LUGAS | BITUNG — Dalam sekejap, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung Ismail Sepe (lanjut usia) dan anaknya, Irwanto Sepe (penyandang disabilitas), hancur. Tertimpa pohon mangga besar pada Rabu, 7 Januari 2026, mereka kini hanya bisa menumpang di bangunan sempit milik tetangga, menunggu uluran tangan yang tak pasti.
Di usia senja, Ismail tak lagi mampu bekerja, sementara Irwanto tidak bisa menafkahi diri sendiri. Mereka bergantung pada kebaikan warga sekitar untuk sekadar makan dan bertahan hidup, sementara rasa aman yang dulu dimiliki lenyap seketika.
“Semuanya hancur. Rumah itu sudah tidak bisa dipakai lagi. Kami sekarang cuma menumpang. Tidak tahu sampai kapan,” ujar Ismail dengan mata berkaca-kaca.
“Saya sudah tua. Anak saya cacat. Kalau tidak ada tetangga, kami tidak tahu harus makan apa.”
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa kepedulian pemerintah dan masyarakat mampu bukan sekadar pilihan, tapi penopang nyata bagi yang paling rentan. Hingga kini, keduanya masih menunggu kepastian bantuan—suara mereka menjadi panggilan untuk hadir lebih cepat, lebih nyata, bagi warga kecil yang terdampak bencana.


