LUGAS | MANADO — Suasana hangat Ramadan terasa dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara bersama Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Utara, Sabtu, 7 Maret 2026. Pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang memperkuat iman sekaligus merawat harmoni umat di tengah masyarakat yang majemuk.
Kegiatan yang mengusung tema “Menjalin Kebersamaan, Menguatkan Keimanan, dan Mewujudkan Harmoni Umat” itu dihadiri para tokoh agama, imam masjid, serta pengurus Badan Takmir Masjid (BTM) dari berbagai daerah di Sulawesi Utara. Hadir pula Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Utara, Dr. Drs. KH. Ulyas Taha, M.Pd., bersama jajaran pengurus DPW LDII Sulawesi Utara serta perwakilan DPD LDII dari Kota Manado, Bitung, Kabupaten Minahasa hingga Kepulauan Sangihe.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Abdul Aziz. Dalam sambutannya, Ketua DPW LDII Sulawesi Utara Drs. H. Djafar Wonggo, M.T. menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum penting untuk mempererat ukhuwah sekaligus meningkatkan kualitas ibadah umat.
Menurut Djafar, LDII secara konsisten membina warganya melalui program tahunan yang dikenal sebagai 5 Sukses Ramadan.
“Program ini meliputi sukses menjalankan puasa, sukses melaksanakan salat tarawih, sukses khatam Al-Qur’an, sukses meraih Lailatul Qadar melalui iktikaf, dan sukses menunaikan zakat. Melalui lima program ini kami mendorong warga untuk meningkatkan iman, memperbanyak amal, serta meraih keberkahan di bulan suci Ramadan,” kata Djafar.
Ia menjelaskan, penguatan nilai keagamaan di lingkungan LDII dilakukan secara terstruktur melalui pengajian rutin yang menjadi sarana memperdalam pemahaman Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Kajian dalam kegiatan tersebut disampaikan Ustadz Sudirman Bawenti, S.Pd.I., yang memaparkan metode pembelajaran dalam pengajian LDII. Ia menjelaskan bahwa proses pengajian dilakukan secara sistematis dengan pendekatan penyampaian materi oleh guru, sementara jamaah menyimak dan mencatat dengan tertib agar pemahaman agama dapat diterima secara benar.
“Pengajian rutin biasanya dilaksanakan dua kali dalam sepekan dengan durasi sekitar satu setengah jam. Materinya meliputi bacaan serta makna keterangan Al-Qur’an, makna keterangan Al-Hadist, dan nasihat agama yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Utara KH. Ulyas Taha dalam tausiyahnya menekankan bahwa kekuatan umat Islam sangat bergantung pada kedekatan umat dengan Al-Qur’an dan ilmu agama.
“Dengan mengaji kita membangun kejayaan Islam. Kerusakan dalam umat sering kali datang dari dalam, ketika kita meninggalkan apa yang diperintahkan Allah. Maksiat bukan hanya melakukan yang dilarang, tetapi juga ketika kita meninggalkan kewajiban,” kata Ulyas.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan dalam kehidupan beragama merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Namun, menurutnya, perbedaan tersebut justru harus dikelola dengan sikap bijak agar tidak menjadi sumber perpecahan.
“Kita memiliki agama, mazhab, dan manhaj yang berbeda-beda. Menyamakan semuanya tidak boleh, tetapi membangun kebersamaan dalam keberagaman itu boleh dan justru harus dilakukan,” ujarnya.
Menurut Ulyas, harmoni umat hanya bisa terwujud jika setiap individu memiliki fondasi iman yang kuat dan sikap saling menghormati.
“Perbedaan adalah keniscayaan. Yang penting bagaimana kita menguatkan keyakinan agama masing-masing tanpa merusak keyakinan orang lain. Turun dari maksiat dan naik menuju ketaatan, itulah jalan untuk memperkuat iman sekaligus membangun kebersamaan,” tegasnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa oleh Wakil Ketua Dewan Penasihat DPW LDII Sulawesi Utara KH. Ahmad Fauzi. Para peserta selanjutnya mengikuti sesi foto bersama sebelum melaksanakan buka puasa dalam suasana penuh kekeluargaan.
Pertemuan ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antara Kementerian Agama dan LDII Sulawesi Utara dalam membina umat, meningkatkan kualitas keimanan masyarakat, serta menjaga harmoni kehidupan beragama di daerah yang dikenal memiliki keberagaman budaya dan keyakinan.



