjadi bagian dari kompetisi global.
[L/IF]