LUGAS | BITUNG — Komitmen membangun generasi muda yang cinta laut dan berjiwa patriot kembali ditegaskan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut melalui kegiatan edukatif yang digelar Satuan Kapal Patroli Kodaeral VIII, Jumat (13/2).
Puluhan siswa-siswi SMP Negeri 6 Ratahan, Kabupaten Minahasa Tenggara, berkesempatan mengunjungi Markas Satrol Kodaeral VIII dalam rangka pembelajaran lapangan bertema kemaritiman dan bela negara.
Kunjungan ini dirancang sebagai langkah strategis TNI AL untuk memperluas wawasan kebaharian pelajar sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kedaulatan wilayah laut Indonesia sejak usia dini.
Mengenal Alutsista Kebanggaan Bangsa
Dalam agenda tersebut, para siswa diperkenalkan secara langsung dengan alat utama sistem persenjataan (alutsista) kebanggaan TNI AL, mulai dari Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) hingga Kapal Angkatan Laut (KAL).
Personel Satrol memberikan pemaparan komprehensif mengenai:
Spesifikasi teknis kapal,
Fungsi operasional patroli,
Hingga peran strategis armada laut dalam menjaga keamanan perairan yurisdiksi Indonesia.
Interaksi berlangsung dinamis. Para pelajar tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan seputar tugas prajurit TNI AL, sistem pertahanan laut, hingga peluang untuk bergabung menjadi bagian dari penjaga samudra Nusantara.
Membangun Generasi Maritim
Komandan Satrol Kodaeral VIII, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits, E.D., S.E., M.Tr.Hanla., CRMP, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan potensi maritim dan penguatan karakter generasi muda.
“Melalui pengalaman langsung ini, kami ingin para siswa lebih mengenal TNI AL, memahami pentingnya laut bagi Indonesia, serta menumbuhkan semangat patriotisme dan cinta Tanah Air,” ujarnya.
Ia berharap, kunjungan tersebut mampu menjadi inspirasi bagi para pelajar untuk kelak berkontribusi aktif dalam menjaga kedaulatan maritim bangsa.
Edukasi yang Membekas
Suasana kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh semangat. Bagi para siswa, kunjungan ini bukan sekadar agenda sekolah, melainkan pengalaman berharga yang membuka cakrawala baru tentang peran strategis laut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan generasi yang sadar bahwa laut bukan hanya pemisah pulau, tetapi pemersatu bangsa.
Melalui langkah edukatif seperti ini, Satrol Kodaeral VIII menunjukkan bahwa menjaga kedaulatan maritim tidak hanya dilakukan di geladak kapal, tetapi juga melalui investasi karakter dan pengetahuan kepada generasi penerus bangsa.
