Pasca Bentrok Pemuda, Mayondi–Pasar Unyil–Sindulang Berangsur Tenang, Aparat Siaga Jaga Warga dari Konflik Susulan


LUGAS | MANADO — Jalan-jalan di Mayondi dan Pasar Unyil, Kecamatan Singkil, serta Sidulang, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, tampak lebih lengang dari biasanya, Ahad, 15 Februari 2026. Aparat berseragam hilir mudik. Di sudut pasar, dua personel berjaga. Di mulut lorong permukiman, patroli bersenjata lengkap terlihat bersiaga. Situasi dinyatakan kondusif.

Polresta Manado memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) terkendali setelah sejumlah titik itu sebelumnya menjadi perhatian akibat potensi gangguan ketertiban. “Kami meningkatkan patroli dan langkah preventif untuk memastikan situasi tetap aman,” kata Kasi Humas Polresta Manado Iptu Agus Haryono mewakili Kapolresta Kombes Pol Irham Halid.

Secara kasat mata, stabilitas memang terjaga. Aktivitas perdagangan di Pasar Unyil kembali normal. Warga beraktivitas tanpa insiden terbuka. Namun, sejumlah warga yang ditemui Tempo menyebut ketenangan itu belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran.

“Sekarang aman karena banyak polisi. Tapi kalau sudah tidak ada penjagaan, bagaimana?” ujar seorang pedagang yang meminta namanya tak ditulis.

Pertanyaan itu mengemuka di tengah pendekatan keamanan yang cenderung represif-preventif—penebalan patroli, razia, dan imbauan keras terhadap potensi pelanggaran hukum. Kepolisian menegaskan tak akan mentolerir keributan, perkelahian, apalagi penggunaan senjata tajam. Tindakan tegas dan terukur, kata Agus, akan diterapkan sesuai peraturan perundang-undangan.

Langkah tersebut sah secara hukum. Namun pengamat kriminologi lokal menilai, pola pengamanan berbasis respons cepat belum menyentuh akar persoalan sosial di wilayah padat penduduk seperti Singkil dan Tuminting. “Kondusif bukan hanya soal tidak ada bentrokan hari ini. Yang lebih penting, apakah ada pencegahan jangka panjang—pendekatan sosial, edukasi, dan pengawasan senjata tajam secara sistematis?” ujarnya.

Data kepolisian soal tren gangguan kamtibmas di dua kecamatan itu belum dipaparkan secara terbuka. Tanpa transparansi angka—berapa kasus sebelumnya, apa motif dominan, siapa aktor utama—publik sulit menilai apakah kondisi saat ini benar-benar hasil perbaikan struktural atau sekadar efek kehadiran aparat.

Di sisi lain, dukungan warga terhadap tindakan tegas aparat cukup kuat. Sejumlah tokoh masyarakat menyatakan stabilitas keamanan menjadi syarat utama aktivitas ekonomi berjalan normal. “Yang penting aman dulu. Kalau aman, kami bisa cari nafkah,” kata seorang tokoh pemuda setempat.

Dilema klasik pun muncul: antara ketertiban cepat melalui penebalan aparat dan pembangunan keamanan berkelanjutan berbasis komunitas. Kepolisian mengajak masyarakat tidak mudah terprovokasi dan segera melapor bila ada potensi gangguan. Seruan itu penting, tetapi membutuhkan kepercayaan publik yang konsisten dijaga.

Kondisi di Mayondi, Pasar Unyil Singkil, dan Sidulang Tuminting kini relatif tenang. Namun ujian sesungguhnya bukan pada hari-hari dengan patroli diperbanyak, melainkan ketika pengawasan kembali normal. Apakah rasa aman tetap bertahan tanpa bayang-bayang senjata dan sirene?

Stabilitas tidak cukup diumumkan—ia harus dibuktikan, dirawat, dan diawasi bersama.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1