Menjaga Malam Takbiran: 2.000 Massa, 23 Pos, dan Ujian Stigma Keamanan Kota Bitung

 


LUGAS | BITUNG —  Menjelang pecahnya gema takbir menyambut Idulfitri 1447 Hijriah, aparat gabungan di Kota Bitung menghadapi ujian yang lebih dari sekadar pengamanan rutin: membalik persepsi lama soal keamanan kota. Apel gelar pasukan yang digelar menjelang malam takbiran menjadi panggung awal komitmen itu—dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bitung serta jajaran pejabat utama Polres Bitung.

Doa pembuka dipimpin Kasi Humas Polres Bitung AKP Natip Anggai, yang memohon perlindungan dan kelancaran tugas. “Ya Allah, jauhkan kami dari marabahaya, berikan kemudahan, dan jadikan pelaksanaan ini berjalan dengan baik,” ujarnya.

Selepas itu, Kabag Ops Polres Bitung AKP Novrianto Sadia—mewakili Kapolres Bitung Albert Zai—menegaskan bahwa pengamanan malam takbiran bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menyebut tiga tujuan utama dalam Operasi Ketupat Samrat 2026: menciptakan situasi aman dan kondusif, menekan angka kecelakaan lalu lintas, serta menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Pengamanan ini adalah kehormatan sekaligus kewibawaan bagi kita semua. Aman atau tidaknya malam takbiran di Kota Bitung, itu ada di pundak rekan-rekan sekalian,” kata Novrianto.

Ia menekankan pentingnya soliditas lintas institusi—TNI, Polri, Satpol PP, Senkom Mitra Polri, hingga unsur masyarakat—dalam satu komando. Menurutnya, konsentrasi massa dalam jumlah besar selalu menyimpan potensi kerawanan jika tidak dikelola secara terpadu.

Sekitar 2.000 peserta diperkirakan akan mengikuti pawai takbiran yang dimulai pukul 19.00 WITA dari depan rumah jabatan wali kota dan dilepas pukul 19.30. Rute melintasi Patung Cakalang, Girian, Pasar Girian, hingga kembali ke titik awal. Untuk mengantisipasi potensi gangguan, aparat menyiapkan 23 pos pengamanan serta lima titik penebalan pasukan.

Di sisi pemerintah daerah, Wali Kota Bitung Hengky Honandar diwakili Asisten I Setda Forsman Dandel. Ia menegaskan bahwa malam takbiran menjadi momentum penting untuk menunjukkan wajah Kota Bitung yang aman dan damai.

“Ini tanggung jawab bersama. Kita ingin memastikan masyarakat dapat merayakan malam takbiran dengan aman, nyaman, dan tertib,” ujar Forsman.

Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran yang masih tersisa. Dalam beberapa tahun terakhir, isu keamanan di Bitung kerap mencuat, terutama saat kegiatan dengan mobilisasi massa besar. Kehadiran Forkopimda bersama jajaran PJU Polres Bitung Ketua Senkom Kota Bitung diwakili Bones Alfari dalam apel tersebut mempertegas bahwa pengamanan malam takbiran tahun ini menjadi perhatian lintas sektor, bukan hanya tanggung jawab aparat kepolisian semata.

Di atas kertas, skema pengamanan tampak terukur. Namun efektivitasnya akan ditentukan oleh koordinasi di lapangan—bagaimana aparat merespons dinamika massa, mengurai potensi konflik, dan memastikan ruang publik tetap terkendali.

Ketika takbir mulai berkumandang dan ribuan warga memadati jalanan, seluruh perangkat pengamanan akan diuji. Bukan hanya soal kelancaran arus atau nihilnya insiden, tetapi juga soal membangun kembali kepercayaan publik.

Malam takbiran, bagi Bitung, bukan sekadar perayaan. Ia adalah cermin—apakah kota ini benar-benar aman, atau sekadar berupaya terlihat aman.

0/Post a Comment/Comments

LUGAS 28th
Ads1
Ads1