Essai Mahar Prastowo
Senin, 8 Desember 2025, Vasaka Hotel Jakarta Timur tidak seperti biasanya. Lorong-lorong yang biasanya hanya terisi tamu hotel, kini penuh dengan orang-orang berseragam: polisi, TNI, jaksa, ormas, tokoh masyarakat, sampai para penggerak FKDM dan FKUB. Sebuah campuran yang jarang duduk dalam satu ruangan kecuali kalau memang ada sesuatu yang sangat penting.
Dan pagi itu, memang ada.
Jakarta Timur sedang bersiap memasuki masa yang oleh aparat keamanan selalu disebut sebagai “periode paling sensitif”: Natal dan Tahun Baru. Dua minggu ketika kota menjadi lebih ramai, lebih emosional, lebih padat, dan—kalau salah kelola—lebih rawan.
Di sinilah Forum Koordinasi Pimpinan Kota (FORKOPIMKO) kembali memainkan perannya.
Pagi yang Dimulai dengan Peringatan
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, berdiri di podium. Suaranya tenang, tapi berlapis-lapis pesan.
“Pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri,” katanya. Kalimat itu sederhana. Tapi di Jakarta Timur—wilayah terpadat kedua setelah Jakarta Barat—kalimat itu terdengar seperti penegasan ulang sebuah fakta besar: kota ini hidup bukan oleh pemerintah, tetapi oleh penduduknya.
Penduduk yang beragam suku, beragam agama, beragam kepentingan. Penduduk yang seringkali bahkan tidak mengenal tetangganya sendiri.
Itulah sebabnya pagi itu, Wali Kota tidak hanya berbicara kepada aparat. Tapi kepada seluruh spektrum sosial kota. Kepada orang-orang yang selama ini menjadi “tali pengikat informal”—tokoh masyarakat, ormas, FKUB, FKDM.
“Perbedaan adalah kekuatan,” katanya. “Kalau dikelola dengan baik.”
Pernyataan seperti itu sering muncul di spanduk-spanduk pemerintah. Tapi di forum kali ini, ia terdengar lebih organik. Mungkin karena memang benar: tanpa perbedaan yang dikelola, Jakarta hanya akan menjadi kota yang penuh ketegangan.
Kapolres dan Daftar Kerawanan yang Tidak Pernah Pendek
Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Alfian Nurrizal, membuka data. Tidak ada yang mengejutkan, tapi tetap membuat ruangan mengangguk pelan.
Titik rawan Nataru:
— Gereja.
— Stasiun kereta.
— Sekolah dan area pelajar.
— Kantong-kantong kerawanan kriminal.
Daftarnya selalu sama, setiap tahun. Tapi setiap tahun pula ancamannya berubah.
Stasiun, misalnya. Kini bukan hanya soal copet. Tapi soal kerumunan mendadak, kepanikan, bahkan potensi pembubaran paksa bila terjadi kesalahpahaman kecil.
“Polri akan berada di garis depan,” kata Alfian. Kalimat yang memang tugas mereka. Tapi pagi itu, tekanannya agak berbeda: garis depan itu semakin panjang.
Yang membuat daftar itu terasa lebih “berisi” adalah ketika Kasat Intelkam, AKBP Yenmiko Sianturi, maju. Ia membawa kartu ancaman Operasi Lilin Jaya 2025.
Yang menarik dari paparan Yenmiko adalah satu hal: kerawanan sosial di Jakarta Timur tidak hanya datang dari ancaman besar. Tapi dari hal-hal yang tampak sepele.
- Tawuran pelajar.
- Konflik internal pengurus gereja.
- Pesta kembang api yang berubah jadi keributan.
- Penimbunan kebutuhan pokok menjelang libur panjang.
Jakarta Timur memang seperti itu. Kadang persoalannya besar. Kadang sangat kecil. Tapi semua bisa berujung sama: keributan.
Ketika TNI Bicara Tanpa Banyak Kata
Perwakilan Dandim 0505, yakni Danramil 01/Jatinegara Mayor Arh. M. Sianturi datang dengan gaya khas TNI: ringkas, tegas, dan langsung ke poin.
TNI siap membantu Polri. TNI fokus pada objek vital. TNI memastikan tidak ada celah keamanan.
Selesai.
Namun satu kalimat yang paling diingat dari paparan mereka adalah ini:
“Keamanan tidak bisa dijaga oleh pistol dan seragam. Ia dijaga oleh rasa saling percaya.”
Sebuah kalimat yang jarang muncul dari institusi yang identik dengan kedisiplinan. Tapi justru itulah yang membuat orang-orang di ruangan itu mengangguk lebih lama.

