LUGAS | BITUNG — Pagi belum sepenuhnya terik ketika ratusan orang berbaris di bibir Pantai Tanjung Ria, Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari, Kota Bitung. Di antara mereka, Kapolres Bitung AKBP Albert Zai berdiri tanpa jarak dengan anggota dan warga. Tak ada sekat jabatan. Yang ada hanya karung-karung kosong dan hamparan pasir yang dipenuhi sampah plastik. Di pantai itu, negara mencoba memberi contoh: kebersihan bukan slogan, melainkan kerja bersama.
Aksi bersih pantai yang digelar Polres Bitung itu disebut sebagai implementasi Gerakan Indonesia Asri—tindak lanjut arahan Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional di Hambalang. Arahan tersebut menekankan pentingnya sinergi pusat dan daerah dalam menjaga kualitas lingkungan hidup.
Namun di Tanjung Ria, pesan itu diterjemahkan secara sederhana: memungut sampah yang tercecer di pesisir.
Sebelum turun ke pasir, Albert memimpin apel pagi. Dalam amanatnya, ia mengingatkan bahwa gerakan kebersihan tak boleh berhenti pada seremoni. “Ini bukan sekadar rutinitas. Kita ingin menunjukkan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Polisi harus memberi teladan,” ujarnya.
Ratusan personel, pejabat utama Polres, jajaran Kecamatan Matuari, hingga aparat kelurahan menyisir garis pantai. Botol plastik, kantong kresek, dan limbah rumah tangga dikumpulkan. Warga setempat ikut bergabung, sebagian membawa alat seadanya dari rumah.
Bagi Yopy Wawoh, tokoh masyarakat Tanjung Merah, kehadiran aparat di tengah warga memiliki arti simbolik. “Kami merasa diperhatikan. Ketika Kapolres turun langsung memungut sampah, itu menjadi contoh bagi kami. Kebersihan pantai ini tanggung jawab bersama,” katanya kepada wartawan di sela kegiatan.
Lurah Tanjung Merah, Marlin Lengkong, S.S., menilai kegiatan tersebut memperkuat kolaborasi yang selama ini dibangun di tingkat kelurahan. “Sinergi seperti ini penting. Lingkungan bersih bukan hanya soal estetika, tapi juga kesehatan dan kenyamanan warga,” ujarnya.
Pantai Tanjung Ria selama ini menjadi ruang publik warga sekaligus titik aktivitas nelayan kecil. Sampah kiriman dan limbah domestik kerap menumpuk, terutama saat arus pasang. Tanpa penanganan rutin, pesisir mudah berubah menjadi tempat pembuangan terbuka.
Albert mengatakan kegiatan itu juga menjadi medium penyampaian pesan kamtibmas. Lingkungan yang bersih, kata dia, berkorelasi dengan ketertiban sosial. “Kalau kita peduli pada ruang hidup kita, kita juga akan lebih peduli pada keamanan dan ketertiban,” tuturnya.
Menjelang siang, karung-karung sampah diangkut ke truk. Pantai terlihat lebih lapang. Anak-anak yang sejak tadi memperhatikan mulai berlarian mendekati air. Di bawah matahari yang kian tinggi, aksi bersih-bersih itu menyisakan satu pesan sederhana: menjaga lingkungan tak selalu memerlukan pidato panjang—cukup kemauan untuk membungkuk dan memungut yang tercecer.



