LUGAS | MANADO — Sore itu, 500 paket takjil dibagikan di depan Markas Polda Sulawesi Utara. Direktorat Lalu Lintas menggandeng Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara dalam aksi yang disebut sebagai wujud kepedulian Ramadan. Dalam hitungan menit, paket makanan berbuka itu ludes di tangan pengemudi ojek online, sopir angkutan kota, dan warga yang melintas.
Namun di balik citra humanis itu, pertanyaan muncul: sejauh mana kegiatan seremonial semacam ini berdampak pada problem lalu lintas Kota Manado yang saban hari dikeluhkan warga? Data kecelakaan dan pelanggaran masih menjadi pekerjaan rumah. Kemacetan di sejumlah ruas utama, disiplin berkendara yang rendah, hingga minimnya transportasi publik yang layak, belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Wakil Direktur Lalu Lintas AKBP Dasveri Abdi menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar berbagi makanan. “Ini momentum membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Edukasi tertib berlalu lintas kami sampaikan secara langsung dan persuasif. Pendekatan humanis penting untuk membangun kesadaran,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).
Kepala Bapenda Sulut yang turut hadir menyebut kolaborasi lintas instansi sebagai bagian dari pelayanan publik terpadu. “Kami ingin menunjukkan bahwa pemerintah hadir bukan hanya dalam fungsi administratif, tetapi juga sosial,” katanya.
Sejumlah pengendara yang menerima takjil menyambut positif kegiatan tersebut. “Lumayan membantu, apalagi kami sering di jalan saat magrib,” ujar Rahmat, pengemudi ojek online. Meski begitu, ia berharap perhatian tidak berhenti pada pembagian takjil. “Yang lebih penting penertiban angkutan liar dan kendaraan besar yang sering bikin macet,” katanya.
Pengamat kebijakan publik lokal menilai kegiatan sosial aparat memang penting untuk membangun kepercayaan. Namun, ia mengingatkan agar aksi simbolik tidak menggantikan kerja substansial. “Ukuran keberhasilan Ditlantas bukan pada berapa paket takjil yang dibagi, tetapi pada penurunan angka kecelakaan dan meningkatnya kepatuhan hukum. Transparansi data dan konsistensi penegakan hukum jauh lebih menentukan,” ujarnya.
Di tengah upaya membangun citra humanis, tantangan terbesar tetap sama: memastikan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas benar-benar dirasakan warga, bukan hanya terasa hangat sesaat menjelang waktu berbuka.
