Hilal Tipis di Ufuk Barat, Awal Syawal 1447 H Berpotensi Berbeda



LUGAS | Manado Data hisab yang dirilis Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 Hijriah masih berada di batas kritis visibilitas. Kondisi ini membuka potensi perbedaan penetapan awal Syawal 1447 H di Indonesia.

(Dok, google) 

Kepala Kanwil Kemenag Sulut, Ulyas Taha, menyampaikan bahwa ijtima atau konjungsi terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.20 UT atau 09.23.20 WITA. Secara astronomis, ini menandai fase bulan baru sebagai dasar awal perhitungan kalender Hijriah.

Namun, persoalan utama bukan pada ijtima, melainkan pada kemungkinan terlihatnya hilal saat matahari terbenam. Berdasarkan hasil hisab, tinggi hilal hakiki tercatat hanya sekitar 2 derajat 26 menit, dengan elongasi 5 derajat 5 menit. Sementara itu, umur bulan saat magrib berkisar 8 jam 29 menit.

“Secara kriteria imkan rukyat yang berlaku di Indonesia, angka ini masih berada di bawah ambang batas visibilitas,” ujar Ulyas dalam pemantauan rukyatul hilal di kawasan MTC, Manado.

Data lain menunjukkan hilal hanya berada di atas ufuk selama 8 menit 48 detik setelah matahari terbenam. Matahari terbenam pada pukul 17.52.24 WITA, sementara bulan terbenam pukul 18.01.11 WITA. Dengan selisih waktu yang sangat singkat dan ketinggian rendah, peluang hilal teramati secara kasat mata dinilai sangat kecil.

Selain itu, posisi bulan berada di belahan utara khatulistiwa, sedangkan matahari di selatan. Secara azimut, bulan berada di 273°20'44", sedikit ke utara dari posisi matahari di 269°32'59". Secara teknis, ini menunjukkan hilal berada di sisi kanan matahari, namun masih sangat dekat dan redup.

Pemantauan rukyatul hilal turut dihadiri sejumlah tokoh agama dan ormas, di antaranya Abd. Wahab, Sya'ban Mauludin, Abid Takalamingan, serta Ketua DPW LDII Sulut Djafar Wonggo.

Secara keseluruhan, hasil hisab mengindikasikan bahwa hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan pemerintah (tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat). Dengan demikian, jika rukyat tidak berhasil melihat hilal, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.

Situasi ini menegaskan kembali bahwa penetapan 1 Syawal tidak semata berbasis hitungan matematis, melainkan juga verifikasi empirik di lapangan—sebuah titik krusial yang kerap memicu perbedaan awal hari raya di Indonesia.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1