9 dari 10 Pekerja Indonesia Menanggung Dua Generasi, 23 Persen Tunda Pensiun


 
LUGAS | JAKARTA — Beban ganda menopang orang tua sekaligus anak kini menjadi kenyataan bagi mayoritas pekerja Indonesia. Sebanyak 90 persen responden mengaku berada dalam posisi yang dikenal sebagai sandwich generation. Dampaknya terasa langsung pada kesiapan pensiun: 40 persen menurunkan ekspektasi gaya hidup di masa tua, dan 23 persen memilih menunda atau memperkirakan tetap bekerja setelah usia pensiun.

Temuan itu terungkap dalam survei “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” yang dirilis oleh Sun Life. Studi tersebut menunjukkan, bahkan 77 persen responden Indonesia memperkirakan akan tetap bekerja setelah memasuki usia pensiun.

Fenomena ini terjadi di tengah perubahan demografi yang signifikan. Data United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) tahun 2023 mencatat jumlah penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta jiwa atau 11,1 persen populasi. Angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 64,9 juta jiwa atau 20,5 persen pada 2050. Artinya, masa hidup yang lebih panjang menuntut perencanaan keuangan yang semakin matang.

Sebanyak 71 persen responden menyatakan membutuhkan penghasilan tambahan untuk menopang biaya hidup dan menjaga keamanan finansial jangka panjang. Bagi sebagian orang, bekerja lebih lama menjadi pilihan personal yang memberi fleksibilitas. Namun bagi lainnya, hal itu merupakan konsekuensi tekanan ekonomi.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menilai terdapat dua realitas berbeda dalam memandang masa pensiun. “Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,” ujarnya.

Survei ini juga membagi responden dalam dua kelompok: Gold Star Planners, yang telah menyiapkan pensiun secara matang, dan Stalled Starters, yang menunda perencanaan. Di antara mereka yang menunda, 43 persen menyebut kebutuhan membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anak sebagai alasan utama.

Perubahan perilaku juga tampak dalam cara masyarakat mencari informasi keuangan. Penggunaan teknologi generative artificial intelligence untuk mendukung pengambilan keputusan finansial melonjak dari 13 persen menjadi 30 persen dibanding survei sebelumnya. Sebaliknya, proporsi responden yang berkonsultasi dengan bank turun dari 40 persen menjadi 31 persen, dan yang berkonsultasi dengan penasihat keuangan independen turun dari 44 persen menjadi 31 persen.

Albertus mengingatkan, teknologi dapat menjadi pintu masuk informasi awal, tetapi keputusan jangka panjang tetap membutuhkan pertimbangan komprehensif. “Semakin banyak orang Indonesia yang hidup lebih panjang. Namun terlalu banyak yang belum yakin bisa pensiun dengan nyaman. Peran institusi keuangan penting untuk membantu masyarakat mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan,” katanya.

Dari sisi psikologis, rasa aman finansial berkorelasi kuat dengan optimisme menghadapi pensiun. Di antara responden yang optimistis, 60 persen menyebut keamanan finansial sebagai faktor utama. Sebaliknya, kekhawatiran terbesar bagi mereka yang gelisah adalah ketidakmampuan memberi dukungan finansial kepada keluarga (44 persen).

Meski tekanan meningkat, kesadaran perencanaan belum sepenuhnya menguat. Sebanyak 24 persen responden mengaku belum memiliki rencana pensiun, dan 34 persen baru menyusunnya dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu. Hanya 38 persen yang merasa sangat percaya diri terhadap rencana pensiun mereka.

Di tengah beban dua generasi dan usia harapan hidup yang terus bertambah, masa pensiun tak lagi sekadar fase beristirahat. Ia menjadi cermin kesiapan finansial, kedisiplinan perencanaan, dan—bagi sebagian besar pekerja Indonesia—kemampuan bertahan di antara dua tanggung jawab keluarga sekaligus.



0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1