Dari Tawuran ke Meja Buka Puasa: Cara Humanis Kapolres Albert Zai Satukan Pemuda Empang–Sarikelapa



LUGAS | BITUNG — Beberapa hari sebelumnya, suasana di antara pemuda Empang dan Sarikelapa sempat memanas. Ketegangan antar kelompok pemuda membuat warga khawatir konflik akan meluas. Namun pada Kamis petang, 12 Maret 2026, pemandangan yang berbeda justru terlihat di halaman Masjid Al-Amin Sarikelapa, Kecamatan Maesa.

Puluhan pemuda dari dua wilayah yang sebelumnya bersitegang kini duduk berdampingan di atas tikar panjang. Di depan mereka tersaji takjil sederhana. Menunggu azan magrib, percakapan perlahan mengalir.

Di tengah lingkaran itu, Kapolres Bitung AKBP Albert Zai tidak berdiri sebagai pejabat yang menjaga jarak. Ia duduk bersama para pemuda, berbicara santai, sesekali menepuk bahu mereka.

Momen buka puasa bersama itu menjadi bagian dari pendekatan humanis yang dilakukan Polres Bitung untuk meredam konflik sekaligus membangun kembali hubungan persaudaraan di antara anak-anak muda Empang dan Sarikelapa.

Sehari sebelumnya, kegiatan serupa juga digelar di Masjid Al Falah Empang, mempertemukan para pemuda dari dua wilayah tersebut dalam suasana yang sama: dialog dan kebersamaan.

Sekitar 30 pemuda hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka duduk bersama aparat kepolisian, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah daerah yang hadir sebagai tamu undangan.

Bagi Albert Zai, menyelesaikan persoalan anak muda tidak selalu harus melalui pendekatan penegakan hukum.

Menurutnya, generasi muda sering kali hanya membutuhkan ruang untuk didengar dan diarahkan.

“Adik-adik semua adalah masa depan Kota Bitung. Kami hadir di sini bukan hanya sebagai aparat, tetapi sebagai orang yang peduli terhadap masa depan kalian,” kata Albert di hadapan para pemuda.

Ia mengingatkan bahwa konflik antar kelompok hanya akan membawa kerugian bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Di era digital saat ini, menurut Albert, tantangan yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Pengaruh pergaulan yang semakin luas, penyalahgunaan narkoba, konsumsi minuman keras, serta paparan berbagai konten negatif melalui gawai dan internet menjadi faktor yang kerap memicu perilaku agresif di kalangan remaja.

“Lewat gadget, anak-anak bisa melihat apa saja. Ada yang baik, tetapi ada juga yang memprovokasi kekerasan dan kebencian,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai upaya menjaga generasi muda dari pengaruh negatif tidak bisa hanya menjadi tugas kepolisian.

Perlu keterlibatan semua pihak—pemerintah, keluarga, sekolah, hingga tokoh masyarakat—untuk memberikan pengawasan dan pembinaan yang konsisten.

“Kalau kita ingin anak-anak muda Bitung tidak terjerumus ke narkoba, miras, atau pergaulan yang salah, maka semua pihak harus hadir bersama,” kata Albert.

Menjelang waktu berbuka, suasana yang semula terasa kaku perlahan mencair. Beberapa pemuda dari Empang dan Sarikelapa mulai saling bercanda, bahkan bertukar cerita.

Ketika azan magrib akhirnya berkumandang, doa dipanjatkan bersama sebelum mereka menyantap hidangan berbuka puasa.

Bagi Kapolres Bitung, momen sederhana itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan seremonial.

“Bitung ini rumah kita bersama. Kalau anak-anak mudanya bersatu, maka kota ini akan tetap aman dan damai,” ujarnya.

Kegiatan berakhir sekitar pukul 18.50 WITA dalam keadaan aman dan kondusif. Buka puasa itu menjadi simbol kecil bahwa konflik dapat diredakan melalui dialog, kebersamaan, dan pendekatan kemanusiaan.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda hari ini, pesan yang ingin disampaikan Polres Bitung terasa sederhana: damai itu indah, dan persaudaraan selalu lebih kuat daripada permusuhan.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1