| Wakil Wali Kota Jakarta Timur, Kusmanto dan Anggota DPRD DKI Jakarta Gusti Arief membuka acara dengan menabuh bedug. |
LUGAS | Jakarta Timur, 6 Desember 2025 — Sejak matahari baru bersinar, kawasan Lapangan Bola Asem Nirbaya, Pinang Ranti, sudah tampak bergeliat. Ratusan warga berdatangan—mulai dari pelajar, tokoh masyarakat, pejabat wilayah, hingga para seniman—untuk mengikuti Gebyar Makasar Seni (GEMAS) Betawi 2025, sebuah gelaran budaya hasil kolaborasi Karang Taruna Kecamatan Makasar dan Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) Kecamatan Makasar.
Di tengah derasnya modernisasi dan geliat kota global, GEMAS berdiri sebagai pengingat bahwa kebudayaan Betawi tetap memiliki ruang, daya hidup, serta penopang komunitas yang kuat.
Acara dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan senam PORSI bersama, dilanjutkan pemeriksaan kesehatan PMI. Langkah kolektif sederhana itu membuka panggung besar warga yang ingin merayakan identitas lokal.
Tak lama, sepasang Ondel-ondel Kembar Betawi memasuki lapangan, diiringi sorakan ceria anak-anak. Ketika dirigen muda Salsya Az Zahra memimpin lagu “Indonesia Raya”, seluruh peserta berdiri khidmat, menyatukan momen budaya dengan semangat kebangsaan.
Jamaludin Onoly: Ide, Keringat, dan Kegigihan
Ketua Panitia, Jamaludin Onoly, tampil sebagai figur penting. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak pendukung—Karang Taruna, FKKS, PMI, Sudin Kebudayaan Jakarta Timur, serta para relawan.
Ia memutar sebuah video perjalanan Karang Taruna Makasar, memperlihatkan proses panjang persiapan GEMAS 2025. Tayangan itu disambut tepuk tangan meriah—menjadi simbol dedikasi pemuda dalam merawat budaya Betawi.
Penguatan Pendidikan Budaya: Suara FKKS Jakarta Timur
Ketua Umum FKKS Jakarta Timur, H. Syamsul Bahri, menegaskan bahwa GEMAS merupakan bukti kolaborasi konkret antar-lembaga masyarakat.
Menurutnya, perayaan seni semacam ini memiliki dua fungsi penting:
1. Hiburan yang mencerdaskan,
2. Edukasi budaya yang memperkuat karakter pelajar.
Ia mengapresiasi dukungan Sudin Kebudayaan, wakil rakyat, PMI, hingga pihak sekolah. “Generasi muda harus tumbuh dengan kecintaan pada budayanya sendiri,” ujarnya.
Kusmanto: Betawi sebagai Identitas Kota
Wakil Wali Kota Jakarta Timur, Kusmanto, hadir sekaligus membuka acara secara resmi.
Dalam sambutannya, ia memuji sinergi Karang Taruna dan FKKS sebagai model kolaborasi yang “selaras dengan arah Jakarta menuju Jakarta 5 Abad”. Baginya, budaya Betawi tidak boleh hanya menjadi simbol seremonial, tetapi harus terus diwariskan sebagai identitas kota.
“Anak muda harus bangga, kreatif, dan terlibat langsung. GEMAS adalah ruang yang tepat untuk merawat budaya kita,” ujarnya.
DPRD: Kolaborasi Budaya Harus Berkelanjutan
Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Raden Gusti Arif, menegaskan dukungan penuh agar kegiatan kebudayaan Betawi dapat diselenggarakan secara berkala. Ia menilai GEMAS adalah ruang tumbuh bagi kreativitas anak muda sekaligus sarana memperkuat kebanggaan warga terhadap budaya lokal.
Ade Zarkasi: Harapan untuk Menjadi Agenda Tahunan Kecamatan Makasar
Dukungan juga datang dari Anggota Dewan Kota Jakarta Timur Korwil Kecamatan Makasar, Ade Zarkasi, yang hadir dan memberikan tanggapan positif.
Ia mengapresiasi penuh kolaborasi Karang Taruna dan FKKS yang berhasil menyelenggarakan GEMAS dengan meriah, tertib, dan inklusif. Menurutnya, kegiatan seperti ini perlu memiliki keberlanjutan, bukan hanya digelar sesekali.
“Saya berharap GEMAS bisa menjadi agenda tahunan Kecamatan Makasar. Bahkan ke depan, penyelenggaraan bisa dilakukan bergiliran di lima kelurahan sehingga seluruh warga merasakan manfaatnya,” ujar Ade Zarkasi.
Ia menilai GEMAS memberi ruang bagi warga untuk merayakan budaya, sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwilayah di Makasar.
Ragam Pertunjukan: Tradisi Betawi Bertemu Kreativitas Warga
Sepanjang hari, panggung GEMAS menampilkan pergelaran lintas generasi—dari tradisional hingga modern.
Penampilannya antara lain:
- Ondel-ondel Kembar Betawi
- Tarian Ondel-ondel
- Tarian Sang Bango
- Musik Tanjidor
- Sosialisasi Sudin Kebudayaan
- Pencak Silat PSHT & Silat Nusantara
- Hadroh Ibu-Ibu
- Band Pinang Ranti
- Band Lahila
- Bintang tamu Bang Jaka
- Penutup oleh Sanggar Oplet Robet
Perpaduan ini menciptakan ritme yang dinamis—tradisi Betawi yang hidup berdampingan dengan kreativitas masa kini.
Lomba Mewarnai: Pendidikan Budaya Sejak Dini
Lomba Mewarnai GEMAS 2025 menjadi ruang tersendiri bagi ratusan anak dari kategori PAUD hingga SD kelas 6.
Difasilitasi Sanggar Oplet Robet (Bang Madit Musyawaroh / Qubil AJ), lomba ini bukan hanya ajang seni, tetapi medium mengenalkan budaya Betawi lewat gambar dan warna.
Dari rumah adat, tanjidor, hingga ondel-ondel dalam bentuk kartun—anak-anak mengekspresikan imajinasi mereka dengan cara yang menyenangkan.
Budaya, Pendidikan, dan Komunitas: Satu Panggung, Satu Napas
Dengan dukungan lintas unsur—pemerintah, FKKS, Karang Taruna, Sudin Kebudayaan, PMI, tokoh masyarakat, dan para relawan—GEMAS 2025 menjadi ruang belajar sosial yang hidup.
Acara yang berlangsung hingga 22.00 WIB ditutup dengan lenong dan penampilan bintang tamu, meninggalkan kesan mendalam bagi warga yang datang.
Di tengah laju cepat Jakarta sebagai kota global, GEMAS Betawi 2025 menjadi penanda bahwa budaya lokal bukan hanya dirawat—tetapi dirayakan, dihidupkan, dan diteruskan oleh tangan-tangan muda di Kecamatan Makasar.
GEMAS bukan sekadar festival. Ia adalah denyut nadi budaya yang terus bergetar di Jakarta Timur.