LUGAS | MANADO — Di tengah sorot matahari yang baru naik di halaman Polda Sulawesi Utara, Sabtu pagi (14/2), ribuan orang berdiri sejajar: polisi, pelajar, komunitas lari, hingga keluarga muda. Tak ada sekat pangkat. Semua mengenakan nomor dada yang sama, bersiap menempuh lima kilometer dalam ajang Police Run 5K 2026.
Sekitar 1.500 peserta ambil bagian. Dari Polres Bitung, 25 personel dan perwakilan Bhayangkari turun langsung, dipimpin Kapolres Bitung AKBP Albert Zai, S.I.K., M.H. Ia tak berdiri di garis kehormatan, melainkan di barisan pelari—sebuah isyarat sederhana bahwa kepemimpinan, pagi itu, diuji oleh ritme napas dan konsistensi langkah.
Kegiatan dilepas Irwasda Polda Sulut, Kombes Pol Amin Litarso, mewakili Kapolda, didampingi Karo SDM Kombes Pol Slamet Waloya. Dalam sambutannya, Amin menekankan bahwa olahraga menjadi medium yang paling jujur untuk merawat kebersamaan.
“Alhamdulillah, pagi ini kita melepas 1.500 peserta. Mudah-mudahan kegiatan ini berjalan lancar dan membawa manfaat bagi kesehatan serta kebersamaan kita semua,” ujarnya.
Namun Police Run tahun ini bukan sekadar lomba. Di sela denyut sepatu dan tepuk tangan warga, panitia membuka ruang sosialisasi penerimaan anggota Polri Tahun Anggaran 2026. Strateginya sederhana: mendekat lewat kegiatan yang membumi. Mengajak generasi muda mengenal institusi kepolisian bukan dari podium formal, melainkan dari lintasan yang sama.
“Ini bagian dari upaya kami menyampaikan informasi rekrutmen Polri 2026. Harapannya, animo masyarakat Sulawesi Utara semakin meningkat,” kata Amin.
Panitia juga menyampaikan permohonan maaf kepada warga Kota Manado atas potensi gangguan arus lalu lintas selama kegiatan berlangsung. Jalan yang pagi itu ditutup sementara, diharapkan menjadi jalan pembuka bagi semangat hidup sehat dan ruang dialog yang lebih cair antara polisi dan masyarakat.
Partisipasi Polres Bitung memperlihatkan wajah Polri yang ingin terus berbenah—hadir bukan hanya saat krisis, tetapi juga dalam perayaan kecil kebersamaan. Di lintasan lima kilometer itu, yang dipertaruhkan bukan semata catatan waktu, melainkan pesan tentang disiplin, solidaritas, dan kedekatan yang tak selalu bisa dibangun dari ruang-ruang resmi.