Jaksa Fransiska dan Peringatan tentang Anak-anak Kota
Jaksa Fransiska dari Kejari Jakarta Timur menyampaikan sesuatu yang jujur dan tidak dibungkus-bungkus.
“Tawuran pelajar meningkat. Dan bukan hanya antarpelajar. Tapi antar-geng yang melibatkan pelajar.”
Ia mendorong penyuluhan hukum sejak SMP dan SMA. Karena generasi muda Jakarta Timur sedang memasuki fase yang berbeda: fase ketika satu video TikTok bisa menjadi pemicu tawuran.
Yang menarik, ketika Fransiska bicara, ia tidak hanya bicara sebagai jaksa. Ia bicara sebagai orang tua. Ia bicara dengan nada cemas, tapi realistis.
“Kalau kita tidak turun tangan lebih dini, kita hanya akan sibuk menindak, bukan mencegah.”
Dan pernyataan itu menjadi inti dari seluruh pertemuan hari itu: mencegah sebelum terlambat.
Ruang Pertemuan yang Penuh Cerita
Ketika diskusi dibuka, barulah terasa bahwa Forkopimko bukan acara satu arah. Bukan ceramah pemerintah kepada masyarakat.
Ormas berbicara. Tokoh masyarakat memberi masukan. FKDM memetakan potensi kerawanan. FKUB mengingatkan pentingnya kesejukan jelang Natal.
Dalam setiap kalimat, ada satu rasa yang sama:
Jakarta Timur terlalu besar untuk dikelola hanya oleh pemerintah. Tapi terlalu penting untuk dibiarkan tanpa koordinasi.
FKDM, FKUB, FPK, Pokdar Kamtibmas, sampai para lurah dan camat—semua menjadi jembatan antara kebijakan dan kenyataan.
Mereka inilah yang tahu siapa yang sedang konflik di RT 04.
Siapa yang baru pulang dari daerah rawan intoleransi.
Siapa yang anaknya mulai ikut kelompok motor.
Siapa yang diam-diam menjual narkoba di kos-kosan pinggiran.
Di situlah kadang negara bekerja: lewat pintu kecil, bukan pintu besar.
Tiga Pesan yang Menjadi Napas Pertemuan
Dalam rangkuman Wali Kota, ada tiga pesan besar yang ditekankan:
Kesatu, Sinergi dan komunikasi berkesinambungan
Bukan hanya saat ada rapat. Tapi setiap hari. Setiap kejadian kecil.
Kedua, Kolaborasi program masyarakat
Karena ormas dan tokoh masyarakat memiliki jaringan akar rumput yang tidak dimiliki pemerintah.
Ketiga, Menjaga keteduhan sosial
Di tengah polarisasi digital, hoaks, dan provokasi, peran tokoh masyarakat adalah menjadi “penyejuk dan peredam.”
Pesannya sederhana: Jakarta Timur harus menjadi kota yang lebih tenang di luar, karena di dalamnya sudah cukup bising oleh persoalan-persoalan kecil.
Jakarta Timur Menuju Nataru
Menjelang akhir pertemuan, suasana lebih ringan. Tapi ada kesadaran bersama bahwa dua pekan ke depan tidak akan mudah.
Jakarta Timur bukan hanya tempat orang tinggal. Ia adalah tempat orang datang, pergi, melintas, dan mencari hiburan.
Ia adalah simpul pergerakan raksasa dari Bogor, Bekasi, Depok, dan pusat kota.
Jika salah kelola, ia bisa menjadi titik paling panas di Jakarta.
Jika dikelola dengan sinergi, ia bisa menjadi contoh kota yang dewasa menghadapi keragaman.
Tentang Kota yang Belajar Bersama
Saat acara ditutup, tidak ada tepuk tangan panjang. Tidak ada seremoni. Tidak ada foto-foto panggung yang berlebihan.
Yang tersisa justru percakapan-percakapan kecil: polisi berbincang dengan pengurus gereja, tokoh masyarakat berbicara dengan Danramil, aktivis ormas berdiskusi dengan FKDM.
Mungkin, di situlah inti Forkopimko:
bukan pada pidato di depan, tetapi pada percakapan setelah acara selesai.
Jakarta Timur memang penuh tantangan. Tapi pertemuan seperti ini menunjukkan sesuatu yang penting:
kota ini terus belajar.
Kota ini tidak menyerah.
Kota ini tahu bahwa harmoni bukan sesuatu yang terjadi begitu saja—tetapi diusahakan setiap hari.
Dan pagi itu di Vasaka Hotel, Jakarta Timur memilih untuk mengusahakannya bersama-sama.
Galeri:


























