LUGAS | JAKARTA — Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif terus diperkuat. Polda Metro Jaya meluncurkan program Forum Kemitraan Polri dan Masyarakat Sekolah (FKPMS) di 11 sekolah di Jakarta pada Rabu (11/3/2026). Program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pencegahan perundungan, deteksi dini potensi gangguan, serta penyelesaian berbagai persoalan di lingkungan pendidikan.
Kapolda Metro Jaya Asep Edi Suheri menegaskan bahwa sekolah dan madrasah merupakan ruang tumbuhnya generasi penerus bangsa yang harus dijaga agar tetap aman, tertib, nyaman, dan kondusif. Menurut dia, peluncuran forum tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai tantangan yang masih terjadi di lingkungan pendidikan.
“Peluncuran FKPMS ini dilatarbelakangi oleh berbagai tantangan di lingkungan pendidikan, mulai dari perundungan, kekerasan, pelecehan, tawuran, pengaruh negatif media sosial, hingga perilaku menyimpang akibat tekanan sosial,” ujar Asep.
Ia mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, Polda Metro Jaya menangani sekitar 2.706 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah Jakarta. Angka tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak masih menjadi pekerjaan rumah besar yang memerlukan keterlibatan banyak pihak.
Menurut Asep, kehadiran FKPMS menjadi langkah penting untuk memperkuat kemitraan antara kepolisian, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Forum ini dihadirkan sebagai wadah komunikasi, koordinasi, serta pemecahan masalah secara cepat dan tepat guna menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.
“Melalui forum tersebut, komunikasi antarunsur sekolah, orang tua, masyarakat, dan kepolisian diperkuat agar setiap potensi gangguan dapat dikenali sejak awal, dipetakan dengan baik, dan ditangani secara cepat serta tepat,” katanya.
Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Metro Jaya Harri Muharram Firmansyah menambahkan, FKPMS merupakan penguatan strategi pembinaan masyarakat yang menitikberatkan pada pendekatan pencegahan dan kolaborasi lintas unsur di lingkungan sekolah.
Menurut Harri, forum ini dihadirkan sebagai ruang dialog antara kepolisian, pihak sekolah, orang tua, serta masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan persoalan yang muncul di lingkungan pendidikan secara lebih humanis.
“Program Forum Kemitraan Polri dan Masyarakat Sekolah ini kami hadirkan sebagai ruang komunikasi agar setiap potensi permasalahan di lingkungan sekolah dapat dideteksi lebih dini dan diselesaikan melalui pendekatan yang edukatif, humanis, serta kolaboratif,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan aktif para pelajar, terutama pengurus OSIS dan pihak sekolah, menjadi faktor penting dalam membangun budaya sekolah yang sehat dan aman. Melalui FKPMS, sekolah diharapkan memiliki jalur komunikasi yang jelas, ruang dialog, serta layanan konseling bagi siswa.
“Dengan begitu, berbagai persoalan seperti perundungan, tawuran, hingga penyalahgunaan narkoba dapat dicegah bersama sejak dini,” kata Harri.
Kapolda juga menekankan pentingnya peran wakil kepala sekolah bidang kesiswaan serta ketua OSIS dari SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah se-Jakarta Pusat dalam membangun budaya sekolah yang disiplin serta bebas dari kekerasan dan penyalahgunaan narkoba.
Ke depan, program ini diharapkan tidak hanya berjalan di 11 sekolah percontohan, tetapi juga diperluas dan menjadi model kolaborasi bagi sekolah-sekolah lainnya di Jakarta.
“Dengan adanya embrio FKPMS di 11 sekolah, kami berharap forum kemitraan ini dapat terus dikembangkan di wilayah Jakarta dan menjadi model kolaborasi yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah lainnya,” ujar Asep.
Melalui program ini, Polda Metro Jaya menegaskan komitmennya untuk terus mendorong langkah-langkah preventif dengan pendekatan humanis dan profesional. Forum tersebut diharapkan mampu menghadirkan peta kerawanan sekolah, jalur komunikasi yang efektif, ruang konseling bagi siswa, serta keterlibatan aktif seluruh unsur dalam menjaga keamanan lingkungan pendidikan.
