LUGAS | BITUNG — Angin kencang yang melanda Kota Bitung meninggalkan duka mendalam bagi Ismail Sepe (lanjut usia), warga Kelurahan Girian Permai, Lingkungan 02, RT 006. Pada Rabu, 7 Januari 2026, sekitar pukul 14.00 WITA, rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat berlindung dirinya dan sang anak roboh setelah tertimpa pohon mangga besar di bagian belakang bangunan.
Dalam hitungan menit, tempat tinggal mereka hancur. Tak ada lagi rumah untuk pulang.
Kini, Ismail Sepe harus bertahan hidup bersama anaknya, Irwanto Sepe, yang merupakan penyandang disabilitas, dengan menumpang di sebuah bangunan bekas warung milik tetangga. Bangunan itu sempit, seadanya, dan jauh dari kondisi layak huni.
“Semuanya hancur. Rumah itu sudah tidak bisa dipakai lagi,” ujar Ismail dengan mata berkaca-kaca saat ditemui, Sabtu (17/1/2026).
“Kami sekarang cuma menumpang. Tidak tahu sampai kapan.”
Di usia senja, Ismail tak lagi memiliki tenaga untuk bekerja berat. Sementara anaknya, dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, juga tidak mampu mencari nafkah. Selama ini, keduanya hanya mengandalkan belas kasih dan uluran tangan warga sekitar untuk bertahan hidup.
“Saya sudah tua. Anak saya cacat. Kami tidak punya pekerjaan. Kalau tidak ada tetangga, kami tidak tahu harus makan apa,” tuturnya lirih.
Dengan segala keterbatasan yang ada, Ismail memberanikan diri menyampaikan harapannya kepada Wali Kota Bitung Hengky Honandar, SE, dan Wakil Wali Kota Bitung Randito Maringka. Ia tidak meminta rumah mewah atau bangunan permanen, hanya tempat tinggal sederhana agar ia dan anaknya bisa hidup dengan sedikit rasa aman.
“Kami tidak minta rumah bagus. Biar cuma rumah kayu seadanya. Yang penting bisa ditinggali, tidak kehujanan, tidak kepanasan,” katanya penuh harap.
Ismail berharap pemerintah daerah dapat hadir dan memberi perhatian kepada warga kecil yang terdampak bencana, terutama kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas yang nyaris tak memiliki daya untuk bangkit sendiri.
“Saya sangat bermohon kepada Pak Wali Kota dan Pak Wakil Wali Kota Bitung, tolong lihat kondisi kami,” ucapnya pelan.
Hingga berita ini diturunkan, Ismail Sepe dan anaknya masih bertahan di bangunan pinjaman milik warga sekitar, menunggu kepastian bantuan dan uluran tangan dari pihak terkait.



