LUGAS | BITUNG — Kerja sama militer maritim antara Indonesia dan Jepang kembali diperlihatkan melalui latihan laut bersama yang digelar di perairan Laut Sulawesi menjelang kunjungan dua kapal perang Jepang ke Pelabuhan Bitung, Kamis, 27 Februari 2026. Latihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan pertahanan sekaligus meningkatkan kesiapan operasi bersama di kawasan strategis Asia-Pasifik.
Dua kapal perang milik Japan Maritime Self-Defense Force, yakni JS Yamagiri dan JS Shiranui, melakukan kunjungan persahabatan (Goodwill Port Visit) ke Bitung. Kehadiran kapal perang tersebut disambut unsur patroli laut Komando Daerah Maritim VIII yang sekaligus melaksanakan latihan taktis bersama sebelum kapal bersandar di pelabuhan.
Latihan Passing Exercise (Passex) yang dilakukan di laut terbuka itu menjadi sarana penguatan kerja sama operasional antara TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Jepang. Melalui latihan tersebut, kedua pihak menguji kemampuan koordinasi taktis, komunikasi radio, serta manuver bersama yang menjadi elemen penting dalam operasi laut modern.
Keterlibatan unsur Kodaeral VIII dalam latihan ini mencerminkan peran Indonesia dalam menjaga stabilitas keamanan maritim kawasan, khususnya di jalur pelayaran internasional yang melintasi Laut Sulawesi. Selain menjadi bagian dari diplomasi pertahanan, latihan ini juga dimaksudkan untuk membangun kepercayaan antarangkatan laut di tengah meningkatnya dinamika keamanan regional.
Komandan Kodaeral VIII Dery Triesananto Suhendi melalui Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D. menjelaskan bahwa latihan Passex merupakan latihan taktis terpadu yang dilaksanakan antara Kapal Perang Republik Indonesia dan unsur laut asing maupun antar-unsur TNI AL saat berpapasan di laut.
“Serial latihan Passex TNI AL adalah latihan taktis terpadu antara Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dan unsur laut asing atau antar-unsur TNI AL saat berpapasan. Latihan ini fokus pada peningkatan interoperabilitas, profesionalisme, komunikasi, dan manuver formasi untuk menjaga kedaulatan serta stabilitas maritim,” ujarnya.
Rangkaian latihan meliputi pembentukan komunikasi taktis (communication established), penggunaan sandi visual melalui bendera (flaghoist exercise), serta prosedur pemanduan kapal (pilotage). Latihan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan kesamaan prosedur operasi antara kedua angkatan laut.
Selain latihan laut, kunjungan kapal perang Jepang di Bitung juga diisi dengan sejumlah agenda diplomasi militer seperti kunjungan kehormatan (courtesy call), paparan operasi (operational brief), kegiatan budaya, serta upacara tabur bunga.
Bagi TNI Angkatan Laut, keterlibatan dalam latihan bersama dengan negara sahabat merupakan bagian dari strategi kehadiran laut (sea presence) sekaligus memperluas jaringan kerja sama keamanan maritim internasional. Latihan di Bitung menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
