LUGAS | BITUNG — Lantunan ayat suci Al-Qur’an membuka sore yang teduh di aula tribrata aspol pinokalan. Kapolres Bitung AKBP Albert Zai, S.I.K.,M.H., duduk didampingan Ketua Bhayangkari Ny. Detta Albert Zai, Wakapolres Kompol JH Daniel Korompis S.E., Wakil Ketua Bhayangkari Ny. Sjeanet Korompis, para pejabat utama, serta puluhan anak yatim dan pengurus panti asuhan. Tajuknya sederhana: “Indahnya Berbagi di Bulan Ramadan 1447 H/2026 M.” Namun pesan yang mengemuka melampaui seremoni tahunan.
Dalam keterangannya kepada awak media, Albert Zai menegaskan bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian bakti Ramadan yang telah dijalankan sejak awal bulan. “Selamat malam teman-teman media. Hari ini merupakan rangkaian kegiatan bulan suci Ramadan yang dilaksanakan Polres Bitung, yakni buka puasa bersama seluruh personel, staf, Bhayangkari, dan anak-anak yatim di Kota Bitung,” ujarnya.
Ia merinci, sebelumnya jajaran Polres telah melaksanakan kerja bakti membersihkan masjid serta membagikan takjil kepada masyarakat. Pada buka puasa kali ini, sekitar 25 anak yatim beserta pengasuh—total kurang lebih 30 orang—diundang untuk berbagi kebersamaan. Santunan pun diserahkan secara langsung.
“Ini wujud rasa syukur kami. Ramadan bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi mengontrol diri, memperkuat tali persaudaraan, dan berbagi dengan sesama, terutama anak-anak yatim di kota ini,” kata Albert.
Menurut dia, kebersamaan internal Polres menjadi cermin miniatur masyarakat Bitung yang heterogen. Dari sekitar 460 personel, 280 beragama Kristen dan 180 Muslim. “Jumlahnya hampir berimbang. Karena itu, toleransi harus terus kita pupuk. Dengan situasi yang aman dan kondusif, kita berharap Idul Fitri nanti dirayakan penuh sukacita,” ujarnya.
Tausiah disampaikan Ketua PCNU Kota Bitung, Narto Pakaya. Ia mengingatkan bahwa perbedaan awal puasa antara organisasi Islam tidak sepatutnya menjadi sumber perdebatan. “Kalau ada perbedaan, tidak perlu dipermasalahkan. Kita tetap harmonis. Silaturahmi itu rahmat selama tidak ada perselisihan,” katanya.
Mengutip Imam Al-Ghazali, Narto menambahkan bahwa puasa adalah latihan mengendalikan hawa nafsu. “Yang sering menjadi penyebab konflik adalah hawa nafsu. Puasa bukan untuk membunuhnya, tetapi untuk mengendalikannya,” ujarnya.
Apresiasi datang dari pengurus panti asuhan yang hadir. “Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Kapolres dan jajaran. Bukan kali ini saja anak-anak kami diundang. Kami mendoakan Bapak Kapolres sukses dan diberkati,” ucap salah satu pengurus.
Menjelang azan magrib, doa bersama dipanjatkan. Di ruang sederhana itu, seragam, Bhayangkari, dan anak-anak yatim duduk bersisian tanpa sekat. Ramadan, setidaknya sore itu, menjadi ruang perjumpaan—tempat toleransi tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupkan.






