Banjir Surut, Derita Belum: Warga Langsa Keluhkan Krisis Air, Listrik, dan Bantuan

 

LUGAS | Kota Langsa — Kondisi masyarakat di Kota Langsa pasca banjir besar yang melanda dalam beberapa hari terakhir semakin memprihatinkan. Berdasarkan laporan lapangan dan komunikasi warga melalui berbagai saluran pesan, hingga Senin (1 Desember 2025), banyak kebutuhan dasar belum terpenuhi, sementara akses layanan publik masih terganggu.

Banjir yang dipicu hujan deras berturut-turut disertai angin kencang membuat sejumlah wilayah terendam, aktivitas lumpuh, dan ribuan warga terdampak. Saat air mulai surut, problem baru muncul: listrik padam, PDAM tidak mengalir, harga bahan pokok naik, dan distribusi bantuan yang belum merata.

Listrik Hidup-Mati, PDAM Tak Mengalir, Air Bersih Menjadi Krisis Baru

Warga Langsa mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi berulang-ulang. Padahal, listrik sangat dibutuhkan untuk memompa air, membersihkan rumah, hingga kebutuhan darurat lain.

“Lampu mati lagi… woiii hidupkan, kami butuh air untuk membersihkan rumah!” keluh seorang warga melalui pesan grup warga Kota Langsa.

Sementara itu, pasokan air PDAM Langsa Timur dilaporkan belum mengalir sama sekali, membuat warga kesulitan mandiri dalam proses pembersihan pasca banjir.

Bantuan Belum Terjangkau ke Banyak Lokasi

Hingga Senin pagi, banyak warga mengaku belum mendapatkan bantuan apa pun, terutama di wilayah-wilayah terdampak Langsa Timur.

“Bahkan makan terpaksa beli dengan harga lebih mahal. Minyak tidak ada, bantuan belum datang.” ujar seorang warga.

Keluhan lain muncul terkait dapur umum desa yang tidak aktif sejak hari pertama banjir, padahal secara regulasi dana desa dapat dipakai dalam situasi darurat bencana.

“Dapur umum seharusnya bisa dibuat. Setidaknya warga terbantu. Tapi itu tidak dilakukan, semua berjalan sendiri-sendiri, masyarakat yang saling membantu.” kata salah satu warga.

Harga Sembako Melambung, SPBU Dipadati Antrian Panjang

Warga melaporkan kenaikan sejumlah bahan pokok:

* Telur tembus Rp110.000 per papan

* Cabai mencapai Rp250.000 per kg

* Harga makanan siap saji naik drastis, dari Rp15.000 menjadi Rp20.000

Sementara itu, antrian BBM di SPBU Harapan Langsa dilaporkan mengular hingga depan Kodim, menyulitkan warga untuk mobilitas dan kebutuhan pasca banjir.

Minimarket seperti Alfamart–Indomaret dilaporkan enggan buka karena takut dijarah, menyulitkan masyarakat mendapatkan bahan pokok. Warga mengusulkan toko-toko tersebut dibuka dengan pengamanan aparat.

Rumah Sakit Kehabisan Oksigen, Pasien Sesak Napas

Situasi paling darurat datang dari RSUCM Langsa. Petugas menyampaikan bahwa mereka kehabisan oksigen, sementara “banyak pasien mengalami sesak napas”.

“Kami sudah berusaha mencari ke berbagai tempat, tapi tetap tidak dapat. Mohon bantuan,” tulis petugas rumah sakit.

Kondisi ini menandakan krisis logistik medis pasca banjir yang membutuhkan penanganan cepat.

Sisi Lain: Beberapa Desa Bergerak Mandiri

Di tengah keterbatasan, ada desa yang bergerak cepat membantu warganya. Laporan warga menyebut Gampong Jawa, melalui salah satu tokoh masyarakat, aktif membuat dapur umum dan memetakan sejumlah warga terdampak.

Namun sebagian besar wilayah masih mengandalkan inisiatif warga tanpa intervensi cepat dari pemerintah daerah.

Kritik Masyarakat: Minimnya Kehadiran Pejabat dan Respons Lambat

Kekecewaan warga Langsa semakin kuat karena menurut mereka tidak ada satu pun perwakilan DPRK, DPR Aceh, maupun DPR RI Dapil Aceh 2 yang terlihat turun memberikan bantuan langsung.

“Di saat aman, semua bisa tampil. Di saat banjir seperti ini, tak satu pun muncul membantu masyarakat. Catat 2030.” tulis warga dalam pesan grup.

Beberapa warga juga menyampaikan kritik keras kepada PLN dan PDAM yang dinilai tidak responsif dalam situasi darurat.

Harapan Warga: Bantuan Langsung ke Rumah, Bukan Hanya Dapur Umum

Sebagian warga mengingatkan agar bantuan tidak hanya difokuskan ke dapur umum, sebab banyak warga sudah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan hunian.

“Orang kalau lapar bisa berbuat apa saja. Untuk mencegah gesekan antarwarga, tolong bantuan dibagi langsung ke rumah-rumah.” ujar seorang warga Blang Seunibong.

Kesimpulan: Langsa Butuh Respons Cepat dan Terkoordinasi

Data dan pesan-pesan warga menunjukkan bahwa:

* Bantuan belum merata

* Logistik medis darurat (oksigen) kritis

* Harga kebutuhan pokok melambung

* Air bersih dan listrik belum stabil

* Aparat dan pemerintah diminta hadir lebih cepat

Di tengah semua keluhan itu, masyarakat Langsa menunjukkan ketangguhan dan solidaritas: saling membantu, membersihkan rumah, membuka dapur umum swadaya, dan menjaga ketertiban lingkungan.

Namun untuk tahap pemulihan yang lebih besar, warga menegaskan bahwa respon cepat pemerintah, koordinasi lintas instansi, dan distribusi bantuan yang terukur sangat dibutuhkan dalam 24–72 jam ke depan.



0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1