LUGAS | Kota Bekasi - Selasa, 3 Maret 2026. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai, di RW 13 Pondok Surya Mandala, Kelurahan Jakamulya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, justru berubah menjadi sumber keberkahan. Melalui Bank Sampah Mutiara, sampah anorganik yang disetor warga sepanjang tahun menjadi tabungan yang diambil menjelang Hari Raya Idulfitri.
Nasabah rutin memilah dan menyetorkan sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan kertas. Sampah tersebut ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan masing-masing. Menjelang Lebaran, tabungan sampah dicairkan untuk membantu kebutuhan hari raya, termasuk pembelian bahan pokok seperti ketupat dan kebutuhan keluarga lainnya.
Dengan omzet penjualan mencapai Rp. 20 juta per tahun, Bank Sampah Mutiara mengelola sekitar 7 ton sampah anorganik setiap tahunnya. Pengelolaan ini turut berkontribusi pada pengurangan emisi sekitar 15 ton CO₂e per tahun, melalui peningkatan daur ulang dan pengurangan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Skala RT memberikan kontribusi pengurangan emisi sekitar 15 ton CO₂e per tahun, RW 13 Kelurahan Jakamulya terdapat 14 RT maka asumsinya akan terjadi pengurangan emisi 210 ton CO₂e per tahun setara dengan 98 ton sampah an organik dalam setahun.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi program Pemerintah Kota Bekasi dalam mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya dan memperkuat partisipasi masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Sejalan dengan arahan Wali Kota Bekasi tentang pengurangan sampah berbasis rumah tangga, Bank Sampah Mutiara membuktikan bahwa kebijakan daerah dapat berjalan efektif melalui gerakan warga di tingkat RW dan RT.
Ketua RW 13 Pondok Surya Mandala Kelurahan Jakamulya Kota Bekasi, Dedi Rudyanto, menyampaikan bahwa bank sampah telah menjadi gerakan kolektif warga.
“Ini program lingkungan yang merupakan gerakan kebersamaan. Warga merasakan langsung manfaatnya, terutama saat tabungan sampah bisa membantu kebutuhan Lebaran, saya sebagai penanggungjawab Bank Sampah Mutiara mengawal terus program ini” ujarnya.
Dedy menilai bank sampah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. “Lingkungan lebih bersih, dan warga semakin sadar bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan baik,” jelasnya.
Bank Sampah Mutiara merupakan binaan Pusat Unggulan Iptek Teknologi (PUI) Teknologi Pengolahan Sampah Gentra Waste Management Universitas Negeri Jakarta yang mendorong pengelolaan sampah berbasis Socio preneurship dan ekonomi sirkular. Dukungan akademik diberikan oleh Prof. Dr. Budiaman, M.Si. Ketua Dewan Pakar PUI Teknologi Pengolahan Sampah Gentra Waste Management UNJ.
“Di tengah krisis sampah nasional yang semakin kompleks, pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci. Pengelolaan sampah yang terstruktur dan partisipatif seperti di RW 13 Jakamulya Bekasi membuktikan bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari skala besar, tetapi dari kesadaran komunitas. Model ini layak dijadikan role model pemerintah dalam memperkuat implementasi kebijakan pengurangan sampah dari sumber,” jelasnya.
Kolaborasi antara masyarakat, tokoh wilayah, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi ini menjadi contoh bagaimana sampah dapat dikelola secara produktif sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi. Bank Sampah Mutiara berkomitmen untuk terus memperluas partisipasi warga serta memperkuat inovasi pengelolaan sampah berbasis komunitas di Kota Bekasi.


.jpg)