Krisis Air Pasca Banjir di Langsa: Penyebab, Dampak, dan Cara Masyarakat Menyikapinya

 

LUGAS | LANGSA, ACEH — Banjir besar yang melanda Kota Langsa pada akhir November 2025 meninggalkan dampak berkepanjangan, salah satunya krisis air bersih yang dialami ribuan warga. Distribusi air dari Perumda Air Minum Tirta Keumuneng Langsa sempat mati total, sehingga masyarakat kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari seperti membersihkan rumah dari lumpur, memasak, dan minum. Meski proses pemulihan tengah dilakukan, masyarakat diimbau memahami situasi ini dan mengambil langkah bijak dalam menyikapinya.

Banjir yang dipicu hujan deras dan luapan Krueng Langsa tersebut merendam sejumlah kecamatan, antara lain Langsa Baro, Langsa Kota, dan Langsa Lama, dengan ketinggian air mencapai 30–150 sentimeter. Ribuan rumah terdampak, sementara infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan sistem air minum mengalami kerusakan serius. Setelah banjir surut pada 26 November 2025, keluhan warga terkait ketersediaan air bersih mulai mengemuka.

Kerusakan Infrastruktur PDAM Jadi Pemicu Krisis

Menurut laporan resmi, hampir seluruh peralatan utama Perumda Tirta Keumuneng mengalami kerusakan akibat terendam banjir dan lumpur. Kerusakan mencakup sistem intake, pompa hulu–hilir, motor listrik, panel listrik, serta jalur pipa yang bergeser atau tersumbat. Booster pump di sejumlah unit produksi, seperti UP Langsa Barat, UP Langsa Lama, UP Langsa Timur, dan UP Langsa Baro, juga terendam, sementara reservoir dipenuhi lumpur.

Gangguan turut diperparah oleh kerusakan gardu listrik di wilayah hulu, yang menyebabkan suplai listrik tidak stabil dan pompa sering mati.

Direktur Perumda Tirta Keumuneng Langsa, T. Faisal, S.H., menyatakan seluruh tim teknis telah dikerahkan untuk pemulihan, meskipun sebagian besar petugas juga menjadi korban banjir.

“Kami sama-sama korban, namun tetap berjuang demi masyarakat untuk kelancaran suplai air bersih,” ujarnya. Ia menambahkan, kerja sama dengan PLN sudah dilakukan, termasuk penggunaan gardu listrik mobile, namun normalisasi penuh membutuhkan waktu karena skala kerusakan yang luas.

Dampak bagi Warga: Air Mengalir Terbatas, Aktivitas Terganggu

Sejumlah warga melaporkan air PDAM hanya mengalir sebentar atau bahkan mati total. Seorang warga Gampong Kapa, Langsa Timur, mengungkapkan bahwa aliran air hanya hidup sekitar satu jam dan kembali mati, sementara tekanan air di wilayah ujung distribusi sangat rendah.

Pasca banjir, warga kesulitan membersihkan rumah dari lumpur karena suplai air belum stabil. Layanan depot air isi ulang juga sempat terganggu akibat listrik yang baru pulih secara bertahap. Banyak warga akhirnya membeli air dari daerah sekitar menggunakan jeriken, atau menampung air hujan sebagai alternatif, meski berisiko bila tidak diolah dengan benar.

Seorang petugas distribusi PDAM menjelaskan bahwa proses pemulihan dilakukan bertahap, dimulai dari pusat distribusi menuju daerah ujung jaringan, sehingga tekanan air ke pelanggan belum sepenuhnya stabil.

Langkah Bijak yang Dapat Dilakukan Masyarakat

Untuk membantu masyarakat menghadapi situasi krisis air bersih, sejumlah langkah berikut disarankan:

1. Hemat penggunaan air. Prioritaskan untuk kebutuhan penting seperti minum, memasak, dan sanitasi dasar. Hindari penggunaan air untuk keperluan yang tidak mendesak.

2. Gunakan sumber alternatif yang aman. Manfaatkan sumur bor atau air tanah bila tersedia dan pastikan kualitasnya layak. Air hujan dapat digunakan setelah direbus atau diolah terlebih dahulu.

3. Laporkan melalui saluran resmi. Sampaikan keluhan ke PDAM, pemerintah daerah, atau kanal pengaduan masyarakat agar penanganan dapat diprioritaskan.

4. Jaga solidaritas sosial. Bantu warga yang lebih terdampak, misalnya dengan berbagi air atau informasi terkait distribusi layanan.

5. Dorong upaya perbaikan jangka panjang. Partisipasi masyarakat dalam program penguatan infrastruktur air dan mitigasi banjir menjadi bagian penting untuk mencegah krisis serupa di masa depan.

Saat ini, layanan air bersih di sejumlah wilayah Aceh dilaporkan berangsur pulih, meski di Kota Langsa tingkat pemulihan masih bervariasi antara 25 hingga 75 persen. Dengan kolaborasi berbagai pihak dan kesabaran masyarakat, normalisasi penuh diharapkan dapat segera terwujud dalam waktu dekat.


0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1