Tumpukan Sampah Menguji Janji Kota Jambi Bahagia: Peringatan bagi Pemerintah dan Warga

LUGAS | KOTA JAMBI – Klaim “Kota Jambi Bahagia” kini berhadapan dengan realitas yang kontras. Tumpukan sampah yang menggunung, berserakan hingga memakan badan jalan, serta bau busuk yang menyengat di sejumlah titik strategis pada Senin (5/1/2026), menampilkan wajah kota yang muram dan jauh dari kesan layak huni.

Di Kelurahan Kenali Besar, Kecamatan Alam Barajo, kondisi paling mencolok terlihat sejak pagi hingga menjelang magrib. Sampah tidak diangkut, meluber ke jalan raya, dan mengganggu aktivitas warga. M. Rosyid, warga setempat yang juga berprofesi sebagai jurnalis, menyebut situasi ini sebagai bentuk kegagalan pengelolaan lingkungan.

“Ini bukan soal sepele. Sampah sudah ke bahu jalan, baunya luar biasa menyengat. Ini jelas menodai slogan Kota Jambi Bahagia,” tegas Rosyid.

Menurutnya, persoalan ini ironis, mengingat Wali Kota Jambi, dr. Maulana, berasal dari latar belakang dunia kesehatan. Dengan kapasitas tersebut, kata Rosyid, semestinya pemerintah memahami bahwa sampah bukan sekadar urusan estetika kota, melainkan ancaman langsung terhadap kesehatan publik.

“Pak Wali Kota pasti paham, sampah bisa menjadi sumber penyakit. Virus, bakteri, dan dampak kesehatan lainnya bisa muncul kalau dibiarkan. Jangan sampai masalah sampah melahirkan masalah baru,” ujarnya.

Rosyid juga mempertanyakan penyebab macetnya pengelolaan sampah di Kota Jambi. Ia menilai lambannya respons pemerintah berpotensi menurunkan kepercayaan publik, sekaligus menambah beban sosial bagi warga yang terdampak langsung.

“Warga sudah resah. Kasihan masyarakat yang melintas, lebih kasihan lagi yang tinggal tak jauh dari lokasi pembuangan. Ini bukan satu titik, tapi banyak,” katanya.

Pantauan lapangan menunjukkan bahwa tumpukan sampah tidak hanya terjadi di permukiman, tetapi juga di kawasan-kawasan vital kota. Gunungan sampah terlihat di sekitar Mall Jamtos, depan Universitas Muhammadiyah, depan Lapas Jambi, depan Mitra Bangunan, serta di sepanjang sejumlah ruas jalan utama. Bau busuk menyengat, sementara plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga dibiarkan terbuka tanpa penanganan.

Situasi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi memicu persoalan kesehatan lingkungan, mulai dari penyebaran penyakit hingga terganggunya kualitas udara dan sanitasi kawasan padat penduduk.

Rosyid mengingatkan pemerintah agar tidak menutup mata terhadap risiko munculnya ketegangan sosial akibat akumulasi keluhan warga.

“Jangan sampai nanti muncul pergerakan masyarakat yang tidak diinginkan hanya karena persoalan sampah tak kunjung ditangani,” ujarnya mengingatkan.

Ia mengajak masyarakat tetap berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Namun, Rosyid menegaskan bahwa tanggung jawab utama pengelolaan sampah tetap berada pada pemerintah sebagai pemegang mandat pelayanan publik.

“Ayo buktikan slogan Kota Jambi Bahagia. Jangan hanya jadi tulisan, tapi hadir nyata dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

Krisis sampah ini menjadi alarm keras: kota yang mengaku bahagia tidak boleh dibiarkan tumbuh di atas tumpukan sampah dan kelalaian tata kelola lingkungan.



0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1