LUGAS | BITUNG — Aroma menyengat lebih dulu memecah keheningan kebun di Kelurahan Duasudara, Kecamatan Ranowulu, Selasa sore, 17 Maret 2026. Di sebuah gubuk sederhana, tubuh RK (60), petani yang sehari-hari menggantungkan hidup dari lahan itu, ditemukan telah kaku. Ia diduga sudah meninggal beberapa waktu sebelum ditemukan.
Narwan Humbogio (55), warga yang pertama kali menemukan korban, masih mengingat detik-detik mencekam itu. Ia datang untuk memastikan keberadaan RK yang tak terlihat sejak pagi.
“Saya panggil-panggil tidak ada jawaban. Pas masuk ke gubuk, sudah tergeletak… dan baunya sudah menyengat,” kata Narwan, suaranya tertahan.
Temuan itu segera mengundang warga sekitar. Mereka kembali ke lokasi bersama pemilik kebun untuk memastikan kondisi korban, sebelum akhirnya melaporkannya ke polisi. Tidak ada tanda-tanda keramaian sebelumnya—hanya rutinitas sunyi khas kawasan perkebunan yang jauh dari permukiman.
Respons aparat terbilang cepat. Personel Piket Pamapta Polres Bitung dipimpin IPDA Julius Rantetasik bersama anggota Polsek Ranowulu dan Tim Inafis langsung turun ke lokasi. Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan keterangan saksi, serta memastikan prosedur penanganan berjalan.
Namun, proses penyelidikan tidak berjalan sepenuhnya terbuka. Pihak keluarga korban menolak dilakukan autopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Keputusan ini praktis membatasi ruang pendalaman penyebab pasti kematian.
Kasi Humas Polres Bitung, AKP Abdul Natip Anggai, menegaskan kehadiran polisi merupakan bagian dari pelayanan cepat kepada masyarakat.
“Kami pastikan setiap laporan ditangani secara profesional dan humanis. Kehadiran kami juga untuk memberikan kepastian kepada keluarga,” ujarnya.
Meski demikian, kasus ini menyisakan catatan penting: minimnya pengawasan di wilayah perkebunan yang terpencil. Dalam banyak kasus serupa, keterlambatan penemuan korban kerap terjadi karena kurangnya interaksi sosial dan akses terbatas.
Abdul Natip pun mengingatkan pentingnya peran warga. “Kalau ada hal mencurigakan atau seseorang yang tidak terlihat dalam waktu lama, segera dilaporkan. Kepedulian masyarakat itu sangat penting,” katanya.
Peristiwa di Duasudara ini bukan sekadar kabar duka. Ia membuka kembali persoalan lama—tentang rapuhnya sistem deteksi dini di lingkungan yang jauh dari pusat aktivitas warga. Di tempat seperti itu, keselamatan sering kali bergantung pada satu hal sederhana: seberapa cepat orang lain menyadari bahwa seseorang telah hilang dari keseharian.


